SD IT Rabbani, Sekolah Dhuafa Berbasiskan Mahasiswa dan Masyarakat
Sekolah rusak dan kekurangan guru adalah berita biasa. Namun, sebuah sekolah untuk dhuafa yang hampir bangkrut kemudian diselamatkan oleh sekelompok mahasiswa, menurut saya ini baru luar biasa.
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) Rabbani namanya. Pada pertengahan 2010 lalu, sekolah ini hampir bubar. Pasalnya, pihak yayasan memindahkan kepala sekolah sebelumnya ke daerah lainnya terkait konflik antara keduanya. Guru-guru yang notabenenya setia pada sang kepala sekolah pun ikut pindah. Hasilnya, sekolah ini resmi tanpa guru.
“Kami datang ke sekolah ini pertengahan 2010. Saya ingat waktu itu hari Kamis. Hari Sabtunya pihak sekolah akan membagikan raport siswa sekaligus mengumumkan bahwa sekolah ini akan ditutup,” tutur Hesty Ambarwati (22), sang kepala sekolah saat ini, mengisahkan kepada Salmanitb.com.
Hesty beserta teman-temannya yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pendidikan Nasional (Gema Pena) langsung mengajukan diri untuk mengambil alih sekolah, dan disetujui. Sejak saat itu, sekolah ini berada di bawah manajemen Hesty dan kawan-kawannya.
Ketika itu, Hesty sebenarnya datang dengan beberapa kawan mahasiswanya. Namun, yang bertahan kini hanya Hesty dan kawannya, Anissa Trisdianti (22). Pasalnya, seiring meningkatnya kesibukan masing-masing “mahasiswa pejuang” ini, satu per satu memutuskan untuk berhenti mengajar di SD IT Rabbani.
Padahal, Hesty dan Anissa pun tak kalah sibuknya. Terlebih lagi ketika memasuki masa skripsi dan semester akhir. Meskipun begitu, kecintaannya terhadap murid-murid di SD IT Rabbani membuat mereka rela menunda kelulusannya.
“Kami tahu sekarang kenapa Bu Muslimah begitu ingin mempertahankan anak muridnya,” ungkap Anissa seperti dilansir dari Salmanitb.com.
Hesty sendiri adalah mahasiswi jurusan Tata Boga Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sedangkan Anissa Trisdianti merupakan mahasiswi jurusan Bahasa Inggris di perguruan tinggi yang sama. Di SD IT Rabbani, Anissa menjadi wali kelas 3 dan mengajar beberapa mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia.

Saya saat memberikan ucapan terima kasih kepada kedua inspirator pendidikan Bandung (Foto: Fery AP - Salmanitb.com)
Setelah membaca kisahnya di situs, saya pun akhirnya bertemu dengan kedua inspirator pendidikan di Bandung itu. Awal Februari 2012 lalu, Salman Media berkesempatan mengundang keduanya untuk menularkan pengalamannya di Masjid Salman ITB. Keduanya pun mengundang saya untuk berkunjung ke SD IT Rabbani. Dan berselang 3 hari dari pertemuan tersebut, saya pun berkesempatan menginjakkan kaki di SD IT Rabbani.
Sekolah ini tidak terlalu jauh dari Kota Bandung. Letaknya hanya sekitar 5 Kilometer dari Saung Angklung Udjo di Bilangan Padasuka, Bandung. Terletak di kabupaten Bandung, jaraknya hanya sekitar 2 Kilometer dari perbatasan Kota Bandung yang merupakan Ibu Kota provinsi Jawa Barat. Namun, siapa sangka bahwa pendidikan di sini cukup tertinggal dibandingkan di Kota Bandung?
Tidak sulit untuk sampai di lokasi SD IT Rabbani di Kampung Balong, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Hanya sekitar 15 menit bila ditempuh menggunakan ojeg dengan 6 tanjakan curam. Jalannya pun cukup mulus. Namun, sekitar 500 meter menjelang lokasi, saya harus melewati jalanan bertanah dengan hutan berselang kebun di kanan-kirinya.
Konon, ketika musim hujan, motor akan kesulitan untuk melewatinya. Bahkan akan mengalami selip. Tak heran bila pada musim hujan anak-anak biasanya hanya menggunakan sendal ke sekolah. Mereka khawatir sepatunya akan berlumuran tanah sehingga bisa cepat rusak.
Namun, meski letaknya di tengah hutan dan kebun, SD IT Rabbani terbilang cukup baik dari segi bangunan. Tiga ruang kelas dan sebuah ruang guru yang seluruhnya berdinding beton dan berlantai keramik. Benar-benar jauh dari imajinasi saya yang menautkannya dengan sekolah di kisah Laskar Pelangi.
Begitu tiba, saya disambut oleh murid-murid kelas 1 beserta sang Kepala Sekolah, Hesty. Di pagi hari yang lumayan terik, mereka sedang membuat kotak-kotak di tanah dengan menggunakan kapur tulis. Saya kira mereka akan bermain. Ternyata itulah cara Hesty mengajarkan kelima murid kelas satunya tersebut.

Seorang siswa SD IT Rabbani tengah menggambar kotak untuk media belajar berhitungnya. (Foto: Yudha PS)
“Kami sedang belajar berhitung,” terang Hesty. Setelah susunan kotaknya selesai, satu per satu anak murid Hesty melewati kotak-kotak yang telah diberi angka berurutan. Ketika tiba di sebuah bilangan, sang murid diminta menjumlahkan angka-angka yang telah dilewatinya tersebut dan menuliskannya di kotak lainnya yang telah disediakan.
Hesty dan kawan-kawan guru SD IT Rabbani memang memiliki pendekatan lain dalam mengajar. Menurutnya, anak-anak sedini mungkin diperkenalkan bahwa belajar adalah hal menyenangkan, bukan menakutkan. Sehingga tak heran bila cara mengajarnya pun sedikit berbeda dengan sekolah pada umumnya. “Kami mengajak mereka (siswa SD IT Rabbani) untuk belajar, bukan dipaksa belajar,” papar Hesty.
Cara yang sama tampak ketika saya bertemu bertemu Anissa yang tengah mengajar di kelas 3. “Kami baru saja bermain drama,” tutur Anissa yang diamini keenam muridnya dengan wajah sumringah. Drama adalah salah satu aktivitas yang disenangi warga kelas 3 SD IT Rabbani.
Menurut Anissa, anak usia SD umumnya menyenangi aktivitas fisik. Sehingga dalam belajar pun harus bersifat nyata agar menarik. “Kalau (belajar) di kelas saja, mereka akan diam dan malah mengantuk,” simpulnya.
Anissa mencontohkan dengan pelajaran Bahasa Inggris tentang rasa makanan. Dirinya menggunakan media makanan yang memiliki rasa berbeda satu sama lain. Sehingga mereka ikut merasakan dan bergerak. Harapannya, mereka belajar dan memahami hal-hal yang diajarkan oleh gurunya.
Hal unik lainnya dalam belajar di SD IT Rabbani adalah siswa yang belajar di lantai beralaskan karpet. Padahal, ruangan mereka juga memiliki kursi dan meja layaknya ruang kelas sekolah lainnya.
“Biasanya pada jam pertama siswa belajar di atas (kursi). Bila sudah jam istirahat, mereka senang (belajar) di bawah (lantai beralaskan karpet),” papar Anissa. Menurutnya, dengan sistem belajar seperti ini, anak-anak lebih mudah dikondisikan karena mereka merasa nyaman.
Di kelas lainnya, saya bertemu dengan guru lainnya. Berbeda dengan Hesty dan Anissa yang merupakan mahasiswa, guru lain yang saya temui berusia paruh baya. Mereka adalah warga masyarakat di sekitar SD IT Rabbani. Mereka umumnya merupakan ibu rumah tangga yang memiliki waktu senggang dan memiliki wawasan pelajaran siswa sekolah dasar.
Salah satunya adalah Susilawati (27), seorang ibu rumah tangga yang tinggal tidak jauh dari sekolah. Setiap harinya Ibu Uci, begitu dia akrab disapa anak-anak, meluangkan waktu dari pagi hingga siang hari untuk mengajar di kelas 1.
Kemandirian memang menjadi nafas sekolah ini sejak 2010 silam. Hesty menyebutnya Sekolah Berbasis Mahasiswa dan Masyarakat. Karena elemen penggeraknya benar-benar mahasiswa dan masyarakat. Mereka saling bergotong-royong mengelola SD IT Rabbani tanpa pamrih dan tanpa digaji sepeser pun.

Selain nyaman belajar di bawah, siswa pun akan lebih dekat dengan guru dan tidak segan-segan bertanya. (Foto: Yudha PS)
Untuk biaya operasional pun, Hesty dan kawan-kawan di SD IT Rabbani mengumpulkan dana dari Gerakan Kakak Asuh (GKA). Gerakan ini digagas oleh salah seorang kawan mahasiswa yang pernah menjadi relawan pengajar SD IT Rabbani dari Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan (Gema Pena). Meskipun belum menutupi seluruh biaya operasional, tetapi bantuan ini sangat membantu perjuangan Hesty dan kawan-kawan dalam menghidupi SD IT Rabbani.
Bila ada yang bertanya tentang goal sekolah ini, Hesty hanya ingin mereka merdeka dan menemukan dirinya yang ternyata luar biasa. “Saya ingin membuat mereka mencintai ilmu dan menjadi pembelajar sejati,” papar Hesty yang saya temui jawabannya di Catatan Facebook-nya.
Satu hal yang Hesty, Anissa, dan guru-guru lainnya khawatirkan bila siswanya lulus sekolah dasar. Pada umumnya, orang tua mereka tidak terlalu memperdulikan pendidikan. Sehingga besar kemungkinannya para siswa tidak akan meneruskan ke jenjang lebih tinggi.
Meskipun begitu, Hesty berharap di tahun-tahun mendatang, dirinya bisa mewujudkan SMP dan SMA yang konsepnya serupa dengan sekolah yang sedang dikelolanya saat ini. Tujuannya, agar siswanya ini bisa meneruskan pendidikannya dan menjadi investasi untuk masa depan bangsa ini.
Berbicara tentang siswa di sekolah ini, seluruhnya berjumlah 31 orang. Mereka berasal dari keluarga dhuafa di sekitar lokasi sekolah. Dalam sebuah catatannya di Facebook, Hesty bercerita tentang keunikan masing-masing siswanya ini. Seorang anak ada yang tidak mengetahui siapa orang tuanya. Ada juga seorang anak yang ditinggal pergi ayahnya dan tak kunjung kembali. Bahkan ada satu anak yang akan dijual oleh ibunya.
Meskipun begitu, ada banyak hal positif dari mereka. Hesty meneruskan dalam paragraf yang lain, “31 anak yang sangat senang bermain, berlebihan tenaga, terkadang jahil, namun sangat peduli pada teman dan adiknya. Cinta sekolahnya namun tidak betah belajar. 31 anak dengan tawanya yang riang, celetukan-celetukannya yang ringan, dengan kecerdasan alami yang menawan.”
Saya juga sempat bertemu dengan Sinta, siswa kelas 3 yang terindikasi autis. Memang sulit mengajaknya belajar. Namun, ketika saya melihat tatapan matanya, anak ini memiliki potensi besar. Selama ini, untuk menangani Sinta, Hesty dan Anissa berusaha dengan kemampuan seadanya yang mereka miliki. Namun, beberapa kawannya yang seorang psikolog, sudah bersedia membantu. Tinggal menunggu kecocokan jadwal untuk datang ke sekolah.
Meskipun tampak banyak memiliki kekurangan, tetapi Hesty dan Anissa melihat banyak potensi anak muridnya. “Secara individu bagus. Ada yang pandai dalam matematika, tapi ada juga yang pandai dalam semua hal,” tutur Anissa. “Mereka hanya perlu diajak untuk melihat dunia di luar kampungnya,” sambung Hesty dalam kesempatan yang lain.

Karena keterbatasan ruangan, akhirnya beberapa siswa harus rela berbagi dengan siswa dari kelas lainnya. (Foto: Yudha PS)
Di sekolah ini jumlah kelasnya tidak genap 6, hanya ada kelas 1 hingga kelas 5. Pasalnya, ketika tidak memiliki manajemen dan guru, membuat SD IT Rabbani terombang-ambing tidak menentu. Sehingga praktis tidak menerima murid baru ketika itu.
Masing-masing kelas diisi tidak lebih dari 7 orang siswa. Karena hanya ada 3 ruang kelas, tidak dapat dihindarkan satu ruang kelas dihuni oleh 2 kelas. Saya sendiri sempat mengunjungi ruang yang dihuni kelas 4 dan 5. Ketika saya masuk, kelas 4 sedang belajar agama dan kelas 5 sedang belajar matematika.
Sekat pemisahnya hanya sebuah rak buku yang kedua sisinya terbuka. Sehingga siswa kelas 4 dan 5 bisa saling berpandangan. Selain kelas 4 dan 5, kelas 1 dan 2 pun berada dalam satu ruangan yang sama. Hanya kelas 3 yang memiliki ruang kelas sendiri.
Dengan kondisi yang tidak biasa ini, seringkali terjadi peristiwa lucu. Salah satunya ketika seorang guru sedang mengajar di kelas 4 dan mengajukan pertanyaan. Lama tak terdengar jawabnya, seringkali siswa kelas 5 yang menjawab pertanyaannya. Begitu pun sebaliknya. Namun, kondisi ini tidak pernah menjadi beban bagi mereka. Kondisi ini adalah warna dari perjuangan untuk mengenyam pendidikan agar mampu menjadi manusia seutuhnya.
Jam pelajaran di SD IT Rabbani selesai hingga jam 11 siang setiap harinya. Meskipun begitu, anak-anak masih ingin tetap berada di sekolah. “Bu, saya mah mau nginep aja di sekolah,” seru salah seorang murid dengan semangatnya.
Seringkali sang guru harus benar-benar mengusir pulang murid-muridnya agar mereka mau benar-benar pulang. Biasanya, saat melangkah pulang, sang murid akan melambai-lambai sembari berteriak, “Sampai ketemu lagi besok yah, bu!”
Tak kalah semangatnya, guru pun tersenyum dan balas berteriak, “Hati-hati di jalan. Sampai bertemu besok!” Meskipun mereka seringkali memaksa agar murid-muridnya segera pulang ke rumah, seringkali juga mereka bergumam kepada guru lainnya, “Sedih kalau mereka pulang. Sepi rasanya sekolah ini.”
Ketika Pagi Itu Datang…
“Menikah itu seperti pagi, tidak bisa dipercepat atau pun diperlambat.” Begitulah sebuah kata-kata bijak yang meluncur dari ibu seorang teman dulu. Dan kini, bagi saya, pagi itu telah tiba. Pada 1 Januari 2012 lalu, saya resmi beristrikan Fathonah Fitrianti yang akrab dengan panggilan Ine. Hal yang menakjubkan bagi saya, pagi itu datang tiba-tiba tanpa ada yang menduga, termasuk saya dan istri.
Saya dan istri sendiri sudah saling mengenal kira-kira sejak setahun sebelumnya. Meskipun sering melihatnya beredar di Salman ITB, tetapi saya mengenalnya justru di Facebook. Baru beberapa bulan setelahnya, kami bertegur sapa di ranah nyata. Itu pun tak lebih dari 30 detik. Hanya bertegur sapa sambil berkata, “Hai!” atau bertanya, “Apa kabar?”
Mengenai hati, namanya manusia yang berlainan jenis kelamin, tentunya memiliki perasaan suka. Namun, bagi saya ketika itu, hanya sebatas suka dan tidak berani lebih. Karena saya menilai bahwa istri saya tidak akan bisa saya raih untuk ke jenjang yang lebih serius. Jujur, saya tidak terlalu percaya diri.
Bagaimana pun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan pula lah yang akan menentukan.
Pada awal Desember 2011, istri menghubungi saya untuk sebuah pekerjaan mengedit buku. Kakaknya yang seorang dokter adalah seorang penulis buku tentang Parenting. Ketika itu, sang kakak ipar membutuhkan editor untuk buku terbarunya yang akan segera terbit Januari 2012 ini.
Dulu saya pernah menjadi editor untuk buku teman saya. Karena berbagai kemalasan saya, akhirnya buku tersebut baru selesai setelah setahun. Hal inilah yang sebenarnya membuat saya menimbang-nimbang untuk menerima tawaran dari istri saya. Khawatirnya, kemalasan saya akan berulang yang menjadikan buku itu tidak pernah saya kerjakan.
Meskipun sempat bimbang, akhirnya saya terima juga tawaran sebagai editor buku berjudul “Time Out” yang ditulis kakak ipar saya. Alasannya, saya ingin mencoba untuk melawan kemalasan saya sekaligus menambah jam terbang dalam hal penyuntingan buku. Kami pun sepakat untuk bertemu pada 7 Desember 2011 di rumah kakak ipar saya di bilangan Cikadut. Agendanya pun jelas profesional: membahas pekerjaan penyuntingan buku “Time Out”.
Pada hari itu juga, saya pertama kalinya mengobrol dengan istri lebih dari 30 detik. Kami mengobrol cukup lama sembari menunggu kakak ipar saya yang sedang rehat sebentar usai pulang bekerja. Obrolannya pun seputar keseharian kami. Dan saya pun menilai tidak ada yang istimewa dari pertemua itu selain akhirnya bisa mengobrol lama dengan istri saya. Juga berkenalan dengan kakak sulungnya.
Usai berbincang-bincang bertiga dengan istri dan kakak ipar saya, kemudian shalat maghrib dan makan malam, saya pun pamit pulang. Dan tanpa saya ketahui, ternyata kakak ipar saya ini juga berprofesi sebagai comblang. Tanpa saya ketahui juga, dia memperhatikan saya sepanjang pertemuan pembahasan kerjaan penyuntingan buku terbarunya tersebut.
Singkat cerita, kakak ipar saya ini menghubungi kembali pada malam 10 Desember 2011, 4 hari setelah kami pertama kali bertemu. Isi obrolannya pun seputar aktivitas saya. Obrolan ini bersambung hingga keesokan harinya sekitar jam 5-an. Isinya pun semakin mengerucut, yaitu tentang status saya yang belum menikah.
Akhirnya, tanpa saya duga, kakak ipar menembak saya. “Kalau nih misalnya calonnya Neng Ine, Yudha kira-kira cocok nggak?” tanyanya melalui messenger. “Feeling saya, sih. Kayaknya Ine cocok sama profilnya Yudha,” lanjutnya.
Mendapatkan terkaman seperti itu, saya paniknya bukan main. Dan dengan asyiknya kakak ipar saya hanya menanggapi dengan berkomentar, “Santai saja, lah. Cuma nikah.” Bingung harus jawab apa, saya pun mengajukan usulan untuk kakak ipar dan istri saya melihat biodata saya terlebih dahulu. Alasannya, agar mereka bisa melihat saya lebih menyeluruh. Dan kakak ipar pun setuju.
***
Malamnya, kami bertiga plus adik saya berkumpul di rumah kakak ipar saya di bilangan Cikadut. Niat awalnya pun hanya mengajari istri saya perangkat lunak grafis sekaligus mengantarkan adik saya untuk periksa di kakak ipar saya. Namun, yang terjadi lebih dari itu.
Yah, kakak ipar saya melanjutkan perbincangan mengenai tawaran menikah yang dia sampaikan paginya. Muka saya langsung merah padam dan suhu ruangan saya rasakan mendadak naik. Istri saya pun mengalami hal serupa.
Arah perbincangan pun mulai mengerucut pada tanggal pernikahan. Saya sendiri mengusulkan Maret 2012. Alasannya, saya benar tidak punya apa-apa ketika itu. Uang tabungan yang pada 4 bulan sebelumnya cukup untuk membayar kuliah semester depan, menjelang akhir taun hampir mendekati nol Rupiah. Jangankan berencana, bermimpi untuk menikah dalam waktu dekat pun tidak.
Namun, kakak ipar saya menawarkan tanggal yang lebih ekstrim, yaitu 1 Januari 2012. Hanya berselang 3 minggu dari hari tersebut. Ada beberapa alasan kuat yang dia paparkan mengenai tanggal ini. Setelah mempertimbangkannya, saya pun menyetujuinya. Sedangkan untuk biaya pernikahan, kami Bismillah saja.
Hari-hari berikutnya, proses demi proses pun saya dan istri lalui. Mulai dari beraudiensi ke kakak kedua istri, bertemu mertua, kunjungan keluarga istri ke keluarga orang tua saya, hingga lamaran tiba pada 22 Desember 2011. Alhamdulillah semua prosesnya lancar.
***
Agenda selanjutnya adalah pernikahan. Mengenai biaya pernikahan, Alhamdulillah sudah tersedia menginjak acara lamaran. Datangnya pun tak terduga. Hal yang membuat lega, semua dana tersedia tanpa harus meminjam sedikit pun.
Mengenai konsep pernikahan sendiri, saya dan istri sepakat hanya akad saja, tanpa resepsi. Untuk undangan, kami mengandalkan Facebook dan Layanan Pesan Singkat (SMS). Hal ini juga sesuai dengan yang saya cita-citakan pada 2005 silam. Waktu itu, saya hanya ingin membuktikan bahwa pernikahan itu tidak harus mahal, tetapi bisa dengan sederhana dan berbiaya murah.
Untuk konsumsi, bagi undangan kami sediakan 200 kotak snack. Sedangkan untuk keluarga, kami suguhi makan siang. Tempatnya pun tidak jauh-jauh dari lokasi akad nikah, yaitu kantin Salman ITB.
Untuk rasa makanan, orang-orang yang kami tanyai menilai enak dan cukup puas. Menu yang kami suguhkan adalah ayam kecap, sayur capcay jamur, kerupuk udang, buah, lalap dan sambal. Satu porsinya kantin memberi harga 10 ribu Rupiah.
Jumlah keluarga yang mencapai 100 orang pun, ternyata tertampung di ruangan kantin yang hanya seluas lapangan voli tersebut. Memang, jauh hari sebelum hari-H, kami pernah menghitung jumlah kursi yang tersedia di kantin Salman ITB. Jumlahnya mencapai 120 kursi. Sehingga kami cukup tenang menjadikan kantin Salman ITB sebagai tempat makan keluarga yang hadir.
***
Ada banyak pelajaran yang saya syukuri dari jenjang kehidupan bernama pernikahan ini. Pertama dan paling penting, bahwa manusia boleh berencana, tetapi Tuhan jualah yang menentukan. Dalam hal ini, kuncinya adalah bersabar dan berserah diri pada-Nya.
Sejak 2008, saya gencar mencoba peruntungan untuk menikah. Pertama dengan seorang gadis asal Sumatera. Namun, apa daya, kandas di restu orang tua sang gadis. Selanjutnya saya menargetkan gadis-gadis Jawa yang relatif lebih dekat. Namun, lagi-lagi ganjalan restu para orang tua gadis membuatnya terasa mustahil.
Hingga akhirnya saya sudah cukup putus asa dan kehilangan kesabaran. Bahkan, saya pernah bilang dalam hati, “Ya Allah, terserah, deh. Saya mau nikah atau nggak. Saya benar-benar sudah pasrah.” Ternyata Allah punya kehendak lain. Dan pada waktunya, semua itu akan terwujud dengan cara yang sempurna.
Bukan juga berarti manusia berserah diri tanpa berbuat. Hanya saja, ketika sudah berusaha, berserah dirilah menunggu hasilnya dan bersabarlah menerima apa yang terpapar kemudian.
Pun jangan memaksakan bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Percayalah bahwa Allah memiliki pasangan yang lebih baik untuk kita.
Dalam hal ini, berkehidupanlah seperti air yang mengalir mengikut lekuk dataran. Ketika sebuah aliran air tidak bisa melalui sebuah rintangan, dia akan mencari jalan lain menuju dataran yang lebih rendah. Bagi saya, hal ini menimbulkan ketenteraman dalam diri.
Pelajaran kedua, pernikahan itu bukan masalah cepat atau lambat. Pernikahan juga bukan masalah pilihan yang tepat atau salah. Bukan juga tentang sebuah kesempurnaan atau kecacatan. Penikahan itu seperti menunggu pagi. Dia akan terwujud dalam kadar yang tepat. Tepat di sini melingkupi banyak aspek, mulai dari aspek waktu, tempat, pekerjaan, pasangan, hingga umur dan tingkat kedewasaan.
Meskipun saya meyakini filosofi ini, tapi memanas-manasi orang untuk cepat menikah, tetap akan saya lakukan. Rasanya asyik. hehe
Ketiga, percayalah, setiap keinginan pasti akan terwujud. Hal inilah yang terjadi dalam pernikahan kami. Setiap keinginan yang saya dan istri sampaikan jauh-jauh hari sebelumnya, lambat laun terwujud. Misalnya saja tentang konsep pernikahan, sifat, dan karakteristik pasangan. Semua yang kami inginkan di masa lalu, terwujud semuanya kini. Tentunya, dengan cara yang indah dan menakjubkan.
Keempat, selalu ada jalan untuk sebuah kebaikan yang telah menjadi hak kita. Jangan takut untuk menjalaninya, meskipun tampak banyak rintangan terpapar di hadapan kita. Bagaimana pun, Allah akan selalu memberi bimbingan dan pertolongan di setiap detak-nafas kita.
Kelima dan yang paling penting, jangan lama-lama menentukan waktu antara keputusan menikah dengan hari-H. Karena proses menikah menghabiskan banyak sumber tenaga, baik fisik maupun psikis. Kedua calon pengantin umumnya dalam keadaan stress (tertekan). Saya saja sampai jatuh sakit 5 hari sebelum pernikahan. Teman saya malah sedikit gendut lantaran stress-nya disalurkan dengan makan.
Menurut saya, waktu 2 – 4 minggu cukup untuk mempersiapkan pernikahan. Persiapan ini meliputi perkenalan kedua calon mempelai dengan orang tua dan keluarga, perkenalan antar keluarga, lamaran, administrasi ke KUA, persiapan pernikahan, dan hari H pernikahan.
***
Dalam kesempatan ini, saya dan istri juga ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
- Keluarga yang telah membantu proses terwujudnya pernikahan kami. Teh Zulaeha, mas Aji, teh Noor, kang Cepi, Adi, Ami, para orang tua kami, serta keluarga besar kami. Tanpa dukungan mereka, kami tidak ada apa-apanya.
- Mas Agung Wiyono dan ibu Yani yang telah banyak membantu proses pernikahan kami, mulai dari lamaran hingga hari-H pernikahan.
- Kang Budhiana yang telah banyak membantu saya pribadi hingga saat ini. Terima kasih banyak juga atas nasihat-nasihat menjelang pernikahannya, kang.
- Panitia pernikahan yang telah secara sukarela menyumbangkan waktu, pemikiran, dan tenaganya demi terwujudnya pernikahan kami. Maya, Fery, Irfan, Nono, Eko, Aul, Okky, Iis, Adul, Fenny, Ardi, Silvi, Widi, Siti, Mila, Erma, Anita, Rena, Tristia, Yuli, Anis, Mamaw, dan Kamil (nama diurutkan acak, tidak alphabetis atau pun urutan kontribusi).
- Mas Hermawan (penceramah), Pak Moh. Arief (MC), kang Awang (qari), kang Hendy (operator sound system) yang telah bersedia membantu mensukseskan acara pernikahan kami.
- Prof. Thomas Djamaluddin, Dr. Syarif Hidayat, pak Rana Akbari, kang Islaminur Pempasa, kang Sufyan, bu Rena Venus, dan pak Zaki. Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk hadir.
- Rekan-rekan Batagor.net (ci Shasya, mba Enggar, mas Koen), BdgFlickr (Fenny, Nina, Rifi, mas Amal), Salman Media, dan Aksara. Terima kasih banyak untuk kalian. Maaf tidak disebutkan secara detail. Nanti saya lihat dulu daftar undangan
- Serta rekan-rekan kami semuanya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu, baik yang berkesempatan hadir maupun berhalangan. Terima kasih banyak atas doa-doanya untuk kami.
Kami hanya mampu mengucapkan terima kasih banyak dan menghaturkan doa semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua. Amin…
Dua Inti Ajaran Dasar Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Beberapa hari yang lalu, saya menemukan kembali buku yang saya beli ketika berusia kelas 2 SD. Buku tersebut berjudul “Di Mana Allah” karya Muhammad Hasan Al-Homshi. Beberapa halaman awalnya sudah hilang, termasuk pengantar, tentang penulis, dan daftar isi. Sehingga saya tidak tahu sedikit pun tentang Muhammad Hasal Al-Homshi. Meskipun begitu, ketika saya membaca buku ini, ternyata bernuansa tasawuf.
Salah satu tokoh yang dihadirkan dalam buku ini adalah Syekh Abdul Qadir al Jailani, seorang tokoh Sufi dan ulama Tasawuf besar asal Jailan, Iran. Beliau merupakan pendiri dan penyebar salah satu tarekat terbesar di dunia, yaitu Tarekat Qodiriyah.
Muhammad Hasan Al-Homshi, sang penulis, cukup banyak memaparkan tentang inti ajaran Syekh Abdul Qadir. Ajaran beliau berangkat dari kegelisahannya melihat umat Islam yang senantiasa melakukan shalat, puasa, dan pergi haji, tapi semakin jauh dari nilai-nilai luhur Islam. Untuk itu, Syekh Abdul Qadir menyimpulkan bahwa permasalahannya berasal dari dalam diri manusia.
Syekh Abdul Qadir juga mengkritik praktik Islam warisan. Bagaimana pun, berislam tidak bisa diperoleh melalui warisan dan simbol-simbol fisik seperti bersarung lengkap dengan baju Koko dan Kopiah. “Beragama Islam artinya memasrahkan dirimu (lahir-bathin) kepada Allah, dan menyerahkan kalbumu semata-mata kepada-Nya,” begitulah sabda Rasulullah yang mengilhami Syekh Abdul Qadir.
Untuk itu, ada 2 hal yang melandasi inti ajaran Tarekah Qadiriyah ini, yaitu:
- Berserah diri (lahir-bathin) kepada Allah. Seorang muslim wajib menyerahkan segala hal kepada Allah, mematuhi perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
- Mengingat dan menghadirkan Allah dalam kalbunya. Caranya, dengan menyebut Asma Allah dalam setiap detak-nafasnya. Bagaimana pun, dzikrullah adalah suatu perbuatan yang mampu menghalau karat lupa kepada Allah, menggerakan keikhlasan jiwa, dan menghadirkan manusia duduk bertafakur sebagai hamba Allah. Hal ini merujuk pada hadist riwayat Ibnu Abid Dunya dari Abdullah bin Umar berikut:
Sebenarnya setiap sesuatu ada pembersihnya, dan bahwa pembersih hati manusia adalah berdzikir, menyebut Asma Allah, dan tiadalah sesuatu yang lebih menyelamatkan dari siksa Allah kecuali dzikrullah.
Kedua hal ini, menurut Syekh Abdul Qadir, akan membawa seorang manusia senantiasa bersama Allah. Sehingga segala aktivitasnya pun bernilai ibadah. Lebih lanjut, beliau juga menandaskan bahwa keimanan ini merupakan landasan bagi terwujudnya tatanan sosial yang lebih baik lagi. Lebih jauh, sebuah tatanan negara yang Islami dan memenuhi aspek kebaikan universal.
Mengoptimalkan Keamanan Facebook dari Sentuhan “Tangan Jahil”
Situs jejaring sosial, khususnya Facebook, telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian besar masyarakat pengguna internet Indonesia. Orang rela melakukan apa saja untuk hanya sekedar melihat aktivitas akun Facebooknya, atau bahkan memperbaharui status Facebooknya.
Meskipun begitu, situs besutan Mark Zuckerberg ini banyak menjadi incaran para “tangan jahil dunia maya” alias Cracker. Facebook sendiri sudah mengantisipasi semaksimal mungkin ancaman ini. Namun, sering kali kelemahan datang dari sisi pengguna. Umumnya mereka belum memahami sepenuhnya cara berinternet dengan aman. Wajar saja bila pada akhirnya banyak akun Facebook yang jebol dan “diakuisisi” oleh para dedemit maya.
Untuk itu, pemilik akun Facebook hendaknya membentengi diri dengan beberapa wawasan keamanan untuk Facebook. Ada 3 langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan keamanan akun Facebook dan mencegahnya agar tidak tersentuh “tangan-tangan jahil” di dunia maya. Ketiga langkah itu adalah Memperkuat Susunan Kata Sandi, Menghindari Aplikasi Berlebihan di Facebook, dan Mengaktifkan Pengaturan Keamanan Facebook.
Perkuat Susunan Kata Sandi (Password)
Seringkali orang kurang sadar terhadap kata sandi yang digunakan untuk mengakses berbagai layanan di internet, termasuk Facebook. Kata sandi ini umumnya mudah ditebak atau lemah secara struktur.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat kata sandi. Pertama, hindari deretan huruf atau angka yang berurutan. Misalnya saja: ‘123456’, ‘abcdefgh’, ‘987654321’, atau ‘qwertyu. Hindari juga sandi yang terdiri dari huruf dan angka yang sama, seperti: ‘111111’, ‘xxxxxx’, atau ‘aaaaaa’.
Kedua, hindari kata sandi yang mudah ditebak. Misalnya saja nomor telepon, nomor handphone, tanggal lahir, nama anak, nama orang tua, atau bahkan menggunakan nama pengguna (username). Hindari juga menggunakan kata yang berulang, seperti ‘yudhayudha’, ‘kurakura’, atau ‘likaliku’. Sebaiknya pergunakanlah pilihan kata yang tidak mudah ditebak dan tidak umum, tetapi mudah diingat oleh pengguna. Pergunakanlah kamus untuk membantu merumuskan kata sandi.
Hal ketiga yang harus diperhatikan adalah panjang kata sandi. Panjang kata sandi ideal dan aman adalah 12 hingga 14 karakter. Semakin panjang kata sandi, maka semakin baik tingkat keamanannya.
Keempat, pergunakan gabungan angka, huruf, dan simbol. Akan lebih baik lagi bila mempergunakan huruf kapital dan huruf kecil. Untuk angka dan simbol, agar mudah diingat, biasanya mewakili huruf-huruf tertentu. Misalnya huruf ‘A’ diwakili oleh angka ‘4’ atau simbol ‘@’. Contoh lainnya adalah huruf ‘S’ bisa diwakili oleh angka ‘5’ atau simbol ‘$’. Sebagai contoh, bila memilih kata ‘kontemplasi’ untuk menjadi kata sandi yang aman, salah satu bentuk penulisannya adalah ‘k0nt3MPl@$!’.
Jangan beritahukan kata sandi kepada siapa pun juga. Bila kata sandi hendak ditulis, simpanlah di tempat yang aman dan tidak mudah diakses oleh orang lain, seperti dompet, lemari besi, atau laci meja yang terkunci.
Hindari Aplikasi Berlebihan di Facebook
Hindari aplikasi-aplikasi yang berlebihan dan tidak dapat dipercaya di Facebook. Termasuk dalam aplikasi ini adalah permainan (game), kuis, musik, kutipan-kutipan, dan lain sebagainya. Daftar aplikasi ini dapat dilihat di menu Aplikasi (Apps), di sidebar sebelah kiri bawah.
Berkaitan dengan aplikasi ini, Facebook memang memungkinkan orang-orang di luar krunya untuk mengembangkan berbagai aplikasi. Ketika seseorang mengikuti suatu aplikasi tertentu, semua data dan informasi personal pengguna Facebook dapat diakses oleh pembuat aplikasi.
Dari berbagai jenis aplikasi di Facebook, tidak semuanya dapat dipercaya. Banyak aplikasi-aplikasi yang dibuat hanya untuk mendapatkan akses terhadap akun-akun Facebook. Umumnya, akun-akun ini dibajak dan disalahgunakan untuk mendapatkan berbagai keuntungan.
Sayangnya, pihak Facebook pun tidak memiliki sistem rating untuk aplikasi-aplikasi ini. Sehingga pengguna tidak mampu mengidentifikasi secara singkat aplikasi mana saja yang bisa dipercaya.
Aktifkan Pengaturan Keamanan Facebook
Seiring berjalannya waktu, tingkat keamanan Facebook lambat laun mulai ditingkatkan. Salah satunya dengan adanya pilihan Pengaturan Keamanan.
Pengaturan ini dapat diakses melalui menu Akun (Account) di pojok kanan atas, kemudian pilih Pengaturan Akun (Account Settings). Untuk mengatur keamanan, pilih menu Keamanan (Security) di sisi kiri halaman Pengaturan Akun.
Pengaturan keamanan ini terdiri dari menu Jelajah Aman (Secure Browsing), Pemberitahuan Masuk (Login Notifications), Persetujuan Masuk Facebook (Login Approvals), dan Perangkat yang Dikenali (Recognised Devices).
Jelajah Aman merupakan menu pilihan untuk mengaktifkan HTTPS (Hypertext Transfer Protocol Secure). HTTPS sendiri merupakan kombinasi antara HTTP dan protokol SSL/TLS untuk melayani enkripsi komunikasi dan keamanan jaringan web server. Biasanya digunakan untuk transaksi pembayaran online dan untuk transaksi sensitif lainnya dalam sistem informasi perusahaan.
Penggunaan HTTPS ketika berselancar di Facebook membuat lalu lintas data antara komputer dan server Facebook menjadi lebih aman. Sehingga kecil kemungkinannya data dicegat di tengah jalan oleh penyusup.
Pemberitahuan Masuk berfungsi memberitahukan pengguna bila akun Facebooknya diakses dari komputer atau perangkat yang belum terdaftar sebelumnya. Ada 2 metode pemberitahuan yang bisa dipilih pengguna, yaitu melalui email dan melalui Layanan Pesan Singkat (SMS – Short Message Service).
Persetujuan Masuk Facebok adalah fitur yang akan mengirimkan kode keamanan tertentu ke ponsel pengguna bila ada perangkat atau komputer yang tidak dikenal mencoba mengakses Facebooknya. Kode ini harus dimasukan bila pengguna ingin berselancar di Facebook di komputer atau perangkat yang belum dikenali tersebut.
Perangkat yang Dikenali merupakan daftar komputer dan perangkat lainnya (seperti: smartphone, PDA, dan Tablet) yang telah terdaftar untuk mengakses Facebook pengguna.
Biasanya, ketika pengguna menggunakan komputer yang belum terdaftar di menu Perangkat yang Dikenali, akan ada halaman notifikasi setelah memasukan nama pengguna dan kata sandi. Pengguna akan diminta untuk memasukan nama komputer baru yang digunakan.
Fitur ini berfungsi mendata komputer yang digunakan oleh pengguna. Pengguna bisa mengawasi komputer yang digunakan olehnya untuk mengakses Facebook. Sehingga mampu mengindetifikasi apabila ada orang lain yang mencoba mengakses akun Facebooknya.***
Perlunya Wawasan Kejurnalistikan untuk Blogger

Mas Anggara Ketika Memaparkan materi "Ancaman Kriminal pada Blogger" di ASEAN Blogger Conference lalu. (Foto: flickr.com/photos/antonemus)
Saat ASEAN Blogger Conference lalu, salah satu materi yang dibahas adalah permasalahan hukum yang kerap membayangi Blogger untuk berkarya. Hal ini disampaikan oleh mas Anggara, seorang Blogger yang merupakan lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.
Beberapa nama yang disebut oleh mas Anggara adalah mas Iwan Pilliang dan Prita Mulyasari. Keduanya memang sempat terganjal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 27 tentang pencemaran nama baik.
Saya sendiri dalam sesi tanya-jawab memberikan usulan agar Blogger memiliki wawasan kejurnalistikan. Tujuannya lebih untuk pencegahan terhadap kemungkinan terjerat “Pasal Karet” yang masih berlaku di Indonesia. Namun, jawabannya di luar dugaan. Sang pembawa materi justru menganggap wawasan kejurnalistikan, dalam hal ini beliau memandangnya sebagai etika jurnalistik, malah akan mengukung kebebasan Blogger dalam berekspresi.
Lebih lanjut, beliau mencontohkan bila seorang Blogger akan menulis tentang daerah timur Indonesia, tentunya sang Blogger harus memverifikasi jauh hingga ke daerah timur. Hal ini, ungkapnya, justru akan memberatkan si Blogger sendiri.
Ketika mendapatkan tanggapan seperti ini, saya bingung juga. Pandangan beliau terhadap wawasan jurnalistik dimaknai sangat sempit. Untuk berdebat pun, rasanya bukan waktu yang tepat lantaran antara saya dan beliau memiliki perbedaan pandangan yang terlalu jauh. Dan saya biarkan hal ini berlalu.
Singkat cerita, saya pulang pada Kamis, 17 Nopember 2011. Bersama rombongan Blogger dari Jakarta dan Jawa Barat, saya menaiki sebuah pesawat komersial lokal menuju bandara Soekarno-Hatta.
Di tengah perjalanan, seorang Blogger di belakang saya mengeluarkan kamera dan memotret kegiatan pramugari di pesawat. Dua kali jepretan menggunakan lampu flash. Kontan, hal ini membuat pramugrari menegurnya, memberi peringatan, dan meminta untuk menghapus hasil jepretannya tersebut. Di tegur pun bukannya menyadari kesalahannya, sang Blogger pun malah menggerutu, seperti apa yang dilakukannya adalah benar.
Abaikan pramugarinya dan fokus terhadap Bloggernya. Saya melihat kejadian ini sebagai dampak dari kurangnya wawasan kejurnalistikan sang Blogger, dalam hal ini etika jurnalistik. Andai saja sang Blogger memiliki wawasan kejurnalistikan, dia akan memenuhi hal-hal yang harus dipatuhi sebelum berkarya dengan kameranya.
Bila etika dipandang Blogger sebagai kungkungan terhadap aktivitas berkarya, saya ingin menganalogikannya dengan pembunuh.
Seringkali, beberapa pembunuhan didasari alasan bahwa sang pelaku benar-benar puas melakukan kegiatan tersebut. Sang pelaku melihat bahwa membunuh adalah sebuah ajang dia berkreasi. Bila tidak ada etika atau hukum, tentunya kegiatan ini akan mengancam orang-orang di sekitarnya.
Hal yang sama juga berlaku dengan Blogger. Apakah semua kebebasan berekspresi dan berkarya harus dimaknai dengan melanggar privasi atau kenyamanan orang lain dalam beraktivitas? Bahkan sebenarnya etika kejurnalistikan yang dipadu dengan nilai empati, bisa menghasilkan karya yang baik. Kebebasan dalam berkarya pun bukan hal yang dihambat bila dibenturkan dengan nilai-nilai etika.
Ada satu contoh menarik datang dari Sang Pakar ketika meliput ke Irak pada saat perang Irak berkecamuk tahun 2003 lalu. Saat itu, Sang Pakar mendampingi seorang fotografer senior dari BBC yang saya lupa namanya. Mereka dan banyak jurnalis lainnya sedang meliput acara pemakaman seorang wartawan lokal yang tewas dalam perang Irak.
Ketika rombongan penghantar jenazah mengusung jasad sang wartawan yang tewas ke pemakaman, fotografer lainnya sibuk memotret. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh sang fotografer senior. Dia terus mengamati, mengamati, dan terus mengamati.
Di pemakaman pun sang fotografer masih tetap tenang sambil mengamati suasana. Sedangkan fotografer lainnya, semakin sibuk saja mengabadikan momen ketika jenazah diturunkan ke liang lahat dan perlahan-lahan ditimbun oleh tanah.
Usai acara pemakaman, barulah sang fotografer mendekati istri almarhum yang tengah menangis di nisan sang wartawan yang terbunuh tersebut. Sang fotografer mengucapkan bela sungkawa dan berusaha menunjukan empatinya. Dia juga meminta izin mengambil beberapa foto untuk dimuat di medianya. Hasilnya, menurut Sang Pakar, sangat luar biasa. Fotonya penuh dengan makna.
Meskipun tidak lengkap, mudah-mudahan cerita tersebut bisa menunjukan bahwa wawasan kejurnalistikan bukan membuat Blogger tidak mampu berekspresi secara bebas dan maksimal. Justru sebaliknya, wawasan kejurnalistikan membantu seorang Blogger untuk menghasilkan karya yang lebih nyata, lebih hidup, dan berdampak secara sosial. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri.
Sepeda Lipat, Oh Sepeda Lipat…

Sepeda lipat pinjaman teman yang saya potret di sebuah bumi perkemahan di bilangan Lembang, Bandung. (Foto: Yudha PS)
Kemarin saya benar-benar sedang merasa bahagia. Pasalnya saya telah melewati perjalanan Lembang menuju Salman ITB menggunakan sepeda dengan cara yang sedikit “aneh”. Bila tidak setuju dengan kata tersebut, saya mengusulkan padanan kata “tidak biasa”. Bila tidak setuju juga, silahkan cari kata sendiri-sendiri saja.
Nah, ceritanya sendiri berawal ketika saya dan kawan-kawan kampus mendapatkan tugas kuliah membuat video. Tempat pengambilan gambar harus di sebuah bumi perkemahan di daerah Lembang. Kami menyepakati bahwa cerita yang diambil memiliki properti sepeda di dalamnya. Sehingga, mau tidak mau, haruslah membawa sepeda.
Akhirnya, sayalah yang bertugas membawa sepeda lipat milik seorang anggota tim. Saya membawanya menggunakan motor bersama rekan satu tim lainnya. Tentu saja, karena sepeda lipat dengan ukurannya yang cukup mungil, tidak terlalu menyulitkan saya dan teman membopongnya dari bilangan Cihampelas ke bilangan Lembang yang jaraknya mencapai 20 Kilometer.
Singkat cerita, shooting selesai jam 13 WIB dan kami bersiap-siap pulang ke Bandung. Namun, tidak disangka, kami tersangkut masalah dengan pengelola bumi perkemahan. Sehingga kami pun tertahan hingga 1 jam lamanya.
Meskipun begitu, tampaknya hanya saya saja yang memungkinkan untuk pergi setelah 1 jam itu berlalu. Alasannya, karena saya memang harus cepat-cepat berada di Salman ITB lantaran ada kunjungan dari teman-teman anggota komunitas Anak Tangga jurusan Jurnalistik Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.
Teman-teman yang lain memilih untuk bertahan di lokasi bumi perkemahan. Karena tidak ada tebengan motor, akhirnya saya meminjam sepeda lipat milik teman saya. Alasannya supaya saya bisa sampai di Salman ITB lebih cepat dibandingkan naik angkutan umum. Hal ini mengingat Bandung yang kerap dilanda kemacetan ketika akhir pekan.
Begitu dapat lampu hijau, saya langsung mengayuh sepeda menuju jalan Tangkuban Parahu. Beruntung jalannya menurun. Sehingga saya tidak perlu repot-repot mengayuh sepeda agar bisa melaju kencang.
Meskipun begitu, ternyata saya tidak bisa melaju lebih dari 20 Kilometer per jam. Alasannya, sepeda terlalu kecil dan rapuh untuk bisa melewati batas kecepatan tersebut. Karena sepeda lipat, saya khawatir bila dipacu lebih kencang, malah membuat sepeda ini rontok. Belum lagi dengan kondisi jalan yang tidak rata. Membuat saya harus ekstra hati-hati. Karena bila terlalu cepat, bisa membahayakan diri saya pribadi.
Karena saya harus tiba di Salman secepatnya dan saya juga melihat 2 tanjakan berat yang akan saya hadapi di depan, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan sepeda dan melipatnya kemudian menaikkannya ke dalam angkot.
Bravo, ada mikro-bus menuju Bandung yang melintas sesaat setelah saya melipat sepeda. Saya langsung menghentikan mikro-bus tersebut dan menaikinya.
Sepeda lipat tidak benar-benar simpel ternyata. Saya tidak bisa memasukan seluruh badan sepeda ke dalam mikro-bus karena masih terlalu besar. Akhirnya, saya sangkutkan di pintu mikro-bus. Sedangkan saya, bergelantungan di pintu sepanjang Lembang hingga Ledeng.
Jalur menanjak dan jalan menurun yang tidak rata akhirnya bisa saya lewati dengan gemilang. Saya pun bisa lebih cepat hingga 5 kali lipatnya bila dibandingkan dengan menggunakan sepeda.
Satu Kilometer menjelang Ledeng, antrian kendaraan mulai terlihat. Mobil pun harus berjalan dengan kecepatan kurang dari 5 Kilometer per jam. Segera saya turun dari mikro-bus, menggelar sepeda lipat, dan menaikinya melewati sela-sela kemacetan kota Bandung.
Ini juga yang membuat saya senang. Ketika orang lain merasa jenuh menunggu di dalam kendaraannya karena kemacetan yang sangat menjemukan, saya bisa lebih cepat dari mereka hingga 5 kali lebih cepat. Bolehlah disebut bersenang-senang di tengah kemacetan orang lain. Belum lagi karena jalanan Ledeng hingga Salman ITB yang menurun, membuat saya tidak perlu capek-capek mengayuh sepeda.
Ternyata, kemacetan tidak hanya terjadi di Ledeng saja. Kemacetan juga terjadi di jalan Setiabudhi, Bandung. Penyebabnya, tentu saja Factory Outlet yang berjajar di jalan Setiabudhi. Kemacetan yang sama juga saya temui di jalan Cihampelas Bandung dengan sumber kemacetan adalah sebuah mall yang terletak di jalan tersebut.
Untuk kemacetan di jalan Setiabudhi, saya melewatinya dengan menaiki trotoar dan mengambil sedikit badan jalan antara mobil dan trotoar. Sedangkan ketika menghadapi kemacetan Cihampelas, saya memilih untuk melewati gang yang sejajar dengan jalan Cihampelas.
Sampai di sini runutan perjalanan masih nyaman dan asyik. Namun semua berubah ketika saya memutuskan untuk berbelok ke jalan yang menurun tajam di sebelah tempat bekas pemandian Cihampelas guna mempercepat perjalanan.
Jalan menurun yang cukup tajam ini hanya berupa tangga yang tersusun dengan bebatuan besar dan dirangkai oleh beton. Hasilnya, saya harus mengangkat sepeda setinggi kepala dan pelan-pelan menuruni satu per satu anak tangga sepanjang hampir 50 meter jauhnya. Hingga saya tiba di jembatan yang menghubungkan antara daratan yang terpisah oleh sungai Cikapundung.
Dari sini, ke Masjid Salman ITB sebenarnya hanya berjarak kurang dari 1 Kilometer. Namun, karena jalanan menanjak, membuat saya harus mengeluarkan tenaga ekstra guna mendorong dan menaiki sepeda.
Belum lagi di depan Kebun Binatang Bandung. Saya harus menghadapi tangga menaik yang cukup tinggi. Sehingga lagi-lagi harus mengangkat sepeda untuk melewati tangga yang menanjak. Kali ini tidak terlalu tinggi mengangkat sepeda, karena energi saya benar-benar hampir habis.
Kurang dari 10 menit, saya tiba di Salman ITB dengan tubuh penuh keringat. Kacaunya, saya langsung menemui tamu saya dari UIN SGD. Dengan keadaan seperti itu, saya langsung memberikan presentasi mengenai kajian-kajian di bidang jurnalisme warga.
Namun, lupakanlah tentang perjalanan dari Cihampelas ke Kebun Binatang yang penuh peluh itu. Karena saya hanya ingin mengingat perjalanan dari Lembang hingga tiba di Cihampelas.
Hal yang membuat senang dalam perjalanan tersebut, saya bisa mengaplikasikan ide saya kalau punya sepeda lipat: naik sepeda bila jalanan menurun, dan lipat sepeda kemudian naikan ke angkot bila jalanan menanjak. Yah, pesepeda abangan sekali kesannya. Namun, dengan kontur Bandung yang naik-turun seperti ini, bisa menghemat biaya transportasi hingga 50 persen.
Hal lainnya, saya benar-benar menikmati ketika bersenang-senang di atas penderitaan orang lain yang harus rela menunggu kemacetan di dalam mobilnya. Rasanya, pesepeda benar-benar meraja ketika itu. Jarak bisa ditempuh dengan lebih cepat dan tanpa polusi.
Namun, semua itu akan berakhir hari ini. Karena sebentar lagi saya harus mengembalikan sepeda lipat tersebut ke teman saya. Jadi, kalau ada yang berminat memberikan kado ulang tahun ke saya, berilah saja sepeda lipat yang praktis dan mudah dibawa ke mana-mana. Kalau bisa, sepeda lipatnya bisa disakuin di kantong baju. *ngarep*
11-11-11
Tak terasa sudah bulan Nopember. Ada yang ditunggu oleh milyaran orang di seluruh dunia pada Nopember ini, yaitu hari ini: 11 Nopember 2011, atau bisa ditulis dengan 11-11-11. Kenapa ditunggu? Karena hari ini dianggap unik, dengan rangkaian angka 1 berjumlah enam berjajar serta berurutan.
Rina Amalia Budiati, teman saya yang seorang blogger dari Tasikmalaya, menyebutnya sebagai hari pagar sedunia. Karena memang terlihat mirip pagar. Meskipun saya tahu persis rumahnya tidak memiliki pagar.
Karena uniknya, banyak orang-orang yang membuat hari besar dalam hidupnya pada hari ini. Mulai dari yang menikah seperti teman saya Yoke, membuat syukuran, bahkan pembukaan Sea Games pun digelar hari ini. Ada juga orang-orang tua yang nekad untuk melahirkan anak-anak yang tengah dikandungnya hari ini. Caranya melalui bedah sesar.
Saya pun merayakan hari ini sebagai hari istimewa saya. Yah, hari ini tepat ulang tahun saya yang ke-26 tahun, seperempat abad bonus 1 tahun. Masih tetap membawa-bawa angka 1.
Perkara angka tanggal dan bulan yang sama, saya mempercayai hal ini diturunkan secara genetis. Ibu saya berulang tahun tanggal 9 September. Pada tahun 1999, ketika orang lain merayakan hari 9-9-99, ibu saya merayakan ulang tahunnya yang ke-35 tahun. Dan kini anaknya merasakan hal yang sama.
Kembali ke ulang tahun, saya pikir 26 tahun bukan usia yang cukup muda untuk masih bisa berleha-leha dan berleyeh-leyeh. Bukan juga usia yang bisa diabaikan begitu saja seperti usia-usia saya sebelumnya.
Jujur, sebenarnya saya paling tidak suka menjadi semakin tua, meskipun hari ini jatuh pada 11-11-11 yang dinilai cukup apik secara susunan angka. Apalagi dengan kondisi saya yang masih belum apa-apa. Belum banyak menorehkan prestasi kehidupan. Belum banyak berbuat untuk orang banyak. Dan juga belum mampu menyibak banyak rahasia kehidupan.
Namun, hidup terus berlanjut tanpa peduli apa yang saya keluhkan. Saya hanya bisa berucap “Semua Selalu Ada Waktunya” sebagai alasan untuk keterbatasan diri ini berbuat lebih banyak. Meskipun saya terkadang skeptis bahkan apatis dengan ucapan itu, tapi yah sudah lah. Hidup dinikmati saja. Semakin dipikirin, malah semakin mumet dan ngak karuan.
Toh, pada akhirnya, hidup juga akan berakhir. Tanpa memandang tua atau muda, kalau sudah waktunya “pulang”, yah “pulang”. Semoga di sisa umur ini, saya selalu bisa menorehkan yang terbaik untuk banyak orang di sekitar saya.
Mari Apresiasi Supir Angkot yang Tidak Mengetem
Salah satu hal yang paling membuat saya bete ketika menggunakan sarana transportasi Angkutan Kota (Angkot) adalah kebiasaan mengetemnya. Soalnya, saya harus menunggu bukan hanya 1 – 2 menit saja, tetapi bisa sampai 15 menit, bahkan lebih.
Selain membuat waktu saya terbuang, seringkali angkot yang sedang mengetem ini menyebabkan berbagai kemacetan di beberapa ruas jalan kota Bandung. Beberapa di antaranya yang kerap saya temui adalah perempatan Merdeka – RE Martadinata dan depan RS Boromeus.
Di satu sisi, saya benar-benar kesal menaiki angkot yang kerap mengetem karena menghabiskan waktu di perjalanan saya. Namun, di sisi lain, saya juga merasa kasihan kepada mereka. Pasalnya, dengan semakin mudah masyarakat mencicil sepeda motor, pengguna jasa transportasi Angkot semakin lama semakin sedikit. Hal ini berimbas pada semakin kecilnya pendapatan supir Angkot.
Seiring dengan hal tersebut, tuntutan penghasilan para supir Angkot kian hari pun kian besar. Tidak saja untuk operasional kendaraan dan setoran kepada majikannya, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan dapur dan keluarganya yang semakin hari semakin besar pula.
Tak heran bila segala cara pun dikerahkan oleh supir Angkot untuk memperbanyak pendapatannya, seperti: mengetem agar angkotnya penuh, mengebut dan ugal-ugalan berlomba dengan supir angkot lainnya guna memperebutkan penumpang, hingga menekan biaya suku cadang Angkot dan kadang membuatnya menjadi tidak nyaman untuk ditumpangi.
Menunggu peran pemerintah pun tampaknya hanya mimpi belaka. Mereka hanya peduli dengan masyarakat menjelang pemilihan umum. Setelah terpilih, mereka langsung lupa dengan rakyat dan sibuk dengan urusan politiknya saja. Belum lagi dengan solusi-solusi pemerintahan saat ini yang tidak pernah solutif dan malah menambah masalah baru.
Sebagai masyarakat, mari kita bergerak secara mandiri untuk meningkatkan layanan Angkot di Bandung. Caranya, salah satunya dengan mengapresiasi para supir Angkot yang santun, ramah, murah senyum, tidak mengetem, dan tidak ugal-ugalan selama mengemudikan kendaraannya.
Bentuk apresiasinya pun bisa bermacam-macam. Mulai dari yang paling sederhana dengan mengucapkan terima kasih kepada supir Angkot. Bentuk lainnya, melebihkan ongkos Angkot sebesar seribu hingga 2 ribu Rupiah. Bila kita ikhlas memberi, insyAllah akan menjadi amalan yang akan dibalas dengan kebaikan lainnya oleh Tuhan di kemudian hari.
Semoga percikan ide solusi ini bisa memberikan dorongan untuk supir Angkot agar meningkatkan pelayanannya kepada penumpang dan masyarakat Bandung.
Berkontribusi untuk Masyarakat
“Andar, kapan pulang? Bapak punya banyak mangga, nih! Ada yang ngasih!” sahut bapak saya di ujung telepon. Saat itu saya sedang di luar kota, dan berjanji untuk segera berangkat ke Majalengka setelah urusan selesai.
Perihal dapat kiriman ini memang hal yang biasa bagi Bapak saya. Beliau adalah seorang penyiar sebuah radio swasta di Jatiwangi, Majalengka. JAF FM nama radionya.
Kalau bapak saya bersiaran, penggemarnya pun cukup banyak. SMS yang masuk bisa mencapai seratus dalam 1 jam. Belum lagi penelepon yang selalu berdesakan untuk berinteraksi ketika On-Air.
Selain berkirim pesan, cukup banyak juga pendengarnya yang gemar mengirimkan sesuatu untuk Bapak saya. Salah satunya adalah kiriman buah Mangga Harum Manis pada 23 Oktober 2011 silam. Kirimannya pun bukan hanya 2 – 3 buah, tapi 1 karung buah mangga dari kebun sang penggemar. Ukuran per buahnya pun tidak biasa, hampir 2 kali besar buah Apple merah yang katanya impor dari luar negeri itu.
Saking banyaknya, orang tua saya pun menyuruh saya membawa ke Bandung. Saya membawa hampir 1 kardus mie instan yang beratnya kira-kira mencapai 10 Kilogram. Untuk masalah rasa pun tidak main-main. Sangat manis dan membuat yang memakannya akan ketagihan. Artinya, penggemar Bapak saya memberikan buah berkualitas baik kepada idolanya.
Di lain kesempatan, pernah bapak saya juga mendapatkan kiriman sebuah semangka dari kebun sang penggemar. Ukurannya besar sekali. Diameternya mencapai 25 Centimeter dengan berat keseluruhan lebih dari 9 Kilogram. Lagi-lagi Bapak saya menyuruh-nyuruh saya untuk menuju Majalengka secepatnya. Tujuannya satu: menyantap habis semangka tersebut.
Berbicara mengenai penggemar bapak saya yang kerap mengirimkan hasil kebunnya, pengalaman dosen saya di kampus juga mencerminkan hal serupa. Mohammad Arief namanya, dan beliau merupakan mantan penyiar di Delta FM beberapa tahun silam.

Diameternya 25 Cm dan berat keseluruhannya mencapai 9 Kg. Dan lagi-lagi dari kebun penggemar Bapak saya.
Menjelang lebaran, Pak Arief biasanya mendapatkan kiriman bingkisan lebaran dari pendengarnya. Jumlahnya pun tidak kira-kira. Seringkali kali, ujar Pak Arief, ketika lebaran datang, rumahnya penuh sesak dengan kue lebaran kiriman penggemar.
Padahal, menjelang pertengahan Ramadhan, dirinya seringkali pesimis akan memiliki kue lebaran. Alasannya, gajinya sebagai penyiar ketika itu tidak akan cukup untuk membuat kue sebagai hidangan tamu pada Idul Fitri. Namun, atas kuasa-Nya, ternyata beliau memiliki kue lebaran yang berlimpah.
Ketika seseorang bermakna dan berguna bagi orang banyak, orang banyak ini dengan relanya akan berbondong-bondong memberikan yang terbaik. Bagaimana pun, di masyarakat, kontribusi seseorang terhadap masyarakatlah yang dilihat, bukan pada gelar dan kekayaannya.
Dalam hal ini, saya jadi teringat kesimpulan Karl Marx dalam tulisannya yang dikenal sebagai Reflections of a Young Man on The Choice of a Profession. Tulisan ini merupakan surat Karl Marx kepada ayahnya ketika menjalani tahun-tahun pertamanya kuliah.
Saya sendiri memiliki buku Marx on Religion dalam Bahasa Indonesia. Namun karena tidak saya bawa ketika membuat tulisan ini, jadi saya kutipkan Bahasa Inggrisnya yang saya cari dari internet. Berikut paragraf terakhir tulisannya.
If he works only for himself, he may perhaps become a famous man of learning, a great sage, an excellent poet, but he can never be a perfect, truly great man.
History calls those men the greatest who have ennobled themselves by working for the common good; experience acclaims as happiest the man who has made the greatest number of people happy; religion itself teaches us that the ideal being whom all strive to copy sacrificed himself for the sake of mankind, and who would dare to set at nought such judgments?
If we have chosen the position in life in which we can most of all work for mankind, no burdens can bow us down, because they are sacrifices for the benefit of all; then we shall experience no petty, limited, selfish joy, but our happiness will belong to millions, our deeds will live on quietly but perpetually at work, and over our ashes will be shed the hot tears of noble people.
Atau, dalam bahasa Islamnya, sesuai dengan hadist nabi, ”Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Desa Mandalamekar, Contoh Penerapan Citizen Journalism untuk Community Development
Berbicara implementasi Citizen Journalism, saya selalu menilai warga kotalah yang siap menerimanya. Ternyata, penilaian ini salah. Tak dikira, sebuah desa yang ada di pedalaman Tasikmalaya, bisa mengaplikasikannya untuk kebutuhan Community Development (pengembangan masyarakat).
Adalah Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Tasikmalaya. Saya mendapatkan informasi ini dari Maya Dewi Mustika yang janjian untuk mengunjungi desa tersebut bersama Rina Amalia Budiati pada September lalu. Karena mereka janjian di Facebook dalam setingan publik, akhirnya saya pergokilah serta menodong untuk turut serta. Alhamdulillah, mereka pun mengizinkannya.
Maya sendiri bermaksud melihat proses pengembangan Linux untuk desa dan penanaman hutan alam di Mandalamekar yang dinilai sukses oleh masyarakat dunia. Sedangkan Rina ingin melihat proses kreatif di balik pemanfaatan media radio dan situs web di Mandalamekar.
Kami berangkat ke Mandalamekar pada 26 September 2011 lalu dari Tasikmalaya. Jaraknya sebenarnya tidak jauh, hanya 30 Km dari Tasikmalaya. Namun, karena jalannya berbatu, berkelok, dan naik turun sepanjang setengah perjalanan, membuat perjalanan ke sana harus ditempuh dalam waktu 3 jam lamanya.
Pemberangkatan dimulai dari Terminal Padayungan, Tasikmalaya. Lama kami menunggu. Menurut informasi yang kami terima saat itu, mobil yang mengarah ke Desa Mandalamekar hanya ada 2 dan waktunya kira-kira antara jam 7 sampai jam 11an. Akhirnya kami sepakat untuk menunggu dari jam 7 pagi. Namun, kami baru menemukan mobilnya sekitar jam 9an. Itu pun belum sampai Desa Mandalamekar, tapi harus menggunakan ojek untuk tiba di lokasi yang kami tuju.
Dan perjalanan pun dimulai. Setengah perjalanan kami tempuh dengan cukup santai. Jalanan berkelok, mulus, lapang, dan menanjak, membuat perjalanan ini seperti kegiatan wisata saja. Namun, ketika mencapai wilayah Desa Salopa, Kecamatan Jatiwaras, jalanan berubah menjadi sempit, berbatu, berkelok, dan naik-turun. Mobil minibus yang kami tumpangi mulai memelan. Sedikit demi sedikit sang mobil menelusuri jengkal demi jengkal area Mandalamekar.
Karena terbatasnya transportasi di sana, membuat mobil penuh sesak dengan penumpang. Saya pun sempat berdiri di pintu mobil karena banyaknya ibu-ibu yang naik mobil ini. Malu saja, masa perempuan yang menggendong bayi suruh duduk di pintu. Tak hanya berdiri di pintu, saya juga mengikuti jejak sang kernet untuk duduk di atap mobil elf. Meskipun menderita karena guncangannya yang sangat keras dan khawatir terguling, tapi saya cukup menikmatinya.
Walaupun minim transportasi, ada hal yang menarik di sini. Karena mobil yang melewati pedesaan ini bisa dihitung dengan jari, warga pun mengetahui nama supir dan kernet setiap angkutannya. Tak hanya itu saja, warga pedesaan pun kerap menitipkan pembelian barang dan bon tagihan belanjaan untuk kliennya di Kota Tasikmalaya kepada kernet dan supir.
“Supaya lebih murah. Kalau ngak dititipin mah, bisa-bisa (keuntungan penjualan) habis sama ongkos,” ungkap Yono (25), kernet mobil yang kami tumpangi.
Tiga jam perjalanan kami tempuh, dan akhirnya kami tiba di daerah Cikujang, Desa Mandalamekar. Perjalanan ternyata belum selesai. Kami harus menempuh sekitar 3 Kilometer lagi menggunakan ojek untuk tiba di rumah pak Kepala Desa. Jalanan pun berkelok, naik-turun, dan berbatu. Meskipun miris dengan infrastruktur di sini, tapi saya cukup menikmati perjalanannya.
Akhirnya, kami tiba di kantor Desa Mandalamekar. Kami bertemu dengan Pak Abdul Jamaludin (56), staf desa Mandalamekar. Bersamanya kami berjalan sejauh kira-kira 1 Km menuju rumah pak Kades yang sudah menunggu kami sejak pagi. Kami tiba sekitar jam 12an.
Kang Yana Noviadi (43), sang kepala desa, banyak berbagi mengenai Desa Mandalamekar. Berkaitan dengan pengembangan citizen journalism di desa tersebut, Yana memaparkan bahwa dirinya mulai melalui radio komunitas berjuluk Ruyuk FM pada 2007 silam. Tujuannya sederhana, yaitu mempermudah penyebaran program penghijauan pada masyarakat Desa Mandalamekar.
Setiap harinya, Ruyuk FM bersiaran dari jam 19 hingga waktu yang tak ditentukan. “Sampai semaunya penyiar aja,” ungkap kang Yana. Biasanya, masyarakat yang setia mendengarkan radio ini, akan langsung memindahkan saluran radionya ke Ruyuk FM.
Meskipun semaunya, tapi radio ini tidak seenaknya bersiaran. Yana sendiri memfokuskan ada 4 hal yang dia agendakan untuk dipancarkan di Ruyuk FM, yaitu: Bahasa Sunda, Kesehatan, PNPM, dan desa, khususnya penghijauan.
Tidak berhenti hingga radio komunitas, kang Yana juga mengembangkan situs web. Tujuannya, untuk menggantikan fungsi pamflet yang berbiaya cukup tinggi. Selain itu, situs ini juga berfungsi memperkenalkan Desa Mandalamekar kepada dunia.
Sebagai mulanya, kang Yana mengundang komunitas pewarta warga untuk mengajarkan teknik jurnalisme kepada warganya. Tindak lanjut dari pelatihan ini adalah blog yang beralamatkan mandalamekar.wordpress.com. Beberapa tahun kemudian, kang Yana dan tim memutuskan untuk membuat Mandalamekar.or.id.
Pengembangan dan pemeliharaan konten di Manadalamekar.or.id dibantu oleh 4 orang pengisi, termasuk kang Yana sendiri. Menariknya, untuk memperbaharui situs, mereka harus melakukannya di tengah sawah untuk mendapatkan sinyal internet.
Situs Mandalamekar.or.id saya nilai cukup aktif dan sering diperbaharui. Biasanya mereka memperbaharui situsnya ketika ada kejadian yang bisa diangkat ke situs web. Namun, rata-rata mereka memperbaharui situsnya seminggu sekali.
Dari segi konten pun sangat lokal sekali. Salah satu tulisan yang sangat saya sukai di Mandalamekar.or.id adalah mengenai seorang guru SD Mandalamekar yang menghadiri sidang doktor siswanya dulu. Sangat mengharukan dan menginspirasi. Yang tak habis saya pikir, penulisnya bisa menangkap hal yang oleh orang-orang mungkin dianggap tidak biasa.
Berbicara tentang dampak media yang dikembangkan di Mandalamekar, yaitu radio komunitas Ruyuk FM dan Mandalamekar.or.id, ternyata sangat luar biasa.
Untuk program penghijauan, kang Yana dan tim berhasil mengajak warganya untuk tidak memotong pohon dan memperbanyak penanaman di lahan gundul. Bahkan, mereka berhasil menghijaukan daerah mata air di Mandalamekar. Karena penghijauan inilah, sawah di desa mereka kini tidak pernah kekurangan air lagi, meskipun pada musim kemarau dan desa-desa tetangga menderita kekeringan yang cukup parah.
Sedangkan tanggapan dari masyarakat dunia, Desa Mandalamekar melalui kang Irman Meilandi (38), berhasil mendapatkan penghargaan dari Seacology, sebuah lembaga dari Amerika. Mereka memenangkan hadiah sebesar 10 ribu Dollar Amerika untuk pengembangan desa. Berita tentang ini, kebetulan dimuat di Pikiran Rakyat Bandung.
Kang Yana juga sempat mengajak kami ke daerah bernama Karang Soak. Sebelum tahun 2004, daerah ini hanyalah lahan yang ditumbuhi ilalang. Namun, sejak 2004, lahan ini secara bertahap ditanami pepohonan. Hasilnya, saat ini Karang Soak telah menjadi daerah yang rindang dan nyaman serta penuh pepohonan.
Di sini juga kami bertemu dengan kang Irman. Ternyata, beliau ini adik kandung dari kang Yana. Menurut sang kakak, kang Irman inilah yang banyak menggagas soal pengembangan citizen journalism dan penghijauan di Mandalamekar.
Di rumah kang Yana, kang Irman banyak bercerita tentang usahanya mengembangkan masyarakat di berbagai penjuru di Indonesia Timur. Hingga akhirnya, dia pulang kembali ke kampung halamannya ini 1,5 tahun lalu. “Saya malu, masa saya bantu desa orang, tapi desa sendiri tidak saya bangun,” tutur kang Irman mengungkapkan latar belakangnya berkiprah kembali di Mandalamekar.
Kang Irman juga bercerita mengenai local wisdom (kearifan lokal) yang dimiliki sesepuh di Mandalamekar. Banyak ilmu berkenaan dengan alam yang masih dijalankan oleh para pendahulu Mandalamekar. Ilmu-ilmu itu mencakup ilmu tanam, cuaca, hingga pengobatan herbal.
Untuk mendokumentasikan semua itu, kang Irman bersama timnya di Mandalamekar tengah mendokumentasikan berbagai ilmu-ilmu pengobatan herbal yang dimiliki sesepuh Mandalamekar. Rencananya, pengobatan herbal ini akan dibukukan agar dapat diwarisi ke anak-cucu Mandalamekar kelak.
Usai Maghrib, kami pamit pulang. Kang Yana awalnya tidak mengizinkan. “Kalau mau ke sini, harusnya 2 hari. Ngak akan cukup kalau cuman sehari,” begitu ajakannya. Namun, apa daya, kami hanya punya waktu sehari. Mungkin lain waktu kami akan menyediakan waktu lebih lama. Agar bisa merasakan keheningan, ketenangan, ketentraman, dan kearifan di Mandalamekar.
Terima kasih, Mandalamekar. Semoga kamu terus menjadi inspirasi bagi kami dan warga dunia lainnya.
Laporan lainnya yang ditulis oleh Maya DM, bisa dilihat di situs SalmanITB.com. Untuk foto-foto, bisa dilihat di Flickr. Di bawah ini merupakan video profil dari Irman Meilandi yang dibuat oleh Seacology.org.
Memetik Tiga Pelajaran Kehidupan dari Steve Jobs
Tak ada seorang pun yang ingin mati. Meskipun orang yang ingin pergi ke surga, tidak ingin mati untuk menuju ke sana. Dan sampai sekarang, kematian adalah tujuan yang kita semua akan alami. Tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari kematian. – Steve Jobs
Steve Jobs ketika memberikan pidato di hadapan wisudawan Stanford University pada 2005 silam. (Foto: ecdn2.hark.com)
Penggalan pidato tersebut disampaikan Steve Jobs ketika memberikan sambutan kepada wisudawan di Stanford University 6 tahun silam. Ketika itu, pendiri Apple Inc ini bercerita perihal kanker pankreas yang telah dideritanya sejak setahun sebelumnya. Hal yang dilakukannya ketika itu, mengingatkan kepada wisudawan untuk selalu mempergunakan waktu yang sangat terbatas guna membuat sebuah karya dalam hidup.
Jatah waktu Steve Jobs untuk berkarya telah habis di dunia ini. Rabu, 5 Oktober 2011, pada usianya yang ke-56 tahun, mantan CEO Apple Inc tersebut menghembuskan nafas terakhir karena kanker yang telah dideritanya sejak 2004 silam.
Dunia telah kehilangan sosok besar kelahiran 24 Februari 1955 ini. Bagaimana tidak, Steve Jobs memiliki 3 kualifikasi sekaligus dalam dirinya yang diakui dunia: manajer, penemu, dan seniman.
Sebagai seorang manajer, Steve Jobs berhasil membawa Apple menjadi perusahaan yang paling dikagumi versi majalah Fortune pada 2008 hingga 2010. Pendapatan tahunan perusahaan ini pun mencapai 65,23 Milyar Dollar Amerika pada 2010 dengan 49.400 pegawai. Atas prestasinya ini pula, Steve Jobs dianugerahi sebagai CEO terbaik dalam 20 tahun terakhir versi situs Businessinsider.com.
Dari sisi penemu dan seniman, deretan produk Apple menjadi buktinya. Merujuk situs Nytimes.com, Steve Jobs mencatat 313 paten atas namanya. Paten-paten ini melingkupi rancangan Desktop Computer, iOS Based Devices, Laptop, sistem operasi, hingga monitor, keyboard, mouse, dan pengemasan. Bahkan iMac, iPod, dan iPhone yang notabenenya sebagai produk papan atas Apple, tak lepas dari sentuhan rancangannya juga.
Tak heran bila Barack Obama dalam pernyataannya di Blog Gedung Putih, menyampaikan bahwa Steve Jobs merupakan salah satu inovator Amerika terbesar. “Cukup berani untuk berpikir berbeda, cukup tidak malu untuk percaya bahwa dia bisa merubah dunia, dan cukup bertalenta untuk melakukannya,” ungkap Obama, seperti yang tertulis di whitehouse.gov/blog.
Steven Spielberg, salah satu pendiri Pixar dan sutradara ternama Amerika, memberikan penghargaan, “Steve Jobs adalah penemu terbesar sejak Thomas Edison. Dia menaruh dunia di ujung jari kita.”
Di balik segala kesuksesannya, ada kisah menarik terkait Steve Jobs yang ternyata penuh dengan usaha untuk keluar dari keputusasaannya. Kisah ini dia ceritakan ketika memberikan pidatonya dihadapan wisudawan Stanford University pada 12 Juni 2005 silam.
Ada 3 pelajaran kehidupan berharga yang Steve Jobs sampaikan, yaitu: menghubungkan titik (connecting the dots), cinta dan kehilangan (love and loss), dan kematian (death).
Pelajaran pertama, mengenai hubungan antar titik. Steve Jobs menyimpulkan bahwa masa lalu memiliki hubungan erat dengan masa depan. Dia mencontohkan dengan kisah masa lalunya ketika memutuskan berhenti kuliah di Reed College setelah melewati 6 bulan pertamanya.
Saat itu, penganut Budha ini tetap mengikuti perkuliahan di kelas-kelas yang dia suka. Namun, dia harus menebusnya dengan sesuatu yang dinilainya tidak romantis. Yah, Steve Jobs harus rela tidur di lantai kamar temannya, mengembalikan botol Coke agar mendapatkan uang 5 sen untuk membeli makanan, dan berjalan 11 Km lebih setiap Minggu malam ke kuil Khrisna Hare untuk mendapatkan makanan bergizi.
Salah satu kelas yang diikutinya adalah kaligrafi. Di kelas tersebut, Steve Jobs mempelajari jenis-jenis huruf dan kombinasinya untuk membuat seni kaligrafi terbaik. “Pelajaran ini sangat mengasyikan,” ungkapnya.
Ketika itu, anak kandung seorang muslim asal Syria ini tidak merasakan bahwa pelajaran kaligrafi mampu diaplikasikan dalam hidupnya. Hingga 10 tahun kemudian, ketika merancang komputer Macintosh pertama, boleh jadi Macintosh merupakan komputer pertama di dunia yang memiliki tipografi yang indah.
“Jika saya tidak pernah keluar (dari kuliah), saya tidak akan pernah ada di kelas kaligrafi, dan komputer pribadi mungkin tidak akan memiliki tipografi yang indah,” papar Steve Jobs menerangkan hubungan antar titik.
Dari cerita ini, bapak 4 anak ini berpesan bahwa kita harus percaya pada suatu titik dalam suatu fase kehidupan yang akan terkoneksi dengan masa depan. Bagaimana pun, sebuah kisah di masa lalu, akan menciptakan dan berguna di masa datang. Dan, pendekatan ini tidak akan menjatuhkan, justru akan membuat hidup kita menjadi lebih berbeda.
Pelajaran kedua, temukanlah aktivitas yang dicintai. Ketika dipecat dari Apple pada 1985, Steve Jobs benar-benar merasa terpuruk. Dia mengaku telah melakukan kesalahan publik dan merasa bahwa apa yang telah dibangunnya hancur berkeping-keping tanpa menyisakan apa pun.
Namun, perlahan-lahan timbul rasa cinta terhadap apa yang telah dilakukan sebelumnya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membangun semuanya dari awal. “Keadaan berat untuk menjadi sukses telah tergantikan dengan keringanan untuk menjadi pemula kembali. Ini membebaskan saya untuk masuk ke satu periode yang paling kreatif dalam hidup saya,” ungkap Steve Jobs berusaha meyakinkan dirinya kala itu.
Hasilnya, dalam 5 tahun, kakak novelis Mona Simpson ini, berhasil menjalankan perusahaan komputer barunya bernama NeXT, mengakuisisi Pixar, dan jatuh cinta pada seorang wanita yang kelak menjadi istrinya. Pixar sendiri berhasil membuahkan film animasi komputer pertama di dunia dan menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Sedangkan NeXT, diakuisisi Apple yang mengantarkan Steve Jobs menjadi CEO perusahaan berlogo apel digigit tersebut.
Steve Jobs menyimpulkan bahwa terkadang hidup penuh dengan kepedihan. Pada saat-saat seperti itu, lanjut Steve Jobs, jangan sampai kehilangan iman dan cintailah apa yang sedang dilakukan. “Jalan satu-satunya untuk melakukan pekerjaan terbesar adalah mencintai apa yang kamu lakukan. Jika kamu belum menemukannya, tetaplah mencari,” nasihat suami Laurene ini.
Dan pelajaran ketiga adalah menyoal kematian. Steve Jobs mengenang ketika dokter memvonisnya dengan kanker pankreas pada 2004. Dokter memprediksikan bahwa umur Steve Jobs tidak akan lebih dari 6 bulan dan menyarankannya untuk segera berpamitan kepada keluarga dan kerabat.
Meskipun begitu, ketika dokter mengambil sel-sel kanker dari pankreasnya di waktu yang lain, Steve Jobs dinyatakan bisa sembuh dengan operasi. Dan akhirnya pun dia menjalani operasi dan merasa sehat.
Kejadian ini membuat Steve Jobs sadar dan berpesan bahwa waktu yang dimiliki setiap manusia sangat terbatas. Lebih lanjut, penerima National Medal of Technology ini mengingatkan untuk tidak hidup dalam dogma dan pikiran orang lain serta tidak membiarkan opini orang lain mempengaruhi suara di dalam diri.
“Dan yang paling penting, miliki keberanian untuk mengikuti hati dan intuisimu. Bagaimana pun, mereka lebih tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan. Sedangkan yang lainnya adalah berikutnya,” pesan Steve Jobs.
Tiga hal yang disampaikan Steve Jobs dalam pidatonya ini memang tampak sederhana. Namun, siapa sangka, ketiga hal inilah yang akhirnya menelurkan tokoh fenomenal ini. Selamat jalan, Steve Jobs. Dunia akan merindukanmu.
Dipublikasikan di Kolom Jejaring Rubrik Opini HU Pikiran Rakyat Bandung pada Senin, 10 Oktober 2011.
























