Sekolah Ilmu Jurnalistik Bervisi Entrepreneurial Journalism
Hari ini ceritanya saya sedang melamun. Lamunannya sederhana saja, “Bagaimana kalau saya punya sekolah tinggi ilmu jurnalistik, yah?” Lamunan ini muncul akibat obrolan saya dengan kawan-kawan Klab Citizen Journalist Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Karena, sebagian dari mereka adalah mahasiswa jurusan Jurnalistik di kampusnya masing-masing. Dan umumnya mereka meneriakan kegundahan, “Kalau saya lulus, mau jadi apa?”
Dari hasil obrolan ini, mereka umumnya cuman tahu bila sudah lulus kelak akan menjadi wartawan atau jurnalis di koran-koran yang ada di seantero Indonesia. Istilah mereka, “Kuli tinta buruh warta.” Karena, mereka dididik dan dibentuk untuk seperti itu. Selama 4 tahun lamanya, mereka ini mempelajari jurnalistik dan dikenalkan dengan deadline yang menurut pengakuan para mahasiswa ini cukup mencekik leher.
Dan tampaknya cerita dari saya membuat mereka semakin terpuruk. Saat itu, saya cuman cerita bahwa kebanyakan media massa lebih memilih menerima lulusan dari jurusan lain dibandingkan jurusan ilmu komunikasi sendiri. Penilaiannya sederhana saja, “Lebih mudah mana, antara mengajari lulusan jurnalistik ilmu ekonomi atau mengajari lulusan ekonomi teknik jurnalistik?” Tentunya kebanyakan orang akan sepakat lebih mudah mengajari lulusan ekonomi sebuah teknik jurnalistik dibandingkan mengajari lulusan jurnalistik ilmu ekonomi.
Bagaimana pun, seorang lulusan ekonomi akan mampu menulis tema-tema ekonomi lebih dalam dan menyeluruh dengan konteks yang tepat dibandingkan lulusan jurnalistik yang belajar ekonomi. Apalagi kursus dan pelatihan jurnalistik di berbagai daerah di Indonesia semakin marak saja. Sehingga kesempatan lulusan dari jurusan lain untuk menjadi seorang jurnalis semakin terbuka.
Kemudian saya bilang lagi ke mereka, bahwa saat ini anak-anak jurnalistik harus mulai membangun visi mereka ketika lulus nanti. Dalam hal ini, saya kerap menceritakan soal Entrepreneurial Journalism, sebuah konsep yang sekaligus menjadi judul buku Mark Briggs. Secara garis besar, Mark Briggs menegaskan bahwa kemampuan jurnalisme bisa digunakan seseorang untuk membangun kewirausahaan (entrepreneurial)-nya.
Sebagai contoh, dalam buku tersebut diceritakan seorang Belarusia berkewarganegaraan Amerika bernama Gary Vaynerchuk. Pada akhir 1990-an, dia mengambil alih perusahaan Wine yang diwariskan secara turun temurun dalam keluarganya. Misinya saat itu sederhana saja: Bagaimana meningkatkan pendapatan tanpa memperluas pabrik dan kebunnya?
Untuk meningkatkan pendapatannya, Gary kemudian memberdayakan teknologi website. Pada 2006, Gary membangun program Wine Library TV di YouTube. Dengan bermodalkan kamera sederhana, Gary berdiri di depannya kemudian meminum Wine dan menceritakannya. Video ini ia buat secara berkala hingga berjumlah seribu video. Hasilnya, video-video ini menarik perhatian publik dan ditonton hingga satu juta kali.
Dari sinilah kemudian komunitasnya terbentuk. Adapun pengikut Gary di Twitter mencapai 900 ribu pengikut. Pada 2010, Garry Vaynerchuk juga menjadi narasumber mingguan untuk program radio berdurasi 2 jam berjudul Wine and Web with Gary Vaynerchuck di stasiun radio digital Sirius XM. Kemampuan menggunakan media ini membuat perusahaan Wine keluarganya mengantongi keuntungan yang awalnya hanya US$ 4 juta menjadi US$ 60 juta per tahun.
Bercermin dari konsep dan cerita ini, dan terkait lamunan saya di awal, saya bercita-cita untuk membangun sekolah tinggi ilmu jurnalistik yang bervisi entrepreneurial journalism. Karena, saat ini, sepengetahuan saya belum ada perguruan tinggi ilmu komunikasi yang fokus dalam mengembangkan bidang kewirausahaan media.
Lalu, bagaimana saya akan membentuk mahasiswa saya ini?
Yang terbayang di benak saya, pada semester I dan II, mahasiswa jurnalistik di kampus masa depan ini akan belajar tentang dasar-dasar jurnalistik, seperti: cara melakukan reportase, menulis berita, fotografi, hingga struktur redaksi. Menginjak semester III, mereka mulai magang di media kampus. Media kampus ini semuanya berbasis digital dan online. Tidak hanya berbasiskan teks, tetapi juga berbasiskan foto, audio, grafis, dan audio-video. Sebisa mungkin, media kampus ini juga sudah menerapkan konsep-konsep terbaru dalam bidang jurnalisme.
Para mahasiswa ini nantinya terikat magang selama 2 tahun lamanya, hingga semester VI. Adapun proses magang ini bertujuan memperkenalkan dunia kerja jurnalistik kepada mahasiswa-mahasiswa kampus masa depan saya ini. Program magang ini tentunya disertai kuliah reguler seperti biasa.
Proses magang ini, selain untuk membangun keterampilan mereka dalam bidang jurnalistik, juga membangun pandangan mereka terkait dunia yang akan dijalaninya. Mereka akan terbiasa untuk melihat persoalan dari sudut pandang media dan jurnalistik, serta mengembangkan solusi dari ilmu yang dipelajarinya di kampus.
Kemudian pada semester VII, para mahasiswa mulai belajar terkait konsep-konsep jurnalisme terbaru. Mereka juga harus belajar wawasan dan keterampilan membangun media di Internet. Pada semeter ini, mahasiswa juga didorong untuk membangun visi entrepreneurial journalism-nya. Sehingga menginjak semester VIII dan lulus sebagai mahasiswa, mereka sudah siap terjun ke masyarakat dengan bekal yang mereka telah eksplorasi di kampusnya.
Saya rasa, konsep ini cukup realistis untuk diwujudkan. Dari pengalaman saya mengembangkan SalmanITB.com dan Sahabatmkaa.com, para mahasiswa sudah cukup mumpuni untuk mengembangkan kemampuan kejurnalistikannya pada tingkat II dan III. Bagaimana pun, kedua media ini sama-sama menjadikan mahasiswa sebagai ujung tombaknya. Dan terbukti, kedua media ini bisa bertahan dan berkembang hingga saat ini.
Sebagai langkah awal, saya akan memulai program pelatihan jurnalistik ke komunitas-komunitas di Jawa Barat lebih intensif, baik itu secara kelembagaan maupun secara individu. Komunitas-komunitas yang ingin memiliki situs web, akan saya latih kemudian saya akan buatkan situsnya secara cuma-cuma, tanpa bayaran sepeser pun. Dari proses ini, saya harapkan bisa menjadi bekal untuk mengembangkan kampus sekolah tinggi ilmu jurnalistik bervisi entrepreneurial journalism. Semoga.***
Negara Monarki Paling Bahagia Ini Dicintai Rakyatnya
Pengunduran Ratu Beatrix bulan April 2013 lalu, membuat publik Belanda kaget. Pasalnya, Beatrix telah menyentuh hati rakyatnya. “Saya tidak terlalu peduli dengan kerajaan, tetapi betul, dia ratu yang luar biasa, ratu untuk rakyat,” ujar Leo van der Horst (65), warga Belanda.
Monarki memang telah menjadi pemerintahan Belanda sejak 1566 melalui pewarisan dari keluarga Orange-Nassau. Sebagai raja pertamanya adalah William I dengan kerajaan Dutch Republic. Beliau dinilai setara George Washington, pendiri Amerika. Pasalnya, William merupakan pendiri pondasi Belanda masa kini.
Era baru pemerintahan monarki Belanda sendiri ditandai dengan pembentukan Kingdom of the Netherlands pada 1815, setelah Perancis berhasil diusir dari Belanda. Sebagai raja adalah William I, pemimpin perebutan kembali Belanda dari tangan Perancis sekaligus anak William V, pemegang tahta terakhir Dutch Republic.
Mulai era ini, wajah monarki Belanda banyak berubah. Adolphe Quetelet, statistikawan Belgia, menuliskan bahwa pada 1820an, negara baru ini memiliki tingkat kematian yang rendah, persediaan makanan melimpah, pendidikan yang baik, kesadaran publik yang tinggi, dan rata-rata dana sumbangan amal tertinggi di dunia.
Kerajaan Belanda juga mengalami perubahan sistem politik menjadi Monarki Konstitusional. Sistem yang diproklamasikan 3 Nopember 1848 ini membatasi kekuasaan raja, membangun pemerintahan sipil, dan menggelar parlemen. Adapun raja atau ratu bertindak sebagai kepala negara. Sistem ini juga melindungi kebebasan sipil dan memberikan persamaan hak untuk warganya.
Perubahan ini juga berdampak pada kebangkitan seni dan sains di akhir abad 19. Sebagai contoh, pelukis aliran Realis Belanda ternama Vincent Van Gogh, lahir di era ini. Dalam bidang sains, terdapat Johannes Diderik van der Waals (1837-1923). Dia meraih gelar PhD dari Leiden University dan berhasil memenangkan Hadiah Nobel pada 1910 dalam bidang termodinamika. Saintis lainnya adalah Hendrik Lorentz (1853-1928) dan muridnya Pieter Zeeman (1865-1943) yang meraih hadiah Nobel dalam bidang Fisika pada 1902. Era ini juga memunculkan Hugo de Vries (1848-1935), penemu genetika Mendellian.
Menjelang pergantian abad, Belanda melakukan langkah fenomenal di zamannya. Karena ketiadaan penerus pria, Belanda mengangkat Wilhelmina sebagai Ratu pada 1898. Padahal mengangkat wanita sebagai pemimpin adalah hal terlarang di Eropa saat itu.
Ternyata Ratu Wilhelmina merupakan sosok yang tepat untuk memimpin Belanda dalam menghadapi masa-masa krisis, seperti: Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan krisis ekonomi 1933.
Ratu Wilhelmina bersama anaknya Juliana yang kelak meneruskan tampuk kepemimpinannya. (Foto: wikimedia.org)
Salah satu momen paling dikenang adalah ketegaran Ratu Wilhelmina menghadapi Perang Dunia II. Pasalnya, pada 1940-1945 Belanda dikuasai Nazi yang membuat keluarga kerajaan mengungsi ke London, Inggris.
Hebatnya, Ratu Wilhelmina langsung membangun pemerintahan pengasingan dan rantai komando perjuangan Belanda serta mengirimkan pesan kepada rakyatnya melalui Radio Oranje.
Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, Ratu Wilhelmina memilih berkeliling Belanda untuk memotivasi rakyatnya. Seringkali, hal ini dilakukannya menggunakan sepeda.
Hal serupa dilakukan oleh penerusnya: Ratu Juliana dan Ratu Beatrix. Ratu Juliana bahkan menginginkan dipanggil “Mevrouw” (Nyonya dalam bahasa Belanda) dibandingkan “Yang Mulia”. Bahkan, ketika Belanda dilanda badai pada Januari 1953, dia sendiri yang membagikan makanan dan pakaian kepada korban.
Melihat tindak-tanduk ratu dan rajanya, tak heran bila rakyat Belanda mencintai negara dan pemimpinnya. Dilengkapi dengan pendapatan per kapita terbesar kesepuluh di dunia, tak salah bila Belanda dinobatkan OECD sebagai Negara paling Bahagia di dunia.***
Referensi:
- Kompas.com
- Wikipedia – List of Monarchs of the Netherlands
- Wikipedia – House of Orange-Nassau
- Wikipedia - William I
- Wikipedia - Dutch Republic
- Wikipedia - Kingdom of the Netherlands
- Wikipedia - William I
- Wikipedia – History of the Netherlands
- www.koninklijkhuis.nl – Head of State
- www.rijksmuseum.nl
- Wikipedia – Wilhelmina
- Wikipedia – Juliana
- Wikipedia – Beatrix
- www.koninklijkhuis.nl – Queen
- cerminsejarah.wordpress.com – Sejarah Negeri Belanda
Membangun Hutan dan Ekonomi Hijau a la Mandalamekar
Waktu maghrib baru saja tiba ketika saya menginjakkan kaki di terminal Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya. Di seberang jalan, sudah menunggu sepeda motor Honda berwarna putih. “Saya pake motor plat merah ,” pesannya via pesan singkat (SMS) ketika menunggu kedatangan saya.
Dengan sekali pandangan, saya mampu mengenali penjemput saya. Seorang pria berkacamata, duduk di sebuah sepeda motor Jupiter MX berwarna putih di seberang terminal. Berpadu kontras dengan ciri khas kendaraan pemberian Gubernur Jawa Barat untuk para Kepala Desa. Matanya sibuk memperhatikan mini bus publik yang lalu-lalang di hadapannya. Berusaha menemukan orang yang sejak jam 15 tadi ia tunggu.
Dari kejauhan, saya melambaikan tangan tinggi-tinggi. “Halo, saya Yudha. Saya adalah sosok yang Anda tunggu-tunggu.” Begitulah sapaan non-verbal yang saya kirimkan padanya. Dengan cepat, dia memahaminya, menyalakan motor, lalu menghampiri saya.
“Maaf, sudah menunggu lama,” sambut saya sembari bersalaman. Roni Jatnika (27), penjemput saya, membalas dengan senyuman. “Mangga naik, kang,” ajaknya. Segera saya duduk, mengencangkan pijakan, dan motor pun memasuki lintasan pemberangkatan selanjutnya: Desa Mandalamekar.
Tanpa basa-basi, jalanan menyambut kami dengan hiburannya. Sebuah jalur dengan hutan dan ladang di kanan-kirinya. Jalur berbatu dengan 2 lajur beton untuk motor. Tentu tak semulus beton jalan tol di Bandung. Di antara keduanya, tersisa lajur yang dihiasi batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Tentunya, lajur ini tidak pernah menjadi pilihan siapa pun yang melintasinya.
Menapakinya dengan motor, rasanya seperti naik kuda. Kuda yang bersemangat berlari dalam sebuah pacuan kuda. Setiap jengkal jalannya, kami harus terloncat dari jok sepeda motor. Namun, dengan cepat pula posisi kami kembali seperti sedia kala.
Pun motor kami. Dia harus bekerja ekstra keras. Kami yang menumpanginya, harus dia buat senyaman mungkin. Caranya, kurangi gonjangannya semaksimal mungkin. Tak heran, sepanjang perjalanan, mesinnya meraung, menahan beratnya kami sembari harus terus berjalan maju.
Perjuangan ini bukan semenit-dua-menit, tetapi sekitar 45 menit kami harus berjibaku dengan jalanan berbatu di tengah hutan Tasikmalaya Selatan. Sebuah jalanan yang tak terjamah sama sekali oleh pembangunan.
Roni begitu sigap menjelajahi jalanan menuju desanya ini. Mendaki, kemudian berbelok ke kanan, turun, berbelok ke kiri. Lajur sebelah kiri adalah pilihan prioritasnya, sama seperti berkendara di jalan raya. Namun, tak jarang juga dia menempatkan motornya di sebelah kanan jalan. Tujuannya satu: menggapai jalan yang lebih mulus.
Kiri, kemudian kanan. Kemudian kiri lagi, dan sekali-kali kanan. Begitu bapak satu anak ini memainkan stir motornya. Mulutnya terus berkomat-kamit menjawab pertanyaan yang saya lontarkan tanpa henti.
Kami merajut jalan desa yang sepi dengan raungan suara motor kami. Hijaunya daun dan cokelatnya tanah, lambat laun warnanya menghitam. Menggelap diselimuti malam yang lambat-laun berangsur-angsur menyisihkan cahaya.
Kunang-kunang mulai menampakkan cahayanya. Suara jangkrik dan katak serta kodok, ikut meramaikan suasana. Tak hanya itu saja. Kodok pun kerap terlihat sedang menyeberang jalanan. Juga siput, yang membuat saya beberapa kali berteriak, “Hati-hati, kang! Ada hewan nyeberang!”
“Di sini juga suka ada macan, Kang!” jawab Roni yang membuat saya langsung merinding penuh kengerian. Macan-macan ini kembali ke hutan Desa Mandalamekar setelah masyarakatnya aktif bergotong royong menanam pohon di lahan gundul dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Mereka berjuang untuk membangun hutannya!
Desa Mandalamekar sendiri awalnya tak ubahnya seperti desa-desa lainnya di Pulau Jawa, bahkan di Indonesia. Selepas SMP, penduduknya mencari pendidikan dan pekerjaan ke kota, memiliki keluarga, kemudian tak pernah kembali. Kalau pun ada yang kembali, sangat jarang sekali. Mungkin di bawah 10 persen.
Lokasinya sendiri berada di perbukitan selatan Tasikmalaya, tepatnya di Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya. Luasnya mencapai 709 hektar dengan 3.200 penduduk yang tersebar di 4 kampung. Dari Tasikmalaya, desa ini berjarak sekitar 30 Kilometer ke arah selatan. Namun, karena kondisi jalannya yang umumnya berbatu dan berlubang, menuju desa ini harus ditempuh sekurang-kurangnya 2 hingga 3 jam dari pusat Kota Santri tersebut.
Beruntung, desa ini tidak benar-benar ditinggalkan penduduknya. Pada 2001 silam, Yana Noviadi (45), salah satu penduduk yang bekerja di sebuah perusahaan otomatif di Jakarta, memutuskan untuk pulang kampung dan menjadi petani. Seperti umumnya petani di Mandalamekar, dia pun punya lahan warisan dari orang tuanya.
Namun, kepulangannya ke Mandalamekar tidak serta merta membuatnya tentram dan nyaman. Menjadi petani di Mandalamekar saat itu bukanlah profesi yang menyenangkan. Petani di desanya kerap terlibat konflik air. Konflik ini semakin menjadi-jadi ketika air semakin sulit didapatkan pada musim kemarau. “Bahkan, warga kerap bermalam di sawah untuk menjaga aliran air ke sawahnya agar tidak disabotase oleh warga lainnya,” kisah Yana tahun 2012 silam, ketika saya mengunjunginya.
Ternyata, pangkal permasalahan ini adalah gundulnya wilayah Hutan Harim (hutan Adat) di Desa Mandalamekar. Hutan seluas 80 hektar tersebut keberadaannya kian kritis saat itu. Penduduk dengan seenaknya menebangi pohon untuk dijual kayunya. Sedangkan lahannya dijadikan areal perkebunan.
Melihat kenyataan ini, Yana akhirnya berinisiatif mengajak pemuda desa untuk menanam pohon di Hutan Harim. Inisiatif Yana ini didukung juga oleh adiknya, Irman Meilandi (38). Irman sendiri, kala itu masih bekerja di sebuah LSM konservasi di kawasan timur Indonesia.
Sebagai langkah awal, Yana dan kelompoknya menanam lahan gundul Hutan Harim selepas melakukan shalat Jumat. Kala itu, ide ini tidak populer di masyarakat. Bahkan, “banyak yang mencibir karena kegiatan (menanam pohon di areal Hutan Harim) itu dianggap gila,” kenang Yana.
Meskipun begitu, Yana dan timnya tidak terpengaruh cibiran masyarakat. Sebaliknya, mereka semakin bersemangat menanami hektar demi hektar lahan gundul dengan pohon demi pohon. Adapun bibitnya mereka ambil dari hutan yang masih terjaga. Pohon-pohon kecil yang baru tumbuh, mereka cabuti kemudian ditanami di lahan gundul.
Seiring dengan waktu, mereka semakin kompak. Yana dan timnya pun sepakat untuk membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bertajuk Mitra Alam Munggaran. LSM ini bergerak dengan semboyan Leuweung Nganteng Kaca Nunggal, yang dalam Bahasa Indonesia kurang lebih artinya Hutan Lestari adalah Cermin Kehidupan.

Ambu Pohaci, salah satu anggota Mitra Alam Munggaran, tengah menanam pohon di areal hutan Mandalamekar. (Foto: Yudha PS)
Hasilnya, setelah 5 tahun, Yana dan Mitra Alam Munggaran berhasil menanami ribuan pohon di lahan gundul Hutan Harim. Hal ini berdampak pada ketersediaan air di Mandalamekar. Beberapa warga mengaku sumber mata air yang biasanya menghilang pada musim kemarau, kini tetap mengeluarkan air sepanjang tahun. Warga pun mulai menyadari pentingnya menanam pohon di Hutan Harim.
Meskipun begitu, Yana merasa kerja kerasnya belum tuntas. Untuk menyebarluaskan virus “menanam pohon” ke masyarakat yang lebih luas, Mitra Alam Munggaran membangun radio komunitas bertajuk Ruyuk FM. Di saat yang sama, Irman Meilandi, adik kandung Yana, pulang ke Mandalamekar untuk menambah dorongan energi bagi gerakan penanaman pohon di hutan Mandalamekar.
Ruyuk FM sendiri berfungsi menyebarkan informasi gerakan penanaman pohon di areal hutan kepada masyarakat Mandalamekar. Setiap harinya, mereka bersiaran dari jam 19 hingga larut malam. “Sampai semaunya penyiar saja,” sahut Yana dengan tawa khasnya. Biasanya, masyarakat yang setia mendengarkan radio ini, akan langsung memindahkan saluran radionya ke Ruyuk FM menjelang Isya.
Meskipun semaunya, radio ini tidak seenaknya saja bersiaran. Yana memfokuskan 4 hal yang diagendakan untuk dipancarkan dari Ruyuk FM, yaitu: Bahasa Sunda, Kesehatan, PNPM, dan desa, khususnya gerakan penanaman pohon.
Benar saja. Gerakan penanaman pohon Mandalamekar pun semakin masif. Mereka yang aktif menanam pun bukan hanya warga pada jenjang usia tertentu saja, tetapi dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SD, SMP, hingga kakek dan nenek yang membawa serta cucunya, berbondong-bondong membawa bibit pohon dan menanamnya di lahan gundul Mandalamekar.
Pohon yang ditanam pun haruslah memiliki umur yang panjang, seperti pohon Kiara, Beringin, Mahoni, Manglid, Tisuk, Loa, Gamelina, Jati, Aren, dan Akasia. Tak hanya itu saja. Mereka pun menyediakan pohon yang buahnya bisa dikonsumsi, seperti Durian, Mangga, Rambutan, dan Sawo Belanda. Selain untuk dimanfaatkan buahnya, pohon-pohon ini juga ditujukan untuk makanan monyet, seperti Lutung dan Surili. “Strategi ini merupakan upaya antisipasi di masa yang akan datang agar monyet tidak menjarah tanaman perkebunan masyarakat,” papar Yana.
Atas keberhasilannya program ini, masyarakat akhirnya mendaulat Yana menjadi Kepala Desa Mandalamekar. Pada pemilihan Kepala Desa Mandalamekar tahun 2007, Yana menang mutlak.
Kepercayaan ini pun tidak Yana sia-siakan. Melalui perangkat undang-undang desa, Yana mulai menggalakan Peraturan Desa yang pro-hutan. Sebagai contohnya, apabila ada masyarakat yang terbukti bersalah menebang satu pohon di wilayah Hutan Harim, yang bersangkutan dikenai sangsi untuk menanam 250 pohon baru seorang diri.
Irman Meilandi, sang adik, pun ikut membantu upaya penghijauan Mandalamekar. Dengan uang tabungannya, dia aktif membeli lahan-lahan tidur milik warga di sekitar mata air. Hasilnya, Irman mendapatkan 15 hektar lahan. Lahan ini kemudian Irman hibahkan ke desa Mandalamekar untuk dijadikan hutan.
Hasilnya, setelah hampir 10 tahun berjuang menyelamatkan hutan Mandalamekar, Yana dan Mitra Alam Munggaran berhasil menghutankan kembali 135 hektar lahan gundul. Lahan ini terdiri dari 80 hektar Hutan Harim, 40 hektar tanah desa yang berada di Karang Soak, serta 15 hektar lahan di sekitar mata air yang berhasil diselamatkan Irman.

Yana Noviadi, Kepala Desa Mandalamekar, tengah berjalan menuju lokasi penanaman pohon bersama warganya. (Foto: Yudha PS)
Tak hanya itu saja. Mata air Cigandasoli, salah satu mata air utama Mandalamekar, kembali mengalirkan air. Hal ini membuat 40 hektar sawah di 3 kampung di Mandalamekar terairi sepanjang tahun, bahkan pada saat musim kemarau. Padahal, sawah di desa Ciwarak dan Papayan yang merupakan tetangga langsung Mandalamekar, kering kerontang tanpa bisa ditanami padi.
Keadaan hutan yang semakin membaik pun ternyata membawa satwa liar dan langka datang ke Mandalamekar. Salah satunya adalah macan. Beberapa orang yang melewati Mandalamekar pada malam hari menggunakan motor, kerap melihat penampakan kucing besar ini di beberapa titik di Mandalamekar. Meskipun masyarakat belum memastikan jenis kucing ini, tetapi dari ukurannya yang sebesar kambing, membuat masyarakat yakin bahwa binatang ini sejenis Macan. Tak hanya itu saja. Satwa liar nan langka lain pun ikut hadir lagi, seperti Surili, Lutung, landak, dan ular.
Kehadiran satwa ini sebenarnya bukan hal baru. Pasalnya penduduk Mandalamekar tempo dulu sudah mengenalnya. Hal ini terbukti dengan keberadaan beberapa gua di daerah Karang Soak yang diberi nama hewan, seperti Gua Maung (Harimau), Gua Monyet, Gua Landak, Gua Oray (ular), dan Gua Walet.
Karang Soak sendiri diproyeksikan oleh masyarakat Mandalamekar sebagai daerah cagar alam. Saat ini, melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Mandalamekar sedang merintis desa wisata berbasis hutan. Pengunjung yang datang akan diajak berkeliling hutan Mandalamekar dan menanam pohon, termasuk mengunjungi Karang Soak.
Adapun tempat menginapnya adalah rumah warga Mandalamekar. Hal ini secara perlahan ikut menyumbang pendapatan bagi masyarakat.
Selain itu, dengan keberadaan hutan, masyarakat pun mulai menanam cabai. Karena ditanam di Mandalamekar, orang-orang menyebutnya sebagai Cabai Mandalamekar. Pada saat panen, cabai-cabai ini langsung diangkut ke Jakarta secara swadaya oleh masyarakat. Hasilnya, akan dibagikan secara transparan kepada masyarakat, sesuai dengan jumlah panen masing-masing petani.
Uniknya, cabai ini memiliki rasa dan bentuk yang khas Mandalamekar. Menurut beberapa orang petani cabai Mandalamekar, saat ini para pedagang di pasar mulai memburu cabai Mandalamekar karena kualitasnya dinilai baik. Harganya pun selalu bagus. Tampaknya, hal ini merupakan salah satu dampak positif keberadaan hutan di sekitar Mandalamekar.
Meskipun begitu, Yana dan Mitra Alam Munggaran masih kurang puas dengan hasil ini. Pasalnya, mereka menargetkan luas wilayah hutan harus mencapai 30 persen dari luas wilayah Mandalamekar, atau sekitar 230 hektar.
Guna meningkatkan luas wilayah hutan, Yana secara aktif menghimbau warganya menanam pohon yang hasilnya berupa buah, seperti kopi, durian, dan cengkih. Meskipun untuk semua warga, tetapi himbauan ini lebih ditekankan pada masyarakat yang lahannya berbatasan dengan hutan. Fungsinya, agar lahan warga tetap mampu menjadi penyangga hutan sebagai sumber air. Sehingga diharapkan mampu menambah luas hutan hingga mencapai yang Yana dan timnya harapkan. Bagaimana pun, warga mempunyai lahan sebesar 580 hektar. Masih sangat potensial untuk membangun hutan hingga 230 hektar di Mandalamekar.
Selain berbuah manis bagi masyarakat desanya, prestasi ini juga membuat Mandalamekar dianugerahi Seacology Prize 2011 dari lembaga Seacology yang bermarkas di California, Amerika. Penghargaan yang disampaikan melalui Irman membuat Mandalamekar mendapatkan hadiah berupa USD 10 ribu. Dana ini digunakan untuk memperbaiki kantor desa dan membangun gedung serba guna di belakangnya. Berikut ini video tentang penganugerahan Seacology Prize 2011 kepada Irman Meilandi.
Media komunikasi yang dibangun pun bukan hanya radio saja. Sejak pertengahan 2011 lalu, Desa Mandalamekar juga mempunyai situs web beralamat di mandalamekar.or.id. Situs ini berisi informasi seputar desa Mandalamekar. Hebatnya, situs ini diperbaharui secara rutin, maksimal seminggu sekali. Padahal, untuk mengakses internet di Mandalamekar harus dari tengah sawah. Meskipun begitu, keadaan ini tidak menyurutkan pengelola situs Mandalamekar.or.id untuk memperbaharui situsnya dan mengabarkan ke dunia luas.
Situs web sendiri berfungsi sebagai penghubung antara masyarakat Mandalamekar yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dengan kampung halamannya. Diharapkan, setelah mereka tahu keadaan desanya kini, masyarakat perantauan Mandalamekar mau kembali ke kampungnya untuk membangun desa.
Irman sendiri menilai usaha yang dilakukan Yana Noviadi dan Mitra Alam Munggaran adalah membangun hutan. Pasalnya, awalnya mereka benar-benar menanam di lahan kosong beralang-alang dan tanpa pohon. Bibit-bibit pohon yang mereka tanam inilah yang kemudian besar menjadi pohon dan disebut hutan. Sebuah hutan yang kita dan dunia butuhkan.***
Menengok Budaya Membaca Buku di Amerika
Budaya literasi di dunia barat, khususnya Amerika, bisa dikatakan lebih baik dari Indonesia saat ini. Dalam satu tahun, rata-rata warga Amerika berusia 18 tahun ke atas menghabiskan 11 – 20 buku dalam setahun. Bahkan, 25 persen warga Negeri Paman Sam menghabiskan lebih dari 21 buku setahun.
Budaya baca yang tinggi ini memang saya lihat ketika melakukan perjalanan ke Amerika pada Januari dan Februari 2013 lalu. Setibanya di Kota Washington DC, saya berkesempatan mengunjungi beberapa toko buku di kota tersebut. Dua di antaranya adalah Book A Million dan Barnes and Noble.
Masing-masing toko buku ini merancang ruang bacanya senyaman mungkin. Lantainya dilapisi dengan karpet empuk, suhu ruangan diatur agar selalu hangat, dan ruang baca pun dibuat cukup luas. Kenyamanan ini membuat orang betah berlama-lama di toko buku.
Mereka yang berkunjung ke sini pun tidak harus membeli buku. Seringkali mereka mampir hanya untuk membaca buku saja. Mereka bebas memilih buku dan membacanya di lantai yang seempuk kasur. Bahkan, bila ada yang hendak menyalinnya, toko buku ini membebaskannya.
Saya beberapa kali memergoki orang-orang yang tengah menuliskan sebagian isi buku yang mereka baca ke notebook mereka, tanpa membelinya. Ketika beberapa pramusaji lewat dan melihatnya pun, pengunjung ini tidak ditegur. Dengan kata lain, hal ini legal dilakukan.
Buku-buku yang dijual di sini pun umumnya terbuka dan tidak dibungkus oleh plastik sedikit. Sehingga pengunjung bisa bebas membacanya.
Ketika saya berada di Kansas City, Missouri, saya mendapatkan orang tua asuh. Ketika sarapan pagi di pusat perkotaan, salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah toko buku. Di sana, kami menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku yang dipajang dan majalah-majalah terbaru. Kami melakukannya bukan hanya 10 atau 20 menit, tetapi hingga satu jam. Menurut saya, untuk aktivitas yang diniatkan untuk “singgah”, waktu tersebut cukup lama.
Di Amerika, toko buku tidak hanya sebatas tempat untuk menjual buku. Di sini juga tersedia kafe kecil semacam Starbuck. Setelah menemukan buku yang menarik, sebagian dari mereka menikmatinya sambil minum kopi atau memakan kue kering.
Untuk ukuran Amerika, harga di Starbuck cukup murah. Mirip seperti warung kopi di Indonesia. Bila untuk makan dengan porsi standar dan sederhana di Amerika membutuhkan uang sekitar $10, harga makanan di Starbuck umumnya hanya $2. Sangat kecil untuk ukuran orang Amerika.
Dan yang paling membuat saya terkesan adalah cara toko buku melayani pengunjungnya. Sangat ramah. Mereka berbicara dengan sopan dan senyuman. Ketika menanyakan buku yang dicari, mereka berusaha untuk memberikan informasi yang saya butuhkan dengan lengkap.
Apabila stok buku di lokasinya sedang kosong, mereka dengan senang hati menawarkan untuk memesankannya ke toko buku di jaringannya. Pengunjung hanya perlu meninggalkan nomor ponsel atau teleponnya. Pihak toko akan menghubunginya bila buku yang dipesan tiba.
Meskipun ramah, jangan sekali-kali menyela mereka ketika sedang melayani pengunjung. Pada dasarnya, para pramusaji ini melayani pengunjung seorang demi seorang, dan hal ini sangat ketat sekali. Sang pramusaji tidak segan-segan memperingatkan bahwa dirinya tengah sibuk dan belum bisa melayani pengunjung lainnya. “Saya sedang melayani pengunjung, silahkan menunggu hingga saya selesai,” begitulah biasanya mereka memperingatkan.
Pun ketika saya sedang dilayani dan ada pengunjung lainnya yang hendak bertanya, sang pramusaji pun menyuruh sang pengunjung setelah saya untuk menunggu sebentar. Ketika mendapatkan peringatan untuk menunggu pun, pengunjung bukannya marah, tetapi meminta maaf kemudian menunggu.
Untuk harga buku, saya kira di Amerika cukup murah bagi warga negaranya. Untuk buku dengan ksetebalan hingga 200 lembar, harganya berkisar $15 hingga $40. Bila sekali makan standar dan sederhana di Amerika menghabiskan $10, berarti harga buku di Amerika sekitar 2 hingga 4 kali lipat harga makanan.
Harga buku juga tergantung dari topik dan jenis bukunya. Untuk buku non-fiksi, biasanya lebih malah daripada buku fiksi. Sedangkan untuk topik-topik yang semakin teknis dan detail, harganya juga lebih mahal dibandingkan buku-buku umum dan populer.
Belum lagi bila bukunya berbentuk elektronik. Biasanya harganya bisa lebih murah 50-80 persen dari harga buku berbentuk fisiknya. Tak heran bila budaya membaca buku di Amerika cukup tinggi. Selain tokonya nyaman, juga harga bukunya cukup murah bagi warga Amerika kebanyakan.
Meskipun haganya murah, tetapi kebanyakan kualitas buku tidak bisa dianggap sepele. Karena literasi dan menulis sudah menjadi budaya, tidak sulit bagi banyak orang untuk menulis dan membuat bukunya sendiri. Hal ini juga ditunjang dengan jumlah buku yang telah mereka baca. Tak heran bila akhirnya sebagian warga Amerika mumpuni untuk menulis buku yang bermutu.
Tingginya minat baca warga Amerika juga ditunjang perpustakaan di setiap kotanya. Ketika di Kansas City, Missouri, saya diajak mengunjungi perpustakaan kota tersebut. Sayangnya, saya mengunjungi di saat yang tidak tepat. Kami berkunjung ke perpustakaan pada hari Minggu pagi. Sedangkan perpustakaan baru buka setelah jam makan siang pada hari itu. Sehingga saya tidak sempat mencicipi perpustakaan di Amerika.
Namun, cerita dari seorang teman yang sudah tinggal lama di Amerika bisa memberikan sedikit gambaran.
Teman saya dan keluarganya tinggal di Amerika sejak kuliah S2 beberapa belas tahun silam. Salah satu aktivitas favorit mereka adalah berkunjung ke perpustakaan kotanya. Di tempat ini, anggota perpustakaan bisa meminjam buku sebanyak yang mereka mau. Dengan kata lain, tidak ada batasan jumlah buku yang bisa dipinjam.
Setiap berkunjung ke perpustakaan, teman saya dan keluarga bisa membawa belasan hingga puluhan buku. Biasanya, buku-buku ini habis mereka baca usai seminggu. Kemudian mereka akan kembali lagi ke perpustakaan dan meminjam belasan hingga puluhan buku lainnya. Aktivitas ini rutin mereka lakukan hingga belasan tahun lamanya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh banyak orang di Amerika. Mereka sudah berkunjung ke perpustakaan dan membudayakan membaca buku. Hasilnya, sebuah budaya yang membuat mereka menjadi bangsa yang mendominasi dunia.
Bagaimana dengan Indonesia?
Berdasarkan survei UNESCO, indeks membaca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, hanya 0,001. Artinya, hanya 1 dari seribu orang masyarakat Indonesia yang membaca buku. Kondisi ini salah satunya disinyalir akibat akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu masih sulit karena rendahnya tingkat ekonomi masyarakat.
Keadaan ini hendaknya jadi cerminan kita yang melek literasi untuk memperjuangkan akses buku untuk masyarakat. Kondisi di Amerika juga bisa menjadi rujukan dalam hal ini, tentunya dengan bentuk yang lebih Indonesiawi. Sebagai contoh, membangun perpustakaan yang nyaman dan membuat orang ingin selalu datang berkunjung. Atau bisa juga menyediakan cicilan buku dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat.
Apa pun itu, perbuatan kita menentukan kondisi bangsa ke depan. Hanya mengutuk dan mengeluh bukanlah solusi. Langkah kecil kita semua saat ini, mudah-mudahan menjadi besar dan berarti di masa yang akan datang. Yang seharusnya kita lakukan saat ini adalah memulai. Jangan tunggu esok, tapi mulai detik ini juga.***
Tulisan ini diterbitkan di buletin Warabuku Edisi IV April-Mei 2013.
Memulai Budaya Memilah Sampah di Rumah

Gambar: http://www.maidstone.gov.uk
Semenjak pindah ke rumah di Suka Asih, saya dan istri menerapkan konsep Rumah Tangga Ramah Lingkungan (RTRL). Kami mulai membudayakan pemilahan sampah yang kami hasilkan, lebih spesifiknya lagi sampah rumah tangga seperti plastik, kertas, dan sisa makanan. Sampah-sampah ini kami pisahkan menjadi 4 kelompok, yaitu: Plastik, Kertas, Organik, dan Buangan.
Termasuk ke dalam kelompok organik adalah sampah dapur sisa kami memasak, seperti potongan sayuran dan buah-buahan serta tulang-belulang. Sampah ini kemudian kami olah menjadi pupuk kompos. Caranya, sampah-sampah organik yang sudah terkumpul kami masukan ke dalam pot. Setelah 3/4 pot terisi sampah organik, barulah kami tutupi atasnya dengan tanah.
Agar tanah tersebut lebih bernilai-guna, biasanya biji buah-buahan dan sisa akar sayur-sayuran kami tebarkan di atasnya. Diharapkan, biji dan akar ini bisa tumbuh besar dan berbuah. Sehingga kami bisa menghemat pengeluaran untuk membeli buah dan sayur. Namun, penghematan ini belum terbukti lantaran biji-biji yang kami tanam baru saja bertunas dan belum satu pun yang tumbuh serta berbuah.
Mengapa menggunakan pot dan tidak langsung dikubur di dalam tanah saja? Alasannya kami menempati rumah kontrakan. Adapun semua lahan pekarangan di rumah kami saat ini ditutupi oleh semen dan paving block. Karena tidak diperkenankan untuk merubah satu sentimeter pun bangunan rumah ini oleh sang pemilik, jadilah kami menggunakan pot sebagai media untuk mengkompos sampah organik.
Biasanya, sampah organik ini kami taruh di pot pekarangan rumah sebelum mencapai kuota penguburan. Anehnya, setiap sore atau malam saat kami akan membuang sampah organik, pot ini sudah dalam keadaan terguling. Setelah kami amati dengan seksama, ternyata ada tamu yang memanfaatkan sisa makanan ini, yaitu: kelinci.
Yah, tetangga kami memiliki kelinci yang pada siang hari berjalan-jalan ke rumah tetangga. Kelinci ini kerap main ke pekarangan rumah kami. Tak hanya bermain, kelinci ini juga ikut buang air besar dan memakan sampah organik kami.
Melihat fenomena ini, akhirnya kami pun membagi lagi sampah organik yang kami hasilkan, yaitu: organik bersih dan organik kotor. Organik bersih adalah potongan sayur dan buah yang tidak terpakai dan belum tercemar zat lainnya. Sampah jenis ini kami sodorkan untuk makan kelinci. Hasilnya, mereka memakannya dan sebagian besarnya habis. Barulah bagian yang “tidak laku” ini kami masukan ke pot untuk selanjutnya diproses menjadi kompos.
Adapun kotoran kelinci yang tersebar di pekarangan, kami kumpulkan satu per satu. Kotoran-kotoran ini kemudian kami masukan juga ke dalam pot sebagai komposisi kompos. Karena kabarnya kotoran kelinci baik untuk tanah dan membawa gizi yang cukup baik bagi tanaman. Sehingga diharapkan tanaman bisa lebih cepat tumbuh dan sehat.
Sayangnya, saya dan istri tidak sepakat untuk memelihara kelinci saat ini. Pasalnya, bulu kelinci kurang baik bagi pernafasan manusia, khususnya anak. Selain itu, ruang terbuka hijau kami juga kurang luas sehingga dikhawatirkan tidak mampu mereduksi dampak negatif keberadaan kelinci. Dua hal inilah yang membuat kami belum sepakat untuk memelihara kelinci.
Sedangkan sampah organik kotor adalah sampah organik yang sudah tercemar zat lain atau sudah membusuk. Misalnya saja nasi basi, sayur basi, sisa penggorengan, dan sisa sayuran yang membusuk di tempat cuci piring. Sampah jenis ini langsung kami masukan ke dalam pot. Biasanya, mereka yang berminat pada sampah jenis ini adalah semut. Kami bahagia saja melihatnya. Selain mereka menjadi sehat, juga sebagiannya jadi tak berminat masuk dapur karena makanan sudah tersedia di dekat rumahnya.
Sampah lainnya adalah sampah kertas dan plastik. Sesuai namanya, sampah ini terdiri dari barang-barang tak terpakai berupa kertas dan plastik. Bila ada barang yang terbuat dari kertas dan plastik, sebisa mungkin kami pisahkan. Misalnya saja Kertas Nasi. Barang ini merupakan kertas yang dilapisi oleh selapis tipis plastik. Umumnya, digunakan untuk membungkus makanan di Warteg atau makanan lokal di pasar-pasar perkotaan. Sebelum dibuang, sampah ini harus dipisahkan terlebih dahulu antara plastik dan kertasnya. Setelah itu, barulah dikelompokkan menurut bahannya.
Sampah kertas dan plastik kami kirimkan ke bandar pengumpul sampah. Sebagai gantinya, bandar akan memberi sejumlah uang berdasarkan jenis sampah dan beratnya. Selepas itu, mereka akan memilah sampah yang bisa didaur ulang untuk kemudian dikirimkan ke pabrik pencacah dan memprosesnya menjadi barang jadi, seperti kertas atau plastik kembali.
Meskipun begitu, tidak semua sampah kertas dan plastik bisa dimanfaatkan kembali. Ada beberapa jenis yang pastinya akan ditolak oleh bandar pengumpul sampah. Untuk jenis kertas, tisu tidak masuk hitungan. Sampah jenis ini tidak bisa didaur ulang. Untuk itu, pintar-pintarlah menggunakan handuk, lap tangan, atau sejenisnya untuk menyeka cairan atau kotoran. Pasalnya, kebiasaan ini bisa mengurangi penggunaan tisu.
Sedangkan untuk plastik, salah satu yang ditolak bandar adalah plastik kemasan makanan bersablon. Dengan kata lain, hanya plastik kemasan makanan bening saja yang diterima oleh bandar pengumpul sampah. Sedangkan untuk jenis plastik lainnya, seperti botol minuman mineral, botol sampo, ember, dan tutup botol, diterima dengan berbagai variasi harga dan berat.
Sampah kertas dan plastik ini jadi tanggung jawab istri saya. Pasalnya, dia sedang merintis bisnis Bank Sampah. Sehingga penting untuk dia mulai memahami jenis-jenis sampah kertas dan plastik yang bisa didaur ulang. Bila ada teman-teman yang memiliki sampah plastik dan kertas serta kebingungan memprosesnya, silahkan hubungi istri saya saja. Syarat dan ketentuan berlaku. Hehe.
Terakhir adalah sampah Buangan. Kami menyebutnya demikian karena sampah jenis ini benar-benar tidak bisa dipergunakan atau diolah lagi. Tujuan sampah buangan adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Umumnya sampah jenis ini adalah sampah plastik dan kertas yang tidak diterima bandar pengumpul sampah seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya. Kami mengumpulkan sampah jenis ini di tempat sampah untuk diangkut oleh petugas sampah.
Dari aktivitas memilah sampah ini, saya perhatikan lebih dari setengah sampah yang kami hasilkan mampu dimanfaatkan kembali. Dengan kata lain, kami bisa mengurangi beban sampah di TPA. Bayangkan bila aktivitas memilah sampah ini dilakukan oleh warga Bandung. Berapa banyak sampah yang bisa dimanfaatkan kembali? Berapa besar perputaran ekonomi di kota Bandung hanya dari sampah saja? Berapa besar nilai ekologi dari sampah organik yang kembali ditanam atau dikubur?
Meskipun begitu, nilai ekonomi sampah bukan pembenaran untuk menghasilkan lebih banyak sampah. Setelah tahap ini berjalan dengan baik, tahap selanjutnya adalah mengurangi produksi sampah rumah tangga, khususnya sampah kertas dan plastik serta sampah buangan.
Bagaimana dengan teman-teman? Punya pengalaman juga dalam mengelola sampah di rumahnya? Silahkan berbagi di komentar tulisan ini.***
Ketika Google Akan Menutup Reader …
Pekan lalu, Google mengumumkan rencana yang terbilang mengejutkan. Dalam blog resminya, perusahaan mesin pencari tersebut akan menutup layanan Google Reader pada 1 Juli 2013 mendatang. Padahal, layanan ini termasuk aplikasi pembaca RSS (RSS Reader) paling populer di internet saat ini.
Google sendiri menyampaikan 2 alasan sederhana yang melatarbelakangi keputusan ini. Pertama, penggunaan Google Reader yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Sedangkan alasan kedua, Google sebagai perusahaan perlu mengalirkan energinya untuk mengembangkan produk yang lebih sedikit. “Kami pikir fokus seperti ini bisa membuat pengalaman pengguna menjadi lebih baik lagi,” ungkap Alan Green, software engineer yang mewakili Google.
Sontak saja, keputusan ini mengundang banyak komentar sekaligus ungkapan kekecewaan terhadap perusahaan mesin pencari terbesar di dunia tersebut. “Bila Google Reader mati, saya tidak akan mempercayai lagi Google,” komentar William Liu bernada mengancam di halaman petisi Keepgooglereader.com. Mashable sendiri memilih 2 komentar paling atas terkait keputusan Google ini. “Ini terasa seperti saya kehilangan seorang teman yang setia,” ungkap Kasemtanakul, salah satu komentator yang dipilih Mashable.
RSS sendiri merupakan kepanjangan dari Real Simple Syndication. Teknologi ini berfungsi untuk mengunduh konten dari berbagai situs web yang alamatnya telah dimasukan sebelumnya oleh pengguna. Umumnya, tidak semua konten ditampilkan. Hal ini sesuai dengan kebijakan pengelola situs web masing-masing. Untuk situs berita, biasanya hanya menyediakan paragraf pertama berita. Bila ingin mengetahui berita selengkapnya, pengguna harus masuk ke situs web berita tersebut. Meskipun begitu, cara ini sangat memudahkan penggunanya untuk membaca banyak konten baru dari banyak situs web.
Meskipun begitu, para pecinta Google Reader ini tidak hanya tinggal diam. Mereka mencoba meyakinkan pihak Google untuk mempertahankan produk Google Reader. Salah satunya dengan membuat petisi di halaman Keepgooglereader.com dan Change.org. Bahkan, mereka juga mengirimkan petisi ke Gedung Putih.
Pada halaman Keepgooglereader.com, terkumpul lebih dari 34 ribu tanda tangan. Sedangkan pada Change.org sudah terkumpul 126 ribu lebih tanda tangan. Di situs ini, peningkatan jumlah pendukung petisi tersebut cukup masif. Pada 15 Maret 2013, dalam waktu kurang dari satu hari, petisi untuk menyelamatkan Google Reader ini sudah mencapai 100 ribu orang. Situs ini sendiri membutuhkan sedikitnya 150 ribu tanda tangan. Itu berarti, butuh sekitar 23 ribu lebih tanda tangan lagi sebelum dikirimkan ke pihak Google.
Sedangkan petisi yang dialamatkan ke Gedung Putih kandas begitu saja. Pihak Gedung Putih menghapus petisi tersebut dengan alasan melanggar ketentuan partisipasi petisi mereka. Pasalnya, petisi tersebut mengandung “iklan atau panggilan untuk mendukung atau membeli barang atau jasa komersial” dan “petisi tersebut tidak dialamatkan kepada pemerintah Federal sekarang, atau kebijakannya, atau aksi potensialnya”.
Google Reader sendiri merupakan aplikasi pembaca RSS yang dibangun Google pada awal 2005 silam. Aplikasi ini banyak disukai pengguna lantaran mampu menyajikan konten terbaru dari ratusan situs web tanpa mengunjunginya. “Google Reader mampu memecahkan ketidak-efisiensian dalam mengunjungi ratusan situs web,” tulis Michael Surtees, perancang produk di kota New York, di halaman Mashable.com.
Bahkan, Surtees dengan berani menyebutkan bahwa aplikasi Pembaca RSS lainnya tidak akan mampu mengisi kekosongan Google Reader. “Aplikasi RSS lainnya tidak akan mampu berkembang, dan saya ragu aplikasi tersebut tidak akan lebih baik (dari Google Reader),” selorohnya.
Pengguna Google Reader sendiri umumnya adalah orang-orang yang kerap memperhatikan banyak berita dalam kurun waktu tertentu, seperti jurnalis atau orang yang selalu ingin bersentuhan dengan dunia melalui berita. Khusus jurnalis, “Google Reader merupakan bagian dari alur kerja kami,” ungkap Christina Warren, jurnalis Mashable.
Selain berdampak pada pengguna, Christina juga menyebutkan bahwa penghentian layanan Google Reader akan berdampak pada lusinan aplikasi pihak ketiga (third-party apps). Pasalnya, mereka menggunakan Google Reader untuk berlangganan dan sinkronisasi informasi. Aplikasi-aplikasi tersebut antara lain Feed Demon, Net News Wire, Reeder, dan Pulp.
Melalui aplikasi ini juga, Google Reader bisa disinkronisasi melalui API ke perangkat bergerak seperti Android, iPhone, BlackBerry, dan ponsel cerdas lainnya. Meskipun tampilannya tidak sama dengan tampilan Google Reader di situs web, tetapi aplikasi ini membantu pengguna Google Reader tetap terkoneksi dengan berita yang telah mereka susun di Google Reader.
Aplikasi third-party sendiri menuai banyak keuntungan dari keberadaan Google Reader yang disediakan secara cuma-cuma ini. Salah satunya adalah keberadaan server. Mereka tidak perlu memiliki server karena semua informasi yang dibutuhkan pengguna diambil dari Google Reader. “Memelihara server (untuk kebutuhan Pembaca RSS) tidaklah murah,” tulis Mashable. Dan tampaknya inilah salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh pihak aplikasi third-party selepas hilangnya Google Reader kelak. Meskipun begitu, saya pribadi belum menemukan keterangan dari pihak aplikasi third-party ini terkait rencanan penutupan Google Reader.
Saya sendiri merupakan pengguna Google Reader sejak sekitar 2009 silam. Sama seperti yang dipaparkan di atas, saya menggunakan Google Reader untuk berlangganan pembaruan terbaru dari berbagai situs berita dan blog yang saya butuhkan dan saya suka.
Bila melihat tampilannya secara sekilas, Google Reader tampak sama secara layout dengan aplikasi Pembaca RSS lainnya. Perbedaannya, terletak pada fitur yang ditawarkan.
Aplikasi Pembaca RSS sendiri ada 2 jenis. Pertama yang dipasang di server. Untuk membacanya, pengguna tinggal masuk ke situs yang dimaksud. Sedangkan jenis kedua yang dipasang di perangkat komputer, notebook, atau gadget kita. Ini pun terdiri dari 2 jenis pula. Jenis pertama yang melakukan sinkronisasi konten dengan Pembaca RSS di server, sedangkan jenis kedua yang menarik konten dari berbagai situs yang alamatnya sudah dimasukkan sebelumnya.
Google Reader sendiri termasuk pada jenis pertama, yaitu aplikasi Pembaca RSS yang terpasang di server. Tawaran yang menjadikannya menarik adalah layanan ini gratis tanpa dipungut biaya apa pun. Hal ini cukup berbeda dengan aplikasi serupa yang ditawarkan pihak lain. Selain harus memasang aplikasi Pembaca RSS di server secara mandiri, sebagian penggunanya juga harus membayar sejumlah uang.
Kelebihan lainnya, tersedia banyak aplikasi third-party yang memungkinkan Google Reader diakses melalui berbagai perangkat lainnya secara offline, seperti pada komputer, laptop, dan ponsel cerdas. Tentu saja ini memudahkan pengguna untuk selalu terkoneksi dengan konten-konten terbaru dari situs yang disukainya.
Aplikasi Pembaca RSS yang terpasang di perangkat pengguna oleh sebagian orang juga dinilai tidak efektif. Karena untuk memperbaharui konten terbaru, pengguna harus mengatur aplikasi tersebut untuk menyedot dalam jangka waktu tertentu. Semakin sering waktu pembaharuan kontennya, semakin perangkat kita terbebani dengan aplikasi tersebut. Belum lagi koneksi internet harus selalu tersedia setiap saat. Sehingga aplikasi ini juga berpotensi membebani koneksi internet.
Hal ini berbeda dengan Google Reader. Ketika seorang pengelola situs web mempublikasikan konten terbarunya, maka Google Reader akan langsung memunculkan notifikasi kepada penggunannya.Bahkan, bisa langsung tersedia di perangkat pengguna. Salah satu keuntungannya, kinerja perangkat dan koneksi internet pengguna lebih ringan. Fitur inilah yang tidak dimiliki oleh aplikasi Pembaca RSS yang mensyaratkan instalasi di perangkat pengguna.
Saya sendiri sangat menyayangkan hal ini. Meskipun Google menyediakan layanan untuk mengeskpor pengaturan akun pengguna, tetap saja dunia akan berbeda tanpa Google Reader. Satu hal yang pasti, saya pribadi menginginkan layanan ini tetap ada. Semoga Google bersedia untuk merubah pikirannya dan membuat Google Reader tetap hidup. Bila tidak, mungkin saya akan merindukannya.***
Hanya Sepenggal Kisah Hidup
Salah satu ketakutan saya ketika pulang dari Amerika adalah ketidakpastian aktivitas yang akan saya jalani. Bila di sana saya punya jadwal aktivitas yang jelas sekaligus tidak khawatir dengan uang saku. Namun, di sini, semua itu tidak terjadi. Jujur, saat ini saya tidak memiliki aktivitas sama sekali. Kasarnya, saya pengangguran. Benar-benar menganggur, seperti pengangguran lainnya: punya banyak waktu luang, tidak punya mesin penghasil uang, dan kerjaannya hanya mondar-mandir tak karuan.
Dan pangkal semua itu menurut saya adalah ketiadaan visi hidup saya sebagai manusia. Yah, visi hidup itu tertinggal di pekerjaan saya sebelumnya. Salahnya saya, menaruh semua visi hidup saya untuk pekerjaan sebelumnya dan pernah menisbahkan hidup saya untuk pekerjaan saya sebelumnya. Hasilnya, ketika tidak berada di sana lagi, saya hilang. I’m lost! Seperti orang yang hilang di tengah hutan tanpa tahu harus ke mana dia melangkah.
Bila kita punya visi hidup, kita bisa melakukan banyak hal dengan mudah. Namun, ketika kita kehilangannya, sesuatu yang mudah ketika kita memiliki visi hidup, merupakan sesuatu yang benar-benar sulit dilakukan. Meskipun sesuatu yang mudah itu hanyalah membalikkan tempe di penggorengan, tanpa visi hidup, membalikkan tempe di penggorengan adalah sesuatu yang sulit dilakukan.
Saya jadi tahu bagaimana perasaan Steve Jobs ketika dikeluarkan dari Apple pada 1985 lalu. Saya lihat, Steve Jobs merupakan sosok yang menaruh visi hidupnya di Apple Inc. Ketika dia terpaksa keluar dari perusahaan berlogo buah apel digigit tersebut, hidup Steve seolah-olah hancur. Dia berusaha membangun perusahaan komputer seperti Apple, tetapi tidak cukup berhasil.
Nama Steve kembali bersinar ketika secara halus dia mengkudeta Apple dan menjadi CEO perusahaan yang dibuatnya itu. Dia seolah-olah kembali menemukan kembali visi hidupnya. Ketika itu terjadi, dengan mudah Steve membuat berbagai terobosan teknologi di perusahaan tersebut. Hal inilah yang mengantarkan Apple dan dirinya ke puncak prestasi gemilang di era gaya hidup digital. Steve dinobatkan sebagai The Best Inventor in The World, dan Apple pernah menjadi perusahaan terbaik dengan nilai saham tertinggi beberapa waktu silam.
Saya tahu saya bukan Steve Jobs, dan saya tahu dia jauh lebih hebat dari saya. Saya hanya sedang menghibur diri, bahwa seorang Steve tidak akan pernah kembali menemukan visi hidupnya bila dia tidak berusaha untuk bangkit. Dan itulah yang kini sedang saya coba.
Beberapa minggu setelah pulang dari negeri Paman Sam, saya berusaha mengaudit kapabilitas saya sebagai pribadi, membangun visi hidup yang baru, dan merancang langkah-langkah konkret yang akan saya jalani selanjutnya.
Berkaitan dengan kapabilitas, tampaknya saya akan mengakhiri profesi sebagai jurnalis. Setidaknya, ada 3 alasan yang membuat saya memutuskan hal ini. Pertama, usia dan tingkat pendidikan saya tidak mencukupi untuk melamar menjadi jurnalis di media massa mana pun, setidaknya untuk media-media yang selaras dengan latar belakang ideologi jurnalisme yang saya anut. Kalau media-media lain yang kacangan banyak. Namun, bagi saya, malah menyiksa diri bila bekerja di media yang tidak sesuai dengan ideologi jurnalisme saya.
Alasan kedua, saya tidak cukup mumpuni bila harus membuat media dari awal. Karena, untuk membuat media, tidak hanya mengandalkan konsistensi konten, tetapi juga model bisnis yang tepat. Dalam hal ini, konsistensi konten mungkin saya mampu. Namun bila sudah harus berhadapan dengan model bisnis, saya angkat tangan. Dari dulu, saya paling tidak bisa “dagang”. Selalu tidak tega bila harus mensyaratkan sejumlah uang untuk mengerjakan sesuatu yang orang butuhkan. Bahkan, seringkali berakhir tidak baik. Sehingga saya memilih untuk menggratiskan saja jasa saya kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Dan alasan ketiga, belakangan saya baru sadar bahwa aktivitas saya selama ini cenderung menjurus ke bidang media literacy. Saya senang melatih orang membuat media, menjadi konsultan mereka, dan senang memperhatikan media. Meskipun bagi saya membuat media dan menjadi jurnalis memang mengasyikan, tetapi kesempatan yang tersedia menurut saya lebih cenderung ke arah aktivitas media literacy.
Untuk itulah, saya akhirnya memutuskan untuk mulai mendalami media literacy. Hal ini memang belum keputusan akhir. Saya masih menimbang-nimbang. Namun, sedikit demi sedikit saya mulai mengarahkan fokus saya ke bidang ini. Misalnya saja, memperbanyak memberikan pelatihan berkaitan dengan media literacy serta menambah bacaan saya tentang media literacy.
Saya pun saat ini mulai membangun visi hidup yang baru, yaitu: mensosialisasikan media literacy ke banyak orang sekaligus membangun kesadaran mereka untuk bermedia dengan tujuan pemberdayaan masyarakat. Sampai saat ini, tujuan hidup ini yang paling sreg dengan saya.
Dan agar tidak sampai kehilangan visi hidup lagi, saya berusaha memfokuskan visi hidup ini ke diri saya. Andaikan pun membuat lembaga, sebisa mungkin sepenuhnya di bawah kuasa saya. Sehingga kecil kemungkinannya untuk visi hidup saya tertinggal di lembaga tersebut. Bila tertinggal, biarlah tertinggal mati, dan bukan tertinggal karena saya terpaksa hengkang. Karena, kehilangan visi hidup itu seperti zombie: tidak mati, tetapi juga tidak hidup. Sangat menyiksa.
Selanjutnya adalah membangun langkah-langkah yang konkret. Sampai saat ini, ada 3 langkah konkret yang sedang dan akan saya lakukan. Pertama adalah membuat buku tentang langkah-langkah membangun citizen media. Karena, media literacy salah satu aspeknya adalah membangun media sendiri. Adapun untuk mengkaji dan membuat buku tentang media literacy, ilmu saya belum cukup sampai ke sana. Sehingga, saya memutuskan untuk mencicilnya dari aspek terkecil yang saya bisa, yaitu: membangun citizen media.
Buku ini dikerjakan oleh saya dan 3 orang rekan lainnya yang merupakan tim saya di pekerjaan sebelumnya. Mereka hengkang menyusul kehengkangan saya dari pekerjaan sebelumnya. Uniknya, saya dan dua orang lainnya di tim penulisan buku ini merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK). Seperti merasa ditunjukkan jalan oleh Tuhan bahwa fokus saya tidak jauh-jauh dari media, khususnya media baru. Setidaknya saat ini.
Langkah kedua, adalah membangun lembaga yang fokus terhadap kajian dan kampanye media literacy. Lembaga ini akan kami tentukan setelah buku tentang citizen media selesai ditulis. Karena, kami menilai bahwa buku adalah langkah awal yang baik untuk memulai sebuah lembaga. Buku adalah media sosialisasi dan pengenalan yang efektif, khususnya untuk mereka yang akan fokus terhadap suatu isu.
Terkait lembaga ini, kami merencanakan untuk membuat pelatihan citizen media untuk berbagai komunitas di berbagai lapisan masyarakat di berbagai daerah. Selain itu, kami juga merencanakan untuk mulai melakukan roadshow ke sekolah-sekolah perihal media literacy. Detailnya, tunggu saja pengumuman dari saya selanjutnya. Setidaknya, saya akan minta donasi ke teman-teman semua untuk menjalankan program-program lembaga saya yang baru. Hehe.
Sedangkan langkah ketiga, saya dan teman-teman juga akan membuat sebuah media yang tujuannya untuk portofolio lembaga sekaligus wadah riset dan pengembangan terkait media literacy. Karena media literacy mencakup banyak media, maka kami juga akan membuat beberapa media kunci yang terkait dengan bidang garapan kami.
Beberapa media yang akan kami buat adalah situs web, radio, dan televisi. Karena kami aktivis bermodal kecil-kecilan, semuanya akan kami buat berbasis internet. Sehingga mampu menghemat anggaran serta memperluas cakupan konsumennya.
Untuk situs web, saya belum tahu apakah media ini akan juga dibuat? Bila dibuat, genrenya seperti apa? Karena, untuk situs web, kami merasa sudah cukup memiliki pengalaman –meskipun sebenarnya masih sangat minim sekali. Namun, karena kami sudah pernah berhasil membimbing beberapa situs web, tampaknya portofolio serta penelitian dan pengembangan akan diarahkan ke situs web yang sudah ada saja.
Sedangkan untuk radio, tampaknya akan coba saya buat. Karena, beberapa teman eks-pengelola radio tempat saya bekerja dulu, akan berkumpul pekan ini untuk membahas terkait passion mereka di ranah penyiaran. Mereka mengungkapkan ingin membuat kembali radio dan mengelolanya seperti beberapa tahun silam. Melihat dan menganalisis sebuah radio digital di Bandung, tampaknya saya merasa mampu untuk membuat yang serupa. Hanya saja, butuh sekitar 5 juta Rupiah untuk modal awal peralatan. Semoga bisa. Mohon doanya, kawans.
Adapun untuk media berupa televisi, belum saya rencanakan waktu pembuatannya. Mungkin dalam jangka 1-2 tahun ke depan. Itu pun berbasis internet dengan mengandalkan YouTube. Doakan saja, semoga rezekinya ada.
Nah, untuk pendanaan, sebenarnya saya tidak punya ide terkait hal ini. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya sangat goblok sekali untuk urusan dagang. Namun, model bisnis yang memungkinkan adalah pendanaan melalui donasi. Selain itu, saya tidak punya ide lagi selain berharap bahwa Tuhan mau mengucurkan sejumlah uang yang cukup banyak untuk saya menjalankan visi hidup ini. Tidak realistis? Menurut saya, ini yang paling realistis: mengembalikan segalanya kepada Tuhan. Bila ini jalan hidup yang Dia gariskan, saya yakin Tuhan akan mencukupi kebutuhan saya.***


























