…Verba Volant, Scripta Manent

Trilogi Biografi Muhammad

with 6 comments


Buku tentang Muhammad karya 3 penulis besar tentang Islam (dari kiri ke kanan): Martin Lings, Karen Armstrong, dan Annemarie Schimmel

Buku tentang Muhammad karya 3 penulis besar tentang Islam (dari kiri ke kanan): Martin Lings, Karen Armstrong, dan Annemarie Schimmel

Berbicara tentang Muhammad, saya banyak mengenal beliau dari 3 buku favorit saya yang berkisah tentangnya. Ketiganya merupakan karya dari 3 penulis keagamaan yang diakui dunia. Ketiga buku itu adalah: Dan Muhammad Adalah Utusan Allah karya Annemarie Schimmel; Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings; dan Muhammad Prophet For Our Time karya Karen Armstrong.

Saya merasa ketiga buku tersebut memiliki kekuatannya masing-masing dan saling melengkapi. Buku karya Annemarie Schimmel menyajikan pembahasan berdasarkan tema-tema besar Muhammad yang ditelusuri dari sudut pandang tasawuf. Schimmel banyak menggali kitab-kitab para sufi besar yang berkisah tentang nabi terakhir umat manusia ini. Cocok bagi mereka yang ingin menelusuri hakikat kehidupan Muhammad.

Bagi saya, paparan Schimmel membangun sudut pandang baru terkait kehidupan Rasulullah. Misalnya saja tentang Isra Miraj. Ketika banyak orang saat ini berusaha menerangkannya dalam konteks sains modern, Schimmel justru membawa pembacanya mengenal mode keadaan ekstatik yang merupakan tradisi para mistikus.

Keadaan ekstatik merujuk pada keluarnya jiwa dari jasad yang melakukan perjalanan menembus ruang tanpa dipengaruhi waktu. Muhammad, ketika melakukan miraj, merasa menempuh perjalanan yang sangat lama. Padahal, ketika terbangun, Schimmel menuliskan, “Tempat tidurnya (Muhammad) masih hangat dan bahwa tempayan airnya, yang terjatuh ketika dia (Muhammad) dibawa pergi, sama sekali tidak bocor.”

Buku Schimmel sendiri terbit pertama kali dalam bahasa Inggris dengan judul And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety. Diterbitkan oleh The University of North Carolina Press, Chappel Hill and London pada 1985. Saya sendiri memiliki edisi bahasa Indonesianya yang diterbitkan oleh Mizan pada 1998. Saya membelinya pada 2010 lalu, ketika Lawang Buku mengobral buku bekasnya. Jujur, saya belum selesai membacanya sampai sekarang. Gaya bahasanya yang sangat akademis membuat saya harus berulang kali membacanya untuk memahami pesannya.

Annemarie Schimmel sendiri merupakan profesor di bidang Islam dan sufisme. Semasa hidupnya, Schimmel telah menelurkan 50 buku terkait Islam, mistisme, dan sufisme. Berkat kerjanya ini, pemerintah Pakistan menganugerahinya Bintang Agung Sitara-e-Imtiaz yang merupakan penghargaan tertinggi bagi warga negara dan Bulan Sabit Agung Hilal-e-Imtiaz.

Schimmel lahir di Erfurt Jerman pada 7 April 1922. Hingga wafatnya pada 25 Januari 2003, tidak ada yang mengetahui agama yang dianutnya. Bila pun ada yang bertanya, Schimmel umumnya mengelak dan memberikan pernyataan, semisal, hanya mereka yang tidak yakin apakah mereka muslim yang baik atau tidak yang benar-benar dapat menjadi muslim yang baik.

Buku Muhammad lainnya adalah karya Martin Lings. Diterbitkan pertama kali dengan judul Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources oleh The Islamic Text Society, Cambriedge, United Kingdom pada 1983. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Serambi sejak 2007 silam.

Buah tulis Lings ini disebut-sebut sebagai biografi nabi terbaik dalam bahasa Inggris pada Konferensi Sirah Nasional di Islamabad pada 1983. Tak heran bila buku ini laris dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Perancis, Belanda, Jerman, dan Italia. Bahkan, di Indonesia saja, ketika saya membeli buku ini, dalam kurun 2 tahun sudah mencetak ulang hingga 7 cetakan.

Kekuatan buku ini terletak pada narasinya. Lings berhasil menyedot pembacanya untuk ikut merasakan kehidupan Muhammad sejak lahir hingga wafatnya. Dia mampu memilih fakta-fakta yang membuat pembacanya kembali ke jazirah Arab saat Islam pertama kali hadir. Lings benar-benar mampu menghadirkan suasana zaman rasulullah ke kehidupan 14 abad setelahnya.

Bahkan, ketika selesai membaca buku ini, saya ikut merasakan kehilangan sosok sang nabi akhir zaman ini. Setelah membaca bab wafatnya Muhammad, saya merasakan kesedihan para sahabat, para istri, dan keluarga rasulullah. Dan salah satu yang membuat saya ikut kehilangan Muhammad pada bab terakhir adalah perkataan Umar, “Saat aku mendengar Abu Bakar membaca ayat itu (QS 3:144), aku begitu terkejut hingga tubuhku tersungkur ke tanah. Kedua kakiku tak mampu berdiri, dan aku tahu Rasulullah telah wafat.”

Martin Lings merupakan penulis asal Inggris yang banyak menulis kisah Islam dan sufisme. Lahir pada 24 Januari 1909 di Burnage, Manchester, Inggris, Lings mengawali fase persentuhannya dengan Islam ketika mengajar di Universitas Kairo, Mesir pada 1940. Tak lama kemudian, dia berpindah agama ke Islam dan mulai mendalami dimensi Sufi.

Pada 1952, Lings terusir dari Mesir karena gerakan anti Barat di negeri Firaun tersebut. Kemudian dia pindah ke London dan meneruskan pendidikannya hingga mencapai gelar Doktor dengan tesisnya mengenai Sufi Aljazair Ahmad al-Alawi. Tesisnya inilah yang kemudian mengantarkannya menelurkan buku paling berpengaruhnya A Sufi Saint Of The Twentieth Century.

Pada 1955, Lings bekerja di British Museum sebagai asisten penjaga buku dan manuskrip timur. Pekerjaannya ini membuatnya fokus pada ketertarikannya pada kaligrafi Alquran. Hingga dia menerbitkan buku dengan judul The Quranic Art of Calligraphy and Illumination pada 1976. Sejak saat itulah dia mulai rajin menulis. Hingga menelurkan biografi Muhammad pada 1983. Martin Lings wafat pada 12 Mei 2005.

Sedangkan buku ketiga tentang Muhammad yang saya punya adalah karya Karen Armstrong, sang profesor agama samawi. Bagi saya, buku Armstrong berusaha menghadirkan konteks sosial, politik, dan budaya pada zaman Rasulullah. Hal yang sangat jarang dihadirkan oleh kebanyakan buku sejarah para nabi. Dari paparan Armstrong ini, pembaca bisa mengetahui alasan dibalik setiap tindakan Muhammad, dimulai dari perang, hijrah ke Madinah, hijab untuk perempuan, hingga menikahi banyak wanita.

Armstrong sendiri menulis buku Muhammad pertama kali setelah munculnya novel Ayat-Ayat Setan karangan Salman Rusdie pada 1992. Saat itu, buku ini dimaksudkan untuk mengimbangi novel tersebut yang dinilai merendahkan Rasulullah.

Kemudian, Armstrong merevisi bukunya setelah peristiwa 911 di Amerika. Saat itu, penilaian masyarakat barat terhadap Islam sangat buruk. Bahkan, Islam dipandang sebagai agama yang barbar, menyukai perang, dan tidak berperi kemanusiaan. Buku ini, salah satunya hadir untuk menjembatani masyarakat barat terhadap sosok Muhammad yang dipaparkan Armstrong sebagai manusia suci, penuh kelembutan, dan pemimpin yang luar biasa.

Konteks inilah yang membuat saya akhirnya mengetahui tindak-tanduk Muhammad saat itu. Tindak-tanduk yang tentu bukan dilandasi oleh hawa nafsu, tetapi oleh tuntunan wahyu. Sehingga saya bisa terlepas dari prasangka dan pertanyaan seputar kehidupan Rasulullah SAW. Dan meneladaninya sebagai manusia yang paripurna dan hamba Allah yang paling dikasihi-Nya.

Karen Armstrong sendiri merupakan penulis asal Inggris yang terkenal dengan karyanya seputar Islam, Kristen, dan Yahudi serta Budha. Salah satu buku fenomenal wanita kelahiran 14 Nopember 1944 ini adalah Sejarah Tuhan yang menceritakan ihwal pencarian manusia akan penciptanya. Buku terakhirnya yang juga menuai banyak sanjungan dan pujian adalah Twelve Steps to a Compassionate Life. Buku ini menyampaikan tentang ajaran kasih-sayang yang hadir dalam 3 agama samawi.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah atasnya dan ucapkanlah keselamatan atasnya. [QS. 33:56]

Belajar dari Rotary Club Bandung

with 2 comments


Foto: arburyrotary.org.uk

Foto: arburyrotary.org.uk

Tak terasa, sudah 6 bulan saya membantu penerbitan majalah Rotary Club Bandung. Meskipun saya bukan Rotarian (julukan bagi anggota Rotary), tetapi saya banyak belajar dari organisasi kemanusiaan tersebut, khususnya tentang manajemen organisasi dan komunitas.

Rotary sendiri merupakan organisasi kemanusiaan yang didirikan oleh Paul Harris pada pada 23 Februari 1905 di Chicago, Amerika. Saat itu, Paul mendirikan Rotary sebagai klub profesional dan pebisnis untuk mempererat pertemanan dan persahabatan. Nama Rotary sendiri dipilih karena organisasi ini kerap melakukan pertemuan pekanan secara bergiliran di kantor anggotanya.

Selang setahun, ternyata Rotary banyak diminati oleh profesional dan pebisnis di Chicago. Pada saat bersamaan, Paul Harris merasa organisasinya ini perlu membangun tujuan yang lebih tinggi dari hanya sekedar organisasi perkumpulan semata. Hingga akhirnya pada 1907, mereka menginisiasi proyek layanan publik pertama dengan membangun toilet publik di Chicago. Langkah inilah yang akhirnya membuat Rotary merubah visinya dari sebuah perkumpulan profesional dan pebisnis biasa menjadi perkumpulan yang mampu melakukan layanan kemanusiaan. Sejak saat itu, Rotary Club pun mulai diminati oleh banyak orang di dunia, termasuk di Bandung, Indonesia.

Keterlibatan saya dengan Rotary Club Bandung sendiri dimulai pada Juni 2013 silam. Saat itu, pak Hemat Dwi Nuryanto mengajak saya untuk membantu penerbitan majalah Rotarian .bdg. Tawaran ini tentu saja saya terima dengan senang hati. Mengingat bidang saya adalah jurnalisme dan media. Ditambah lagi, saat itu saya sedang benar-benar menganggur. Sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya.

Ternyata, pelajaran yang saya dapatkan tidak hanya seputar jurnalisme dan media semata. Namun, saya juga belajar tentang manajemen organisasi dan komunitas yang sudah dikembangkan oleh Rotary Club Bandung. Setelah saya runut, setidaknya ada 3 pelajaran yang saya dapatkan dari Rotary.

Pertemuan Pekanan

Salah satu ciri khas yang paling menonjol dari Rotary adalah pertemuan pekanan. Setiap Rotary Club di seluruh dunia wajib menggelar pertemuan ini, dan setiap Rotarian harus menghadirinya. Bila seorang Rotarian berhalangan hadir, dia harus menggantikan ketidakhadirannya dengan mendatangi pertemuan Rotary Club lainnya. Atau bisa juga dengan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan Rotary Club.

Dalam setiap pertemuannya, umumnya Rotarian membahas tentang masalah keorganisasian dan proyek yang akan dilakukan. Untuk proyek, biasanya mereka membahas berkenaan dengan lokasi proyek, jenisnya, manajemen proyek, hingga pendanaan. Pembahasan ini benar-benar transparan dan sangat detail. Sehingga tujuan proyek bisa tercapai.

Kewajiban untuk bertemu setiap pekan ini, menurut saya, membuat setiap anggota Rotary memiliki ikatan yang kuat, baik dengan sesama Rotarian maupun terhadap organisasinya. Ikatan yang kuat ini pulalah yang membuat Rotary bisa menggelar banyak proyek kemanusiaan setiap tahunnya.

Padahal, Rotary ini organisasi yang anggotanya merupakan profesional dan pebisnis yang agendanya sangat padat setiap harinya. Bukan diisi oleh pengangguran atau mereka yang punya waktu luang sangat banyak. Sehingga bisa dibayangkan betapa kerasnya usaha mereka meluangkan waktu untuk hadir pada setiap pertemuan.

Bagi saya yang kerap aktif di komunitas, cara Rotary dalam membangun ikatan dengan anggotanya cocok untuk diterapkan. Pertemuan pekanan, walaupun seringkali membosankan, harus secara konsisten dilakukan dan dipertahankan. Meskipun hanya sebentar, sekitar 1 jam, cara ini bisa membangun keakraban antar anggotanya.

Saat ini, saya pribadi sedang membangun beberapa usaha. Karena belum memiliki kantor, saya dan teman-teman pun bekerja di rumah masing-masing. Untuk tetap menjaga tali koordinasi, saya memaksa untuk bertemu setiap pekan. Cara ini memang efektif untuk membangun perkembangan pekerjaan. Namun, seringkali harus kandas karena kesibukan masing-masing. Akhirnya, beberapa usaha saya mandek karena kegagalan mempertahankan konsisten bertemu setiap pekan ini.

Pemilihan Presiden Rotary Club

Setiap tahunnya, Rotary Club Bandung menggelar pemilihan Presiden Club. Uniknya, pemilihan presiden dilakukan 1,5 tahun sebelum presiden terpilih menjabat.

Masa bakti seorang Presiden Rotary Club sendiri dimulai pada Juli setiap tahunnya. Dia menjabat selama setahun hingga Juli tahun berikutnya. Adapun pemilihan Presiden Club dilakukan pada Desember setiap tahunnya.

Untuk Presiden Club yang terpilih pada Desember 2013, dipersiapkan untuk masa bakti 2015-2016. Presiden terpilih ini akan menyandang status sebagai Presiden Nominee hingga Juli 2014. Selanjutnya, antara Juli 2014 hingga Juli 2015, dia akan menyandang status President Elect. President Elect sendiri berfungsi sebagai wakil Presiden Club. Tugasnya mendampingi Presiden Club selama setahun dan menggantikan peran presiden bila berhalangan hadir. Baru pada Juli 2015 hingga Juli 2016, President Elect akan menyandang status sebagai Presiden Rotary Club.

Cara ini merupakan salah satu bentuk kaderisasi Presiden Rotary Club. Sehingga yang bersangkutan tidak akan kaget ketika masa baktinya sebagai Presiden tiba. Selain itu, cara ini membangun kesinambungan program antar Presiden Rotary Club. Sehingga visi dan misi organisasi bisa berjalan dengan baik dan dalam waktu yang cukup panjang.

Saya sendiri berencana menerapkan hal ini di Klab Citizen Journalist Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika (SMKAA) Bandung. Koordinator akan dipilih setahun sebelumnya. Sehingga yang bersangkutan bisa mendampingi koordinator aktif klab CJ SMKAA dan bisa mempersiapkan dirinya untuk setahun selanjutnya.

Siklus koordinator Klab CJ SMKAA sendiri saya pikir baiknya dimulai pada Mei setiap tahunnya. Hal ini menimbang puncak perayaan Konferensi Asia-Afrika yang jatuh pada 18-24 April setiap tahunnya. Sehingga koordinator Klab CJ SMKAA bisa mempersiapkan timnya untuk menghadapi puncak perayaan KAA pada April tahun depannya.

Bagi Sahabat MKAA, April merupakan bulan ujian sekaligus bulan unjuk gigi. Pasalnya, mata dunia umumnya menyorot perayaan konferensi kulit berwarna pertama di dunia tersebut. Sehingga penting bagi Sahabat MKAA menunjukkan yang terbaik untuk menyambut perayaan tersebut.

The 4 Way Test

Dalam menjalankan organisasinya, Rotary Club di seluruh dunia berpegang kepada prinsip The 4 Way Test. Prinsip ini terdiri dari 4 pertanyaan yang membantu seorang Rotarian dalam berkata dan melakukan sesuatu. Keempat pertanyaan ini adalah:

  • Is it the truth?
    Benarkah sesuatu itu?
  • Is it fair to all concerned?
    Adilkah bagi semua yang berkepentingan?
  • Will it build goodwill and beter friendships?
    Akankah membangun kebaikan dan persahabatan yang lebih baik?
  • Will it be beneficial to all concerned?
    Akankah bermanfaat bagi semua yang berkepentingan?

The 4 Way Test sendiri pertama kali dirumuskan oleh Herbert J Taylor, seorang Amerika dari Chicago. Awalnya, Herbert menggunakan prinsip ini untuk menyelamatkan perusahaan distribusi produk alumunium dari kebangkrutan pada 1930-an. Ternyata berhasil. Dengan prinsip ini, perusahaan tersebut mampu bertahan dari kebangkrutan.

Pada 1940, Herbert mengadopsi prinsip ini di Rotary Internasional. Saat itu, dirinya menjabat sebagai International Director of Rotary.

Selain ampuh digunakan untuk perusahaan, The Four Way Test juga bisa digunakan dalam keluarga untuk membangun saling pengertian antar anggotanya.

Saya pribadi mencoba menerapkan prinsip ini untuk bidang jurnalistik. Saat itu, saya menyebutnya sebagai The Four Way Test for Journalist. Prinsip ini tercetus ketika ada seorang peserta yang bertanya tentang cara meliput agar tidak keluar dari koridor jurnalisme yang baik dan positif. Dan hasilnya sebenarnya sama saja dengan The Four Way Test di atas, yaitu:

  • Is it the TRUTH?
  • Is it FAIR to all concerned?
  • Will it build GOODWILL and better FRIENDSHIPS?
  • Will it be BENEFECIAL to all concerned?

Saya sendiri masih mencoba untuk menerapkannya dalam organisasi media, terlebih lagi menyangkut kebijakan konten. Semoga saja bisa membantu meningkatkan mutu jurnalismenya menjadi lebih baik dan positif.***

Written by Yudha P Sunandar

Monday, 6 January 2014 at 07:47

Membangun Rumah Mandiri Energi

with 4 comments


Foto: gofrisky.com

Foto: gofrisky.com

Akhir-akhir ini pikiran saya sedang menerawang rumah ramah lingkungan yang ingin saya bangun. Sedang membayangkan hidup dengan energi terbarukan: biogas dari sampah rumah tangga, air yang dipompa menggunakan kincir angin, dan listrik dari pembangkit listrik tenaga uap. Sambil menerawang, sesekali saya mencari referensi teknologinya. Beruntung tersedia internet dan Wikipedia. Memungkinkan saya mulai merajut mimpi ini menjadi kenyataan. Minimal secara konsep terlebih dahulu.

Sebenarnya teknologi energi terbarukan bukan sesuatu yang baru. Sebagai contoh teknologi untuk memompa air menggunakan kincir angin. Teknologi ini sudah digunakan oleh negeri Belanda untuk mengeringkan lautan menjadi daratan sejak ratusan tahun yang lalu. Juga sampah yang mumpuni menghasilkan biogas untuk keperluan memasak. Banyak kota di banyak negara di dunia sudah melakukannya beberapa puluh tahun yang lalu.

Di Indonesia sendiri, biogas ini populer di masyarakat peternakan sapi. Pasalnya, kotoran sapi merupakan bahan yang cukup baik untuk menghasilkan biogas. Cara, kotoran sapi ditampung di sebuah tabung. Setelah beberapa hari, kotoran sapi ini menghasilkan biogas yang bisa digunakan untuk memasak. Setelah kotoran sapi sudah tidak produktif lagi menghasilkan gas, limbahnya pun bisa digunakan sebagai pupuk untuk tanaman.

Meskipun begitu, tidak semua orang memiliki sapi yang siap menghasilkan kotoran untuk suplai biogas, termasuk saya. Oleh karena itu, saya kepikiran untuk menghasilkan biogas dari sampah organik dan kotoran manusia. Bagaimana pun, kedua sampah ini paling dekat dengan manusia dan akan selalu dihasilkan setiap hari. Yang menjadi tantangan selanjutnya adalah jumlah pasokan sampah organik dan sampah manusia setiap harinya. Apakah mencukupi untuk menghasilkan biogas sesuai jumlah yang dibutuhkan?

Penggunaan kotoran manusia untuk menghasilkan biogas sendiri pernah saya lihat di pesantren Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Lamongan, Jawa Timur. Di sana, septic tank tempat pembuangan kotoran para santri dipasangi selang. Selang ini tersambung ke kompor yang tak jauh dari septic tank. “Biasanya para santri menggunakan gasnya untuk memasak air panas untuk mandi,” kisah Adhim, sang pengelola pesantren kepada saya. Meskipun begitu, pihaknya belum memanfaatkannya secara serius untuk keperluan yang lebih serius, seperti memasak.

Pemanfaatan septic tank sebagai sumber biogas sebenarnya bukanlah sesuatu yang sengaja direncanakan oleh Adhim dan pihak pesantren. Pemanfaatan ini terdesak oleh kebutuhan untuk mengosongkan septic tank yang relatif mahal di Lamongan. Setiap bulannya, pihak pesantren harus merogoh dana hingga 1,5 juta Rupiah untuk memanggil truk penyedot septic tank.

Beruntung akhirnya Adhim menemukan cara untuk mengosongkan septic tank dengan cara yang lebih murah dan bernilai guna. Septic tank dibuat menjadi lebih mudah dibuka. Kemudian isinya dibuat lebih bermanfaat. Selain sebagai sumber biogas, kotoran di dalam septic tank juga digunakan sebagai pupuk. Sehingga pesantren ini tidak hanya memiliki sumber biogas, tetapi juga pupuk untuk menyuburkan tanaman di sekitarnya.

Saya pribadi berencana menggunakan biogas untuk 2 hal: memasak dan menghasilkan listrik. Untuk memasak, tinggal mengalirkan selang ke kompor di dapur. Sedangkan untuk menghasilkan listrik, biogas disalurkan untuk memanaskan tangki air hingga menghasilkan uap panas. Uap panas ini kemudian dialirkan untuk menggerakan turbin uap. Putaran turbin uap inilah yang kemudian akan menghasilkan pasokan listrik untuk rumah saya nantinya.

Selain untuk menghasilkan uap panas, air panas di tangki air juga bisa digunakan untuk mandi. Sehingga saya tidak perlu lagi memasak air di kompor atau membeli pemanas air agar bisa mandi air hangat. Tinggal kucurkan air dari tangki air untuk suplai uap panas, dan saya pun segera bisa berendam air hangat.

Sedangkan untuk suplai air tanahnya memanfaatkan teknologi pompa air kincir angin. Pompa jenis ini umumnya digunakan di Amerika. Kincirnya sendiri terdiri dari 18 baling-baling. Kincir yang digerakan oleh angin kemudian menggerakan pompa air di bawahnya. Selama kincir berputar, air pun akan terus mengalir.

Keuntungannya, pompa air kincir angin jenis ini tidak membutuhkan angin kencang. Hanya membutuhkan angin berkecepatan 5-6,5 Kilometer per jam untuk mengalirkan air dari dalam tanah ke permukaan. Dengan kata lain, angin sepoi-sepoi pun masih mumpuni untuk menghasilkan pasokan air bagi manusia.

Bila angan-angan ini terwujud, saya sudah setahap lebih maju dalam membangun kedaulatan energi, setidaknya bagi rumah saya sendiri. Sehingga saya tidak perlu pusing bila lain waktu TDL dan harga LPG mengalami kenaikan. Syukur-syukur bisa memasok biogas dan listrik untuk tetangga. Sehingga tidak hanya berdaulat, tetapi juga mampu bermanfaat untuk orang lain. Semoga…***

Video Cara Kerja Biogas:

Video Cara Membuat Pompa Air Kincir Angin:

Kenangan Mewah

leave a comment »


Seorang wanita Jepang berjalan di antara puing-puing bangunan yang hancur diterjang tsunami Jepang 2011. (Foto: reutersmedia.net)

Salah satu kenangan yang mengesankan saat masih aktif sebagai jurnalis di Salman Media adalah ketika saya meliput Tsunami Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Sebenarnya, Salman Media tidak berhubungan langsung dengan peristiwa tersebut. Namun, keberadaan beberapa orang yang berkaitan dengan Salman ITB di lokasi kejadian, membuat peristiwa tersebut layak disampaikan ke audiens Salmanitb.com.

Tsunami Jepang 2011 sendiri terjadi akibat gempa yang berpusat di 70 Kilometer sebelah timur pantai Tohoku, Jepang. Gempa dengan kedalaman hanya 30 Kilometer dan berkekuatan 9 Skala Richter tersebut menghasilkan Tsunami dengan ketinggian 40 meter ketika menyentuh bibir pantai. Hasilnya, daerah Tohoku dan sekitarnya rata diterjang pasang laut tiba-tiba.

Saat itu, salah seorang teman saya kuliah di Tohoku University di Sendai, Jepang. Ajeng namanya. Sendai sendiri merupakan kota yang tak jauh dari Tohoku. Bandara Sendai dikabarkan turut terkena pasang tsunami dengan ketinggian 12 meter.

Usai peristiwa tersebut, mendadak Ajeng tidak bisa dihubungi. Banyak orang yang mengharapkan dan mendoakan kebaikan untuk teman saya tersebut di dinding Facebook-nya. Meskipun begitu, yang bersangkutan tidak juga membalas harapan dan doa-doa tersebut.

Kekhawatiran mulai timbul ketika beberapa media luar negeri merilis foto-foto dampak tsunami. Hampir seluruh gambar memperlihatkan daratan yang rata diterjang ombak. Mendadak, pikiran saya membayangkan teman saya yang tengah berjalan di antara puing-puing bangunan menuju tempat pengungsian. Bahkan, membayangkan yang terburuk.

Dilanda oleh kekhawatiran dan emosi massal, akhirnya saya bertekad untuk mencari tahu keberadaan dan keadaan Ajeng. Sebagai langkah pertama, saya mulai memantau informasi berkenaan dengan Tsunami Jepang di beberapa media Jepang, media internasional, dan media sosial. Tak lupa saya pun merilis berita di situs Salmanitb.com terkait kejadian ini.

Pengamatan saya ini membuahkan hasil. Ternyata, alumni Salman ITB di lokasi kejadian bukan Ajeng semata. Ada seorang lagi yang tengah menimba ilmu di kampus yang sama. Widya namanya. Informasi ini saya dapatkan dari mas Agung Wiyono, salah satu pengurus YPM Salman ITB. Kebetulan anaknya tengah kuliah di Yokohama, Jepang. Usai gempa melanda dan sebelum tsunami, Anak mas Agung ini sempat berhubungan dengan Widya melalui telepon seluler. Setelah tsunami melanda, anaknya mas Agung pun kehilangan kontak. Saya pun merilis berita kedua sembari berusaha menghubungi keduanya.

Menjelang jam 21 malam, sekitar 8 jam setelah tsunami melanda Jepang, saya berhasil menghubungi Widya melalui Yahoo Messenger. Saat itu, barulah saya lega karena berhasil menghubungi salah seorang dari alumni Salman ITB ini. Dari Widya, saya memperoleh kabar bahwa teman saya pun baik-baik saja. Kini keduanya dalam keadaan selamat, sehat, dan berada di pengungsian. Saya pun merilis berita ketiga.

Meskipun begitu, saya masih penasaran dengan keadaan Ajeng. Pasalnya, Ajeng dan Widya tidak berada di tempat pengungsian yang sama. Mereka terpisah beberapa Kilometer. Sehingga saya tidak bisa mengetahui kabar Ajeng secara langsung. Oleh karena itulah, saya masih berusaha untuk bisa menghubunginya.

Kali ini, saya mencoba mengakses informasi keberadaan keduanya dari situs Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Jepang. Dari situ, saya mendapatkan beberapa nomor kontak orang-orang Indonesia di tempat pengungsian di Sendai. Saya pun berusaha untuk menghubungi ponsel seseorang yang berada satu pengungsian dengan Ajeng. Meskipun begitu, ponsel tersebut sulit dihubungi.

Saya terus mencoba menghubungi nomor ponsel tersebut agar bisa berbincang-bincang dengan teman saya itu. Pagi, siang, sore, bahkan malam, saya berusaha mencoba menghubunginya. Namun tetap saja belum mampu tersambung. Barulah pada hari kedua ada nada sambung diikuti jawaban dari ujung sana. Dan saya pun berhasil berbincang-bincang dengan teman saya itu.

Dalam perbincangan sekitar 5 menit tersebut, Ajeng mengabarkan bahwa para pengungsi hidup tanpa listrik dengan persediaan makanan yang terbatas. Mendengar hal ini, pikiran saya pun membayangkan bahwa keadaan di sana benar-benar darurat. Sehingga saya pun makin bersemangat untuk mewartakan keberadaan kedua alumni Salman ITB tersebut. Kemudian berita keempat pun saya rilis.

Selang beberapa jam usai saya menghubungi Ajeng, Widya mengabarkan bahwa listrik sudah menyala. Kemudian dia pun mengirimkan foto-foto suasana malam Sendai paska tsunami kepada saya. Hasilnya, mengejutkan! Kota Sendai tempat Ajeng dan Widya berada masih berdiri kokoh. Fasilitas penerangan jalan terlihat baik-baik saja. Gedung-gedung dan jalanan tampak mulus dan tanpa retak. Mobil pun melaju dengan normal. Fakta lainnya yang lepas dari pengamatan saya: wilayah kedua alumni Salman ITB tersebut berada jauh sekali dari tsunami.

Seketika, saya langsung merasa malu pada diri sendiri. Ternyata, saya terlalu berlebihan membayangkan keadaan kedua alumni Salman ITB tersebut paska tsunami. Bahkan, ketika tiba di Indonesia dan bertemu dengan saya, Widya menyampaikan bahwa saya terlalu “lebay” mengisahkan dirinya dan Ajeng saat di Jepang. Saya pun hanya tersenyum sambil meringis lantaran menahan malu.

Meskipun Sendai tempat keduanya baik-baik saja, tetap saja mereka dievakuasi pulang ke tanah air malam itu juga. “Ini perintah presiden!” begitu saya dengar dari kedua kawan saya. Sehingga akhirnya mereka terpaksa harus pulang ke Indonesia sebelum terbang lagi ke Negeri Sakura beberapa pekan kemudian. Saya sendiri masih mewartakan keadaan keduanya dan pengungsi lainnya hingga kepulangan mereka ke tanah air. Hitung-hitung menuntaskan rangkaian liputan yang sudah saya mulai paska terdampak badai emosi massa.

Bagi saya pribadi, peristiwa tersebut masih menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakan. Saya benar-benar menikmati suasana menegangkan dalam mencari informasi lintas negara dan langsung dari sumbernya di lapangan. Memutar otak untuk bisa menghubungi ke Jepang, memantau pergerakan beberapa situs, dan mencoba menelepon sana-sini. Paduan adrenalin dan rasa penasaran yang meledak-ledak, membuat saya tidak bisa tidur beberapa hari saat itu. Lelah, tapi bahagia dan bersemangat.

Belum lagi, saya berlomba dengan banyak media massa di dunia untuk mengabarkan informasi dari Jepang. Bahkan, beberapa koran di Bandung, belum berhasil menghubungi salah seorang pun di Jepang beberapa hari setelah tsunami. Namun, alhamdulillah saya diizinkan untuk mampu melakukannya.

Dan ketika berhasil menghubungi keduanya, rasanya lega dan gembira. Seperti mencabut serat daging yang terselip di antara gigi atau menjawab soal yang rumit dan tak terpecahkan. Plong dan bahagia! Meskipun harus berakhir dengan cukup memilukan karena beritanya dinilai terlalu lebay, tetapi saya bersyukur pernah memiliki kenangan tersebut. Rasanya, kenangan tersebut sangat amat terasa mewah untuk saya yang bercita-cita menjadi jurnalis sebuah media mainstream, tetapi tidak pernah mampu mewujudkannya.***

Written by Yudha P Sunandar

Tuesday, 31 December 2013 at 06:38

6 Alasan Saya “Mencintai” MacBook

with 2 comments


Foto: matterart.wordpress.com

Bila ada yang meminta rekomendasi untuk membeli notebook, dengan sigap saya akan mengusulkan MacBook. Bagi saya, produk yang satu ini luar biasa. Meskipun harganya selangit, tetapi menurut saya patut diperjuangkan. Bisa jadi, benefitnya melebihi yang kita kira.

Setidaknya, ada 6 hal yang patut dipertimbangkan sebelum memboyong pulang produk besutan Apple inc, yaitu:

1. Nilai jualnya stabil

Kestabilan nilai jual ini, memungkinkan penggunanya melempar ke pasar barang second dengan harga yang cukup tinggi. Misalnya saja produk MacBook Air 13 inchi yang 4 tahun lalu harganya sekitar 9-10 juta Rupiah (US$1.000). Bila saat ini dilempar ke pasaran, kemungkinan masih ada yang berminat membelinya dengan harga 5-7 juta Rupiah. Tergantung kondisi barangnya.

Dengan kata lain, dalam 4 tahun, harganya hanya turun sekitar 4 juta Rupiah.Untuk membeli produk serupa pun, tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Saat ini, 1 US Dollar setara dengan 12 ribu Rupiah. Bila akan membeli produk MacBook Air seharga US$ 1.099, pembelinya harus merogoh kocek sekitar 14 juta Rupiah. Jika sebelumnya melepas MacBook Air dengan harga 5-7 juta Rupiah, berarti tinggal menambahkan sekitar 7-9 juta Rupiah. Kalau ingin lebih murah lagi, tinggal tunggu saja Rupiah menguat kembali terhadap Dollar.

Bandingkan dengan produk lain yang memiliki kisaran harga serupa. Setelah 4 tahun, mungkin harga jualnya lebih kecil dibandingkan produk Apple. Ketika harus membeli produk serupa, mungkin perlu mengeluarkan uang lebih banyak. Dengan kata lain, dengan fasilitasnya saat ini, MacBook sebenarnya masih lebih murah dibandingkan produk notebook lainnya dengan kisaran harga yang sama. Atau bahkan bisa lebih murah dibandingkan notebook dengan kisaran harga jual yang lebih murah?

2. Harga Perangkat Lunak yang Lebih Terjangkau

Dengan harga barunya yang mencapai 14 juta Rupiah, MacBook Air 13 inchi sudah memiliki sistem operasi dan berbagai aplikasi bawaan lainnya. Bahkan, untuk semua MacBook keluaran Oktober 2013 ini, sudah dilengkapi iWork, aplikasi perkantoran besutan Apple. Dengan kata lain, dengan biaya 14 juta Rupiah, MacBook Air sudah siap digunakan.

Bila pun harus membeli aplikasi perkantoran, harganya pun sangat terjangkau. Satu aplikasi perkantoran iWork harganya kurang dari 200 ribu Rupiah. Untuk 3 aplikasi, pengguna hanya perlu mengeluarkan uang kurang dari 600 ribu Rupiah. Harga ini, menurut saya, cukup terjangkau untuk kalangan masyarakat menengah ke atas di Indonesia.

Bandingkan dengan produk perkantoran dari sistem operasi berlambang jendela. Umumnya, notebook hanya baru terpasang sistem operasi tanpa aplikasi perkantoran. Bila ingin membeli aplikasi perkantoran yang resmi, biasanya mensyaratkan tambahan biaya sekitar 2-5 juta Rupiah. Tergantung paket aplikasi perkantoran yang diinginkan. Ujung-ujungnya, jatuhnya bisa lebih mahal dibandingkan MacBook, dalam hal ini MacBook Air 13 inchi.

Meskipun harga perangkat lunaknya lebih murah, tetapi kualitasnya tidak kalah berkualitas. Saya sendiri menggunakan Keynote, aplikasi perkantoran di Mac OS untuk membuat materi presentasi. Namun, perangkat lunak ini lebih dari aplikasi presentasi biasa. Banyak fitur-fitur yang justru memudahkan saya mengeksplorasi desain grafis sederhana. Hasilnya, luar biasa menyenangkan saya. Dan mungkin orang-orang di sekitar saya.

3. Sistem Operasi yang Handal

Ini juga yang menjadi pertimbangan saya untuk mencintai MacBook. Mac OS sendiri merupakan sistem operasi yang dikembangkan dari keluarga UNIX. Tak berlebihan bila Mac OS dimasukan dalam varian keluarga LINUX, setara dengan Debian, RedHat, dan Suse. Karena dikembangkan dari fondasi kekokohan UNIX, tak heran bila Mac OS juga memiliki kehandalan menyerupai keluarga LINUX lainnya.

Tak hanya itu saja. Mac OS juga aman dari virus komputer. Maklum, hampir 90 persen virus komputer memang hanya ada di komputer yang menggunakan sistem operasi jendela. Sehingga Mac OS dan varian LINUX lainnya relatif lebih kebal terhadap perangkat lunak yang bisa mengganggu kinerja komputer tersebut.

Persentuhan saya dengan LINUX dimulai sejak 2006 silam. Linux Ubuntu adalah Linux pertama yang berhasil menyita cinta saya pada sistem operasi komputer. Pasalnya, turunan Debian ini memiliki tampilan yang elegan serta kuat diajak bekerja dengan beban berat dan lama.

Tak hanya itu saja. Karena sebagian besar perangkat lunaknya bebas (free), membuat saya hobi mengulik segala aplikasi yang bisa dipasang di LINUX Ubuntu di komputer saya. Bahkan, hobi mengulik LINUX Ubuntu ini mengantarkan saya kepada aktivitas menulis di koran Pikiran Rakyat Bandung kala itu. Namun, persentuhan ini tidaklah langgeng. Lantaran himpitan ekonomi dan hawa nafsu, saya pun harus berpisah dengan LINUX Ubuntu dan komputer saya pada 2008 silam.

Meskipun saya pernah dimabuk cinta oleh Linux Ubuntu, bukan berarti Linux tidak memiliki kekurangan di mata saya. Salah satu hal yang membuat saya tidak puas dengan Linux adalah pengembangan aplikasi untuk keperluan praktis. Walaupun memiliki varian yang cukup banyak, tetapi jarang ada aplikasi untuk kebutuhan praktis yang memiliki fitur lengkap.

Maklum, Linux umumnya dipake dan dikembangkan oleh pemrogram dan penguasa (administrator) jaringan. Tak heran bila kebanyakan aplikasinya banyak yang condong ke arah pemrograman dan manajemen jaringan. Karena hal inilah, saya mulai melirik Mac OS. Karena, bagi saya, Mac OS merupakan sistem operasi yang mampu memadukan ketangguhan LINUX dengan kebutuhan awam akan aplikasi perkantoran dan aplikasi lainnya yang bersifat praktis.

Dan benar saja. Setelah saya mencobanya, Mac OS seperti menghilangkan dahaga saya akan LINUX yang ramah untuk non-pemrogram. Sejak itu, ada bagian hidup saya yang merasa lengkap dan bahagia. Tidak perlu berkubang dengan rumitnya “dunia hitam” LINUX. Juga tidak perlu berkeluh dengan ringkihnya jendela.

4. Keterpaduan yang Paripurna

Inilah yang saya kagumi dari Steve Jobs: visinya untuk mewujudkan komputer yang terintegrasi antara perangkat lunak dan perangkat kerasnya. Karena integrasi inilah yang membuat pengguna bisa langsung memakainya tanpa harus merasa ribet memasang aplikasi tambahan.

Saya pribadi, salah satu orang yang merasa malas harus berhadapan dengan perangkat keras yang tidak serasi dengan perangkat lunaknya. Sehingga kinerja komputer pun seringkali tidak optimal. Keribetan ini tidak hanya terjadi pada perangkat yang sudah terpasang Windows terlebih dahulu. Juga terjadi ketika menggunakan LINUX.

Keribetan inilah yang mungkin tidak akan pernah terjadi pada MacBook dan Mac OS. Pasalnya, perangkat keras dan perangkat lunaknya dirancang dan dibangun oleh perusahaan yang sama: Apple. Sehingga akan lebih serasi berjalan. Kinerja perangkat keras pun bisa lebih optimal dibandingkan perangkat keras lain dengan sistem operasi yang kurang serasi.

Oleh karena itu, semoga tidak berlebihan bila produk besutan Apple, dalam hal ini MacBook, memiliki keterpaduan yang paripurna. Keterpaduan yang membuat orang nyaman untuk menggunakannya. Sehingga bisa menggunakannya mulai dari awal memiliki hingga memiliki perangkat baru tanpa kesulitan yang berarti.

5. Kualitas Produk yang Tinggi

Bertautan dengan pertimbangan pertama, Steve Jobs melalui Apple berhasil merancang perangkat berkualitas di atas rata-rata notebook di kelasnya. Salah satu yang kentara dan terasa adalah ketahanan baterainya. MacBook Air 13 inchi terbaru saja diklaim memiliki ketahanan 12 jam bila digunakan untuk berselancar di internet.

MacBook Air saya sendiri memiliki ketahanan hingga 10 jam ketika awal-awal berada di tangan saya. Setelah 1,5 tahun berjalan, baterainya masih kuat menghidupi MacBook Air saya hingga 7 jam lamanya kini. Durasi yang masih cukup baik untuk MacBook seusianya.

Bahan yang dipilih untuk membuat MacBook pun terbilang cukup berkualitas. Tengoklah layarnya yang masih bening, papan ketiknya yang masih kokoh, suaranya yang masih jernih, dan trackpad-nya yang masih gemilang. Belum lagi dengan pembungkusnya yang terbuat dari alumunium. Membuat MacBook Air 13 inchi saya masih terlihat kokoh dan perkasa. Belum lagi dengan lekukan desainnya. Membuat MacBook tidak hanya sebagai perangkat kerja, tetapi sebagai barang seni.

6. Tidak Mainstream

Terdengar aneh, tapi inilah kenyataannya. Saya menyukai menggunakan MacBook karena produk ini cenderung anti-mainstream. Saya pribadi memang orangnya cenderung anti-mainstream.

Sebagai contoh, pada saat banyak orang membaca dan memuja novel Laskar Pelangi, saya justru menjauhinya dan mengubur dalam-dalam rasa kepenasaranan saya terhadap buku yang satu itu. Alasannya satu: terlalu mainstream. Juga ketika banyak orang asik mendengarkan lagu-lagu yang populer kini, saya masih setia dengan lagu-lagu Pidi Baiq dan The Panas Dalam. Alasannya juga sama: terlalu mainstream.

Karena alasan inilah, teman saya kemudian bertanya, “Apa yang kamu lakukan bila pengguna MacBook akhirnya menjadi mainstream?” Dengan seenak jidatnya saya jawab kalau masalah itu nanti saja dipikirkan, ketika pengguna MacBook sudah menjadi mainstream. Sekarang, yang nikmati aja ke-anti-mainstream-an saya.***

Written by Yudha P Sunandar

Monday, 9 December 2013 at 08:19

Menulis Menggunakan Ponsel Cerdas, Mengapa Tidak?


Foto: crackberry.com

Saya tiba-tiba mendadak kagum dengan salah satu teman saya yang wartawan. Bukan karena dia wanita, tapi karena dia mampu menulis feature di ponsel cerdas (smartphone) miliknya. Saya kira, seharusnya Anda juga kagum dengan hal tersebut. Pasalnya, jangankan menulis feature, menulis straight news di ponsel cerdas saja bukan perkara mudah.

Berkaitan dengan hal ini, seorang teman yang mantan wartawan surat kabar bertema ekonomi di Bandung pernah berbagi cerita perihal masalah yang dihadapinya ketika menulis menggunakan ponsel cerdas. Dulu, ketika dia menjabat sebagai asisten redaktur, dia menugaskan anak buahnya untuk menuliskan liputannya di ponsel cerdas. Tujuannya satu: supaya liputan dari lapangan bisa dikirimkan sesegera mungkin sehingga bisa mengisi situs web medianya sesegera mungkin.

Namun, beberapa waktu kemudian, keputusan tersebut ditarik kembali. Ternyata, kualitas tulisan yang dibuat menggunakan ponsel cerdas lebih rendah dibandingkan tulisan yang dibuat menggunakan komputer dengan layar yang jauh lebih luas. Sehingga dia menganulir kebijakan tersebut dan mensyaratkan jajarannya untuk membawa laptop ketika meliput ke lapangan.

Kecilnya layar ponsel cerdas menjadi tantangan tersendiri bagi penulis yang hendak memindahkan aktivitasnya ke perangkat yang lebih mungil. Umumnya, para penulis merasa pandangannya terbatas sehingga tidak bisa melihat tulisan lebih luas dan menyeluruh. Hal ini berbeda dengan bekerja menggunakan komputer. Pandangan penulis yang lebih luas memungkinkannya membangun struktur tulisan dengan lebih baik.

Meskipun begitu, sulitnya menulis di ponsel cerdas ini tampaknya tidak berlaku bagi teman saya yang wartawati. Nyatanya, dia masih mampu mengguratkan hasil liputan dan pemikirannya di layar ponsel cerdas yang kecil.

Kebiasaannya ini lahir bukan tanpa sebab. Pasalnya, sang anak yang mulai bisa berdiri dan meraih barang-barang di atas meja, mulai bisa meraih laptopnya dan memainkannya. Sehingga teman saya ini kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Puncaknya terjadi ketika laptopnya rusak akibat dimainkan sang anak. Sehingga dengan terpaksa dia menggunakan ponsel cerdas untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Keputusan ini ternyata tepat baginya. Alih-alih menyulitkan, ponsel cerdas justru membantu dirinya berperan sebagai seorang ibu sekaligus wartawan yang baik. Sambil menyelesaikan reportaseny di ponsel cerdas, dia masih bisa bermain-main dengan anaknya. Ketika anaknya butuh penanganan yang lebih intensif, dia bisa menunda pekerjaannya terlebih dahulu dan menyimpan ponsel cerdasnya di tempat yang jauh dari jangkauan sang anak. Setelah tulisan selesai, tinggal kirim ke redaktur, dan dia pun kembali bermain bersama anaknya. Pekerjaan tuntas, anak pun puas.

Melihat kesuksesan teman saya ini, saya pun mulai mencobanya. Hasilnya adalah tulisan berjudul, “Buruh Jadi Wirausahawan, Kapan?” Tulisan ini saya posting tepat sebelum tulisan ini. Untuk melihatnya, silahkan klik “Previous Post” di bawah tulisan ini.

Menariknya, tulisan tersebut tidak ditulis ketika saya sedang berada di rumah, di kasur yang empuk pada tengah malam yang hening. Tulisan tersebut justru ditulis ketika saya berada di tengah hingar-bingarnya Kota Bandung, saat menunggu orang, berpergian dengan angkot, dan ketika berjalan dari gerbang perumahan menuju pintu rumah. Dengan kata lain, saya bisa menumpahkan buah pikiran saya di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi bagaimana pun. Cara seperti menulis ini, tampaknya bisa memaksimalkan waktu “idle” saya menjadi waktu produktif.

Cara seperti ini juga efektif untuk menampung ide-ide yang kerap hinggap di kepala saya pada waktu yang yang tidak tepat. Misalnya saja ketika sedang dalam perjalanan di angkot. Tentunya agak menyulitkan saya bila harus membuka MacBook atau kertas dan menuliskan ide-ide saya. Namun, dengan menggunakan ponsel cerdas yang selalu saya genggam, tinggal mengetikkan runtutan ide tersebut, dan menyimpannya di perangkat atau awan.

Bila ide-ide ini tidak segera diwadahi, tak jarang akan menguap dan menghilang. Padahal, dari ide-ide ini, seringkali saya berhasil menelurkan tulisan-tulisan yang menarik dan disukai orang-orang. Ide ini juga kerap muncul bersama dengan gairah menuliskannya. Bila ditunda, tak jarang gairah ini redup. Bila dipaksakan untuk tetap menuangkannya, tak jarang pula tulisannya cenderung hambar dan kosong. Tidak sehidup tulisan dengan ide dan gairah yang segar.

Meskipun begitu, menulis menggunakan ponsel cerdas bukanlah perkara mudah. Sempitnya layar ponsel cerdas membuat kualitas tulisan kita cenderung lebih rendah dibandingkan tulisan yang dibuat menggunakan komputer yang berlayar jauh lebih luas. Penulis umumnya merasa kesulitan menyusun kata dan membangun struktur kalimat. Mungkin layar mungil ponsel cerdas membuat pandangn penulis menjadi kerdil. Sehingga kesulitan mengembangkan tulisannya. Dalam hal ini, tantangan terbesarnya adalah meminimalisir perbedaan kualitas antara tulisan yang dihasilkan menggunakan ponsel cerdas dengan tulisan yang diproduksi dengan komputer.

Cara menyiasatinya salah satunya dengan membuat kerangka dan alur tulisannya terlebih dahulu. Kerangka dan alur ini minimal dibuat di dalam kepala. Akan lebih baik lagi bila digambarkan pada secarik kertas. Hal ini membantu penulisnya untuk membangun tulisan yang baik dan berkualitas. Minimal, derajat kualitasnya bisa satu tingkat di bawah tulisan yang diproduksi menggunakan komputer.

Cara yang sama juga dilakukan oleh teman wartawati saya. Dia membuat kerangka dan alur tulisan, bahkan sebelum melakukan aktivitas peliputan di lapangan. Sebagai contoh ketika dia meliput sebuah konser musik. Sedari rumah, sang wartawati sudah menyediakan “template” tulisan reportase untuk konser musik. Sehingga ketika berada di lapangan, dirinya tinggal melengkapi data, fakta, dan testimoni kemudian memasukkannya ke dalam template tulisan. Seiring selesainya konser, dia pun tuntas menuliskan reportasenya. Selanjutnya, tinggal dikirimkan ke redaktur untuk kemudian ditayangkan secepatnya, minimal di laman daring medianya.

Bila kualitas tulisannya ingin lebih baik lagi, cobalah melakukan “sentuhan” akhir menggunakan komputer. Periksa dan benahi kembali alur tulisan, susunan kalimat, argumen, data dan fakta, hingga pemilihan kata melalui perangkat yang berlayar lebih luas. Periksa dan baca berulang kali hingga kualitas tulisannya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Saya sendiri merasa harus lebih maksimal lagi dalam mengoptimalkan fungsi ponsel cerdas untuk kepentingan menulis. Bagi saya, rasanya sangat sayang sekali bila ponsel cerdas hanya digunakan untuk menelepon, SMS, serta berselancar media sosial dan email semata. Padahal, kemampuannya yang telah setara dengan komputer 5-10 tahun lalu, seharusnya bisa digunakan lebih baik dan lebih banyak lagi.

Oleh karena itu, dengan kemampuan demikian, seharusnya ponsel cerdas tidak hanya mampu meningkatkan kualitas menyusun kata semata, tetapi juga memperbanyak jumlah karya nyata. Inilah ujian dan tantangan sebenarnya.

Bagaimana dengan Anda? Punya cara tersendiri untuk menulis dan berkarya melalui ponsel cerdas?

Buruh Jadi Wirausahawan, Kapan?

with 4 comments


Foto: igfgroup.com

Demo buruh yang terjadi beberapa waktu lalu memancing banyak komentar, baik dari kalangan pengusaha, pemerintah, maupun “buruh” bersosial media. Umumnya, mereka mengomentari usulan UMK para buruh yang dinilai tidak masuk akal.

Dalam demo di kota Bandung misalnya. Para buruh mengusulkan gaji lebih Rp 2,7 juta per bulan. Angka ini merupakan hasil perhitungan buruh yang memasukkan beberapa komponen biaya tambahan di luar komponen biaya penghitungan UMK bulan-bulan sebelumnya.

Dari sudut pandang pengusaha, tuntutan ini dipandang memberatkan keuangan perusahaan. “Emangnya kami tidak pusing?” keluh salah seorang pengusaha kepada saya beberapa waktu lalu. Pasalnya, kenaikan bahan bakar minyak dan listrik saja sudah memberatkan. Belum lagi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang semakin melemah. Hal ini berimbas pada kenaikan harga bahan baku yang umumnya diimpor dari luar negeri. Nah, ini, tiba-tiba buruh minta naik gaji. Gimana cerita?

Bahkan, pengusaha lainnya menilai aksi ini merupakan konspirasi yang melibatkan pihak asing. Pasalnya, dengan menyulut buruh untuk berunjuk rasa, diharapkan membuat bangkrut perusahaan Indoensia dan penanam modal hengkang dari Tanah Air. Akibatnya, perekonomian negara kita akan semakin bobrok karena semakin kecilnya nilai ekspor dibandingkan nilai impor.

Komentar lebih satir lagi datang dari kawan saya yang sesama “buruh”. “Buruh yang ingin berkeluarga, buruh yang ingin punya anak, buruh yang pengen punya barang mewah, kenapa perusahaan yang harus pusing?” usiknya.

Kesejahteraan buruh yang pas-pasan memang sudah jadi isu lama. Namun, keengganan buruh untuk “move on” dari pekerjaannya, membuat banyak orang akhirnya malah tidak bersimpati kepada tuntutan mereka. Bahkan, pasangan pemimpin Jakarta Jokowi dan Ahok menganjurkan buruh untuk berwiraswasta bila menginginkan penghasilan yang lebih besar. Setidaknya, hal tersebut lebih baik dibandingkan berdemo yang dapat mengganggu kenyamanan publik.

Tentang wirausaha ini, saya jadi teringat cerita teman saya yang wartawan. Suatu ketika, Sang Pewarta bercerita tentang Asep Rabbit. Disebut demikian, karena Asep ini wirausahawan di bidang peternakan kelinci pedaging. Hasilnya pun cukup menggiurkan.

Kata Sang Pewarta, Asep Rabbit menyimpulkan berternak sapi yang harga satu ekornya mencapai Rp. 14 juta, hanya bisa menghasilkan Rp. 450 ribu per bulannya. “Kalau kamu berternak 10 kelinci, 1 tahun kamu bisa beli 1 sapi,” papar Sang Pewarta.

Caranya, lanjutnya, cukup beli 1 kelinci jantan dan 10 betina. Dalam 6 bulan, jumlah kelinci akan menjadi 4-8 kali lipat. Dan tunggu 6 bulan setelahnya, bisa menghasilkan kelinci hingga ratusan ekor.

Dengan kemudahan seperti ini, menurut Sang Pewarta lagi, Asep Rabbit membayangkan bila saja pemerintah mau memberikan sepasang kelinci untuk satu orang dan menernakannya, mungkin akan banyak orang Indonesia yang bisa mulai berwirausaha dan mendapatkan penghasilan secara mandiri.

Berkaitan dengan kisah ini, saya juga jadi teringat cerita kawan saya yang lain tentang seorang nenek di pelosok Ciamis, Jawa Barat. Sang nenek termasuk golongan tidak mampu. Sehingga ketika pemerintah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT), dia pun termasuk penerimanya.

Uniknya, si nenek ini menggunakan BLT bukan untuk membeli kebutuhan pokok, tetapi membeli sepasang anak kambing. Anak-anak kambing ini kemudian dia pelihara, hingga besar, dan melahirkan.

Dari usahanya ini, kini si nenek mulai bisa menikmati hasilnya. Kambing-kambingnya mulai menjadi pundi-pundi Rupiah baginya. Sehingga dia bisa hidup dengan lebih baik lagi.

Kini, bila buruh ingin lebih sejahtera dan punya banyak uang, seharusnya mereka mencoba mengikuti saran Asep Rabbit dan mencontoh si nenek. Tidak mudah mudah memang, tetapi bukan kah setiap hasil yang terbaik membutuhkan sebuah perjuangan dan kerja keras? Bahkan, bila perlu harus ditebus dengan peluh keringat dan tetes air mata.

Tidak punya uang untuk modal awal? Toh, sekarang ini banyak usaha yang tidak membutuhkan modal uang dengan jumlah yang cukup besar. Sebagai contohnya temannya teman saya. Dia tidak punya pabrik atau pun toko tas, tetapi berjualan tas. Caranya, dia menawarkan berbagai macam tas yang diproduksi oleh temannya lagi. Bila ada yang berminat membeli, sang pembeli hanya disuruh mentransfer uang ke rekening produsen tas, dan tas pun akan dikirim. Tanpa harus punya pabrik dan toko tas, temannya teman saya pun mendapatkan uang dari komisi penjualan.

Dari sisi pemerintah, seharusnya mereka juga mulai mengembangkan kemampuan dan mental kewirausahaan bagi buruh. Sehingga lambat laun ekonomi negara kita bisa tumbuh melalui para wirausahawan, bukan tumbuh dari penindasan buruh dan tenaga kerja.***

Written by Yudha P Sunandar

Sunday, 24 November 2013 at 13:05

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,172 other followers