…Verba Volant, Scripta Manent

Menikmati Kekacauan

with 2 comments


Foto: pimpmybricks.wordpress.com

Foto: pimpmybricks.wordpress.com

Membicarakan masalah Indonesia, tampaknya tidak akan ada habisnya. Masalah tumbuh bagai spora di musim hujan dan merata dari sabang sampai merauke. Masalah juga mengakar di berbagai bidang kehidupan, mulai dari masalah ekonomi, sosial, budaya, hingga masalah pendidikan dan politik. Semuanya tidak lepas dari masalah. Pun bukan masalah yang selewat saja, tetapi memang sudah mengakar dan melanda berbagai lapisan masyarakat.

Banyak orang saya rasa mulai jengah dengan kondisi ini. Satu hal yang mereka harapkan: Indonesia yang lebih baik, agar kehidupan mereka juga menjadi baik. Mereka berusaha mencari solusi-solusi yang memungkinkan harapan-harapan mereka tercapai.

Yang lainnya lagi mulai merasa apatis. Jangankan mencari solusi, rasa-rasanya mereka lebih memilih agar negara ini hancur saja sekalian. Tampaknya, bagi mereka, kematian lebih baik daripada harus menderita tanpa ujung.

Saya pun sebenarnya tipikal orang yang cenderung apatis dengan kondisi saat ini. Jujur, seringkali saya sudah tidak punya harapan untuk negara ini. Namun, tulisan seorang kawan, Anissa Trisdianty, menyadarkan saya tentang arti Indonesia.

Dalam tulisannya tersebut, Anissa menceritakan pertemuannya dengan seorang wanita dari Switzerland yang sudah tinggal lama di Indonesia. Mama Ana, begitu namanya, mengaku sangat cinta dengan Indonesia. Menurutnya, Indonesia menyimpan banyak kenikmatan hidup. “Kekacauannya itulah kenikmatannya, kemacetannya itu adalah seninya,” ungkap Nisa menyampaikan pandangan Mama Ana.

Awalnya saya hanya menanggapi positif ucapan tersebut tanpa tahu maknanya. Saya lebih memandangnya sebagai rasa syukur seorang bangsa Eropa terkait keadaan Indonesia. Namun, beberapa hari kemudian, saya menyadari bahwa kekacauan ini memang sebuah anugerah.

Pernahkah Anda membayangkan hidup di sebuah negara maju tanpa masalah? Apa yang akan terjadi dalam hidup Anda di sana? Saya pikir, kita semua akan memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Tidak asyik dan cenderung datar. Kemampuan kita tidak akan terasah, dan kesadaran kita tidak akan berkembang.

Namun, lihat kita di Indonesia. Kekacauan-kekacauan ini memberikan kita kesempatan untuk maju dan berkembang. Dengan kacaunya sistem pendidikan, membuat teman-teman School Ranger punya tekad kuat untuk membangun gerakan sekolah mandiri berkualitas.

Dengan kacaunya sistem ekonomi, membuat rakyatnya memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Dengan kacaunya sistem sosial dan kebudayaan, membuat banyak orang sadar bahwa nilai-nilai tradisional bangsa ini sangat luhur dan harus dikembalikan ke fondasi dasar masyarakatnya.

Bagaimana pun, nikmati saja kekacauan ini. Karena, dari setiap kekacauan, Tuhan menciptakan beribu-ribu manusia tangguh yang siap membangun negeri ini lebih baik di masa depan. Kapan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.***

About these ads

Written by Yudha P Sunandar

Sunday, 8 July 2012 at 19:00

Posted in Opini

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Pembahasan yang menarik… :mrgreen:

    Asop

    Tuesday, 10 July 2012 at 13:41

    • nuhun, kang Asop… :-D

      Yudha P Sunandar

      Wednesday, 11 July 2012 at 07:47


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,176 other followers

%d bloggers like this: