…Verba Volant, Scripta Manent

Sistem Pendidikan Dunia, Dari Yunani Hingga Abad 21

leave a comment »


Foto: wwp.greenwichmeantime.com

Foto: wwp.greenwichmeantime.com

Berbicara tentang manusia, berbicara juga tentang sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang banyak digunakan di dunia saat ini berasal dari Yunani dan Abad Pertengahan.

Pada era Yunani sendiri, ada 2 pendidikan yang berkembang, yaitu Disparta dan Paidea. Disparta merupakan pendidikan ala militer yang disebut juga Agoge. Sistem pendidikan ini menekankan pada aspek fisik dan pendisiplinan. Sangat mirip dengan sekolah-sekolah militer pada saat ini. Disparta sendiri berkembang di Romawi.

Sedangkan Paidea berkembang di Athena. Sistem pendidikan ini menitikberatkan pada perpaduan antara pendidikan nalar (mind), raga (body), dan jiwa (spirit). Ketiga hal tersebut dilatih melalui Logos, atau biasa disebut Logika atau Penalaran. Logos sendiri bermakna nalar atau firman. Konsep ini banyak dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles.

Pendidikan raga sendiri menitikberatkan pada olah raga atau Gimnastik. Sedangkan pendidikan jiwa diasah melalui musik dan puisi.

Capaian ideal sistem pendidikan Paidea adalah Kalos Kagathos, yang berarti manusia indah luar maupun dalam. Capaian ini berfungsi agar manusia mampu melihat Arete (keutamaan) dalam kompleksitas kehidupannya. Keutamaan manusia sendiri antara lain diwujudkan dalam Virtue, atau nilai-nilai kebaikan dalam moral, seperti kebijaksanaan, keberanian, dan kejujuran.

Selanjutnya, Virtue ini syarat untuk manusia mencapai Eudaimonia atau kebahagiaan. Karena, di alam Yunani, untuk bahagia, manusia harus mengaktifkan penalarannya. Dengan kata lain, seorang manusia akan bahagia bila berperilaku baik, dan dia akan berperilaku baik bila bernalar. Hal ini memang sangat bertolak belakang sekali dengan tradisi-tradisi spiritual yang justru mensyaratkan penonaktifan nalar.

Paidea sendiri dikembangkan oleh kaum Sofis. Kaum ini banyak menggunakan retorika dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ini disebabkan kaum Sofis memiliki kehidupan yang berkonteks politis. Sehingga perdebatan dalam kehidupan politik mensyaratkan argumen-argumen semu untuk menjatuhkan lawannya. Bagaimana pun, dalam konteks kehidupan politik, kuncinya adalah memenangkan perdebatan. Beberapa tokoh yang termasuk kaum Sofis adalah Isokrates dan Protagoras.

Kaum Sofis sendiri kerap menuai kritik dari lawannya, yaitu kaum Akademia. Meskipun begitu, Paidea banyak dimodifikasi dan dikembangkan oleh kaum Akademia seperti Plato dan Aristoteles, tentunya dengan penekanan yang berbeda untuk masing-masing tokoh.

Dari modifikasi kaum Akademia, kurikulum Paidea berevolusi sehingga lebih gampang diingat. Pada Abad Pertengahn, kurikulum Paidea berevolusi menjadi kurikulum Artes Liberales yang berarti “pengetahuan yang penting untuk orang-orang bebas”. Pengetahuan ini ditujukan untuk bangsawan dan orang-orang kelas atas.

Lawannya adalah Artes Serviles atau “keterampilan untuk para budak”. Pengetahuan ini erat kaitannya dengan keterampilan kasar untuk para budak seperti pandai besi dan memotong kayu.

Foto: bp.blogspot.com

Socrates (Foto: bp.blogspot.com)

Artes Liberales dibagi menjadi 2 kelompok utama. Kelompok ilmu pertama terdiri dari ilmu Rhetorica, Grammatica, dan Logica. Kelompok ini disebut Trivium. Sedangkan kelompok ilmu kedua terdiri dari ilmu Arithmatica, Geometrica, Astronomica, dan Musica. Kelompok pengetahuan ini disebut Quadrivium. Pada perkembangan selanjutnya, khususnya di Indonesia, kelompok pengetahuan Trivium populer dengan sebutan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan kelompok pengetahuan Quadrivium populer dengan sebutan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Selain 2 kelompok utama ilmu di atas, ada juga tambahan ilmu lainnya, antara lain: Ars Dictaminis atau ilmu pembuatan dokumen-dokumen hukum dan administratif, kedokteran yang banyak mendapat pengaruh dari Ibnu Sina, hukum, dan sains atau ilmu penelitian empirik.

Khusus untuk sains, ilmu ini belum berkembang ketika masa Artes Liberales. Sains sendiri baru berkembang pada abad ke-13, tepatnya ketika mulai ada lembaga pendidikan tinggi yang disebut Universitas.

Kaum Sofis sendiri banyak menekankan pada Rhetorica dan Grammatica. Sementara Aristoteles menekankan pada Logica yang sering disebut juga sebagai Dialektika. Dalam perkembangannya, ilmu Dialektika ini disebut Filosofi atau cara meyakinkan orang dengan argumentasi.

Filosofi yang dibangun oleh Aristoteles memang berbeda dengan filosofi yang dibangun Sokrates. Sokrates yang merupakan kakek guru Aristoteles ini, memulai proses filosofi dengan mengobrol. Kadang Sokrates memulainya juga dengan berdebat. Dari hasil mengobrol dan berdebat ini, Sokrates kemudian menyimpulkan makna-makna filosofis dari tema obrolan dan perdebatan. Misalnya saja, sebelum menyimpulkan makna “kebijaksanaan”, Sokrates bertanya dulu kepada orang-orang yang ditemuinya. Setelah itu, barulah dia menyimpulkan makna “kebijaksanaan” dari hasil pendapat orang-orang.

Adapun Plato, banyak memberikan penekanan pada Logica, Arithmatica, Geometrica, Astronomica, dan Musica. Menurutnya, kebahagiaan harus berdasarkan pada pengetahuan yang benar.

Meskipun masing-masing tokoh memiliki pandangan yang berbeda, tetapi kerangka kurikulum Paidea adalah seperti tersebut di atas. Kerangka kurikulum ini berkembang pada abad 5 – 4 Sebelum Masehi.

Pada titik yang sama, Romawi lebih banyak mengeksplorasi aspek politik dan hukum. Hal ini disebabkan Romawi memiliki banyak daerah jajahan pada saat itu. Tak heran bila filosofi banyak berkembang cukup pesat di Yunani, tetapi bukan di Romawi.

Meskipun begitu, pada Abad ke-1, kurikulum Paidea mulai masuk ke sistem pendidikan Romawi. Sistem ini masuk melalui kaum Ensiklopedis dengan tokoh-tokoh seperti Posidonius dan Marcus T Varro. Sistem ini masuk melalui berbagai cara, seperti politik, perdagangan, dan sosial.

Mulai abad ke-4, kurikulum Paidea masuk ke dunia Kristiani. Tradisi Kristiani sendiri baru berkembang pada abad ke-3, tepatnya ketika Konstatinus, Kaisar Roma pada saat itu, masuk Kristen. Sehingga Romawi langsung berubah menjadi dunia Kristiani.

Paidea sendiri ke Romawi yang Kristiani masuk melalui 2 jalur. Pertama melalui tradisi Boethius. Tradisi ini merujuk pada aktivitas para rohaniawan Romawi yang menerjemahkan karya-karya Yunani, khususnya karya dari pemikiran Aristoteles. Kebiasaan ini disebut juga tradisi Scholastic, yang merujuk pada aktivitas berkebun dan berternak pada siang hari, sedangkan pada malam harinya menterjemahkan karya-karya Yunani sembari mengkritisinya.

Sedangkan jalur kedua masuk melalui Perang Salib, tepatnya melalui pengaruh filsuf-filsuf Islam seperti Alfarabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusdh. Filsuf muslim ini banyak memberikan komentar atas karya-karya Sokrates.

Pada abad 9 – 12, Romawi mendapatkan serangan dari bangsa barbar berjuluk Goath. Tidak hanya serangan secara fisik, peradaban Romawi juga sedang dilanda budaya korupsi. Tak heran bila akhirnya Romawi pun runtuh. Masa ini disebut dengan Goathic. Keruntuhan Romawi ini melengkapi abad kegelapan yang tengah melanda Eropa pada era abad 6 – 12.

Di saat yang sama, dunia Islam tengah mengalami era keemasan. Islam masuk lewat Perang Salib dan perdagangan, sehingga banyak mempengaruhi sekolah-sekolah katedral di Eropa saat itu. Sekolah Katedral sendiri merupakan sekolah yang memang “menempel” di sebelah Katedral. Sekolah ini diperuntukkan hanya bagi kaum klerik dan bangsawan.

Harvard University (Foto: www.alfredny.biz)

Harvard University (Foto: http://www.alfredny.biz)

Paidea sendiri merupakan pelajaran pokok di sekolah-sekolah katedral di Eropa. Pelajaran ini mencapai puncaknya pada abad 11 – 12. Uniknya, corak Paidea berubah dari nuansa filosofis menjadi teologis. Bahkan, karakter teologis ini sangat kuat sekali pada era tersebut. Sehingga muncul ungkapan Philosifia Est Ancila Theologia, yang berarti “filsafat adalah hamba dari teologi”.

Teologi saat itu dipandang sangat tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan lainnya. Pandangan ini dianut oleh Agustinus, Yustinus, dan Thomas Aquinas. Tokoh-tokoh ini merupakan penguasa abad pertengahan. Mereka berfilsafat dengan pandangan Yunani yang ditarik ke pandangan teologis.

Menjelang abad ke-13, Sekolah Katedral mulai berevolusi menjadi universitas. Universitas sendiri berarti paguyuban. Dengan kata lain, universitas merupakan paguyuban orang-orang berpengetahuan. Evolusi ini membuat sekolah yang awalnya ekslusif dan hanya untuk kaum klerik dan bangsawan, menjadi terbuka untuk umum. Sehingga orang awam mulai bisa bersekolah. Pada sisi ini pula, humanisme mulai menjadi arus bawah dalam arus persekolahan di dunia ini.

Beberapa universitas yang berkembang pada saat itu dan masih ada hingga saat ini, antara lain: Universitas Bologna, Universitas Salerno, Universitas Paris, Universitas Oxford, dan Universitas Montpellier.

Sistem sekolah barat ini pada babak sejarah selanjutnya diadopsi oleh dunia. Pengadopsian ini banyak dipengaruhi kolonialisme barat yang pada awal abad 19 berekspansi ke seluruh dunia. Bila bangsa China atau India atau Jepang yang menguasai dunia, mungkin sistem pendidikan di dunia tidak akan seperti saat ini. Bila China yang menguasai dunia misalnya, mungkin filsafat dari Lao Tze atau Konfucius lah yang akan banyak mempengaruhi pendidikan dunia saat ini.

* Disarikan dari kuliah Studia Humanika oleh Bambang Sugiharto, guru besar Filsafat Universitas Parahyangan Bandung di Masjid Salman ITB

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,173 other followers

%d bloggers like this: