…Verba Volant, Scripta Manent

Sekolah Ilmu Jurnalistik Bervisi Entrepreneurial Journalism

leave a comment »


Foto: Nigeriansafari.com

Foto: Nigeriansafari.com

Hari ini ceritanya saya sedang melamun. Lamunannya sederhana saja, “Bagaimana kalau saya punya sekolah tinggi ilmu jurnalistik, yah?” Lamunan ini muncul akibat obrolan saya dengan kawan-kawan Klab Citizen Journalist Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Karena, sebagian dari mereka adalah mahasiswa jurusan Jurnalistik di kampusnya masing-masing. Dan umumnya mereka meneriakan kegundahan, “Kalau saya lulus, mau jadi apa?”

Dari hasil obrolan ini, mereka umumnya cuman tahu bila sudah lulus kelak akan menjadi wartawan atau jurnalis di koran-koran yang ada di seantero Indonesia. Istilah mereka, “Kuli tinta buruh warta.” Karena, mereka dididik dan dibentuk untuk seperti itu. Selama 4 tahun lamanya, mereka ini mempelajari jurnalistik dan dikenalkan dengan deadline yang menurut pengakuan para mahasiswa ini cukup mencekik leher.

Dan tampaknya cerita dari saya membuat mereka semakin terpuruk. Saat itu, saya cuman cerita bahwa kebanyakan media massa lebih memilih menerima lulusan dari jurusan lain dibandingkan jurusan ilmu komunikasi sendiri. Penilaiannya sederhana saja, “Lebih mudah mana, antara mengajari lulusan jurnalistik ilmu ekonomi atau mengajari lulusan ekonomi teknik jurnalistik?” Tentunya kebanyakan orang akan sepakat lebih mudah mengajari lulusan ekonomi sebuah teknik jurnalistik dibandingkan mengajari lulusan jurnalistik ilmu ekonomi.

Bagaimana pun, seorang lulusan ekonomi akan mampu menulis tema-tema ekonomi lebih dalam dan menyeluruh dengan konteks yang tepat dibandingkan lulusan jurnalistik yang belajar ekonomi. Apalagi kursus dan pelatihan jurnalistik di berbagai daerah di Indonesia semakin marak saja. Sehingga kesempatan lulusan dari jurusan lain untuk menjadi seorang jurnalis semakin terbuka.

Kemudian saya bilang lagi ke mereka, bahwa saat ini anak-anak jurnalistik harus mulai membangun visi mereka ketika lulus nanti. Dalam hal ini, saya kerap menceritakan soal Entrepreneurial Journalism, sebuah konsep yang sekaligus menjadi judul buku Mark Briggs. Secara garis besar, Mark Briggs menegaskan bahwa kemampuan jurnalisme bisa digunakan seseorang untuk membangun kewirausahaan (entrepreneurial)-nya.

Sebagai contoh, dalam buku tersebut diceritakan seorang Belarusia berkewarganegaraan Amerika bernama Gary Vaynerchuk. Pada akhir 1990-an, dia mengambil alih perusahaan Wine yang diwariskan secara turun temurun dalam keluarganya. Misinya saat itu sederhana saja: Bagaimana meningkatkan pendapatan tanpa memperluas pabrik dan kebunnya?

Untuk meningkatkan pendapatannya, Gary kemudian memberdayakan teknologi website. Pada 2006, Gary membangun program Wine Library TV di YouTube. Dengan bermodalkan kamera sederhana, Gary berdiri di depannya kemudian meminum Wine dan menceritakannya. Video ini ia buat secara berkala hingga berjumlah seribu video. Hasilnya, video-video ini menarik perhatian publik dan ditonton hingga satu juta kali.

Dari sinilah kemudian komunitasnya terbentuk. Adapun pengikut Gary di Twitter mencapai 900 ribu pengikut. Pada 2010, Garry Vaynerchuk juga menjadi narasumber mingguan untuk program radio berdurasi 2 jam berjudul Wine and Web with Gary Vaynerchuck di stasiun radio digital Sirius XM. Kemampuan menggunakan media ini membuat perusahaan Wine keluarganya mengantongi keuntungan yang awalnya hanya US$ 4 juta menjadi US$ 60 juta per tahun.

Bercermin dari konsep dan cerita ini, dan terkait lamunan saya di awal, saya bercita-cita untuk membangun sekolah tinggi ilmu jurnalistik yang bervisi entrepreneurial journalism. Karena, saat ini, sepengetahuan saya belum ada perguruan tinggi ilmu komunikasi yang fokus dalam mengembangkan bidang kewirausahaan media.

Lalu, bagaimana saya akan membentuk mahasiswa saya ini?

Gambar: ecx.images-amazon.com

Gambar: ecx.images-amazon.com

Yang terbayang di benak saya, pada semester I dan II, mahasiswa jurnalistik di kampus masa depan ini akan belajar tentang dasar-dasar jurnalistik, seperti: cara melakukan reportase, menulis berita, fotografi, hingga struktur redaksi. Menginjak semester III, mereka mulai magang di media kampus. Media kampus ini semuanya berbasis digital dan online. Tidak hanya berbasiskan teks, tetapi juga berbasiskan foto, audio, grafis, dan audio-video. Sebisa mungkin, media kampus ini juga sudah menerapkan konsep-konsep terbaru dalam bidang jurnalisme.

Para mahasiswa ini nantinya terikat magang selama 2 tahun lamanya, hingga semester VI. Adapun proses magang ini bertujuan memperkenalkan dunia kerja jurnalistik kepada mahasiswa-mahasiswa kampus masa depan saya ini. Program magang ini tentunya disertai kuliah reguler seperti biasa.

Proses magang ini, selain untuk membangun keterampilan mereka dalam bidang jurnalistik, juga membangun pandangan mereka terkait dunia yang akan dijalaninya. Mereka akan terbiasa untuk melihat persoalan dari sudut pandang media dan jurnalistik, serta mengembangkan solusi dari ilmu yang dipelajarinya di kampus.

Kemudian pada semester VII, para mahasiswa mulai belajar terkait konsep-konsep jurnalisme terbaru. Mereka juga harus belajar wawasan dan keterampilan membangun media di Internet. Pada semeter ini, mahasiswa juga didorong untuk membangun visi entrepreneurial journalism-nya. Sehingga menginjak semester VIII dan lulus sebagai mahasiswa, mereka sudah siap terjun ke masyarakat dengan bekal yang mereka telah eksplorasi di kampusnya.

Saya rasa, konsep ini cukup realistis untuk diwujudkan. Dari pengalaman saya mengembangkan SalmanITB.com dan Sahabatmkaa.com, para mahasiswa sudah cukup mumpuni untuk mengembangkan kemampuan kejurnalistikannya pada tingkat II dan III. Bagaimana pun, kedua media ini sama-sama menjadikan mahasiswa sebagai ujung tombaknya. Dan terbukti, kedua media ini bisa bertahan dan berkembang hingga saat ini.

Sebagai langkah awal, saya akan memulai program pelatihan jurnalistik ke komunitas-komunitas di Jawa Barat lebih intensif, baik itu secara kelembagaan maupun secara individu. Komunitas-komunitas yang ingin memiliki situs web, akan saya latih kemudian saya akan buatkan situsnya secara cuma-cuma, tanpa bayaran sepeser pun. Dari proses ini, saya harapkan bisa menjadi bekal untuk mengembangkan kampus sekolah tinggi ilmu jurnalistik bervisi entrepreneurial journalism. Semoga.***

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,173 other followers

%d bloggers like this: