Perlunya Wawasan Kejurnalistikan untuk Blogger

Mas Anggara Ketika Memaparkan materi "Ancaman Kriminal pada Blogger" di ASEAN Blogger Conference lalu. (Foto: flickr.com/photos/antonemus)
Saat ASEAN Blogger Conference lalu, salah satu materi yang dibahas adalah permasalahan hukum yang kerap membayangi Blogger untuk berkarya. Hal ini disampaikan oleh mas Anggara, seorang Blogger yang merupakan lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.
Beberapa nama yang disebut oleh mas Anggara adalah mas Iwan Pilliang dan Prita Mulyasari. Keduanya memang sempat terganjal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 27 tentang pencemaran nama baik.
Saya sendiri dalam sesi tanya-jawab memberikan usulan agar Blogger memiliki wawasan kejurnalistikan. Tujuannya lebih untuk pencegahan terhadap kemungkinan terjerat “Pasal Karet” yang masih berlaku di Indonesia. Namun, jawabannya di luar dugaan. Sang pembawa materi justru menganggap wawasan kejurnalistikan, dalam hal ini beliau memandangnya sebagai etika jurnalistik, malah akan mengukung kebebasan Blogger dalam berekspresi.
Lebih lanjut, beliau mencontohkan bila seorang Blogger akan menulis tentang daerah timur Indonesia, tentunya sang Blogger harus memverifikasi jauh hingga ke daerah timur. Hal ini, ungkapnya, justru akan memberatkan si Blogger sendiri.
Ketika mendapatkan tanggapan seperti ini, saya bingung juga. Pandangan beliau terhadap wawasan jurnalistik dimaknai sangat sempit. Untuk berdebat pun, rasanya bukan waktu yang tepat lantaran antara saya dan beliau memiliki perbedaan pandangan yang terlalu jauh. Dan saya biarkan hal ini berlalu.
Singkat cerita, saya pulang pada Kamis, 17 Nopember 2011. Bersama rombongan Blogger dari Jakarta dan Jawa Barat, saya menaiki sebuah pesawat komersial lokal menuju bandara Soekarno-Hatta.
Di tengah perjalanan, seorang Blogger di belakang saya mengeluarkan kamera dan memotret kegiatan pramugari di pesawat. Dua kali jepretan menggunakan lampu flash. Kontan, hal ini membuat pramugrari menegurnya, memberi peringatan, dan meminta untuk menghapus hasil jepretannya tersebut. Di tegur pun bukannya menyadari kesalahannya, sang Blogger pun malah menggerutu, seperti apa yang dilakukannya adalah benar.
Abaikan pramugarinya dan fokus terhadap Bloggernya. Saya melihat kejadian ini sebagai dampak dari kurangnya wawasan kejurnalistikan sang Blogger, dalam hal ini etika jurnalistik. Andai saja sang Blogger memiliki wawasan kejurnalistikan, dia akan memenuhi hal-hal yang harus dipatuhi sebelum berkarya dengan kameranya.
Bila etika dipandang Blogger sebagai kungkungan terhadap aktivitas berkarya, saya ingin menganalogikannya dengan pembunuh.
Seringkali, beberapa pembunuhan didasari alasan bahwa sang pelaku benar-benar puas melakukan kegiatan tersebut. Sang pelaku melihat bahwa membunuh adalah sebuah ajang dia berkreasi. Bila tidak ada etika atau hukum, tentunya kegiatan ini akan mengancam orang-orang di sekitarnya.
Hal yang sama juga berlaku dengan Blogger. Apakah semua kebebasan berekspresi dan berkarya harus dimaknai dengan melanggar privasi atau kenyamanan orang lain dalam beraktivitas? Bahkan sebenarnya etika kejurnalistikan yang dipadu dengan nilai empati, bisa menghasilkan karya yang baik. Kebebasan dalam berkarya pun bukan hal yang dihambat bila dibenturkan dengan nilai-nilai etika.
Ada satu contoh menarik datang dari Sang Pakar ketika meliput ke Irak pada saat perang Irak berkecamuk tahun 2003 lalu. Saat itu, Sang Pakar mendampingi seorang fotografer senior dari BBC yang saya lupa namanya. Mereka dan banyak jurnalis lainnya sedang meliput acara pemakaman seorang wartawan lokal yang tewas dalam perang Irak.
Ketika rombongan penghantar jenazah mengusung jasad sang wartawan yang tewas ke pemakaman, fotografer lainnya sibuk memotret. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh sang fotografer senior. Dia terus mengamati, mengamati, dan terus mengamati.
Di pemakaman pun sang fotografer masih tetap tenang sambil mengamati suasana. Sedangkan fotografer lainnya, semakin sibuk saja mengabadikan momen ketika jenazah diturunkan ke liang lahat dan perlahan-lahan ditimbun oleh tanah.
Usai acara pemakaman, barulah sang fotografer mendekati istri almarhum yang tengah menangis di nisan sang wartawan yang terbunuh tersebut. Sang fotografer mengucapkan bela sungkawa dan berusaha menunjukan empatinya. Dia juga meminta izin mengambil beberapa foto untuk dimuat di medianya. Hasilnya, menurut Sang Pakar, sangat luar biasa. Fotonya penuh dengan makna.
Meskipun tidak lengkap, mudah-mudahan cerita tersebut bisa menunjukan bahwa wawasan kejurnalistikan bukan membuat Blogger tidak mampu berekspresi secara bebas dan maksimal. Justru sebaliknya, wawasan kejurnalistikan membantu seorang Blogger untuk menghasilkan karya yang lebih nyata, lebih hidup, dan berdampak secara sosial. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri.
Sepeda Lipat, Oh Sepeda Lipat…

Sepeda lipat pinjaman teman yang saya potret di sebuah bumi perkemahan di bilangan Lembang, Bandung. (Foto: Yudha PS)
Kemarin saya benar-benar sedang merasa bahagia. Pasalnya saya telah melewati perjalanan Lembang menuju Salman ITB menggunakan sepeda dengan cara yang sedikit “aneh”. Bila tidak setuju dengan kata tersebut, saya mengusulkan padanan kata “tidak biasa”. Bila tidak setuju juga, silahkan cari kata sendiri-sendiri saja.
Nah, ceritanya sendiri berawal ketika saya dan kawan-kawan kampus mendapatkan tugas kuliah membuat video. Tempat pengambilan gambar harus di sebuah bumi perkemahan di daerah Lembang. Kami menyepakati bahwa cerita yang diambil memiliki properti sepeda di dalamnya. Sehingga, mau tidak mau, haruslah membawa sepeda.
Akhirnya, sayalah yang bertugas membawa sepeda lipat milik seorang anggota tim. Saya membawanya menggunakan motor bersama rekan satu tim lainnya. Tentu saja, karena sepeda lipat dengan ukurannya yang cukup mungil, tidak terlalu menyulitkan saya dan teman membopongnya dari bilangan Cihampelas ke bilangan Lembang yang jaraknya mencapai 20 Kilometer.
Singkat cerita, shooting selesai jam 13 WIB dan kami bersiap-siap pulang ke Bandung. Namun, tidak disangka, kami tersangkut masalah dengan pengelola bumi perkemahan. Sehingga kami pun tertahan hingga 1 jam lamanya.
Meskipun begitu, tampaknya hanya saya saja yang memungkinkan untuk pergi setelah 1 jam itu berlalu. Alasannya, karena saya memang harus cepat-cepat berada di Salman ITB lantaran ada kunjungan dari teman-teman anggota komunitas Anak Tangga jurusan Jurnalistik Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.
Teman-teman yang lain memilih untuk bertahan di lokasi bumi perkemahan. Karena tidak ada tebengan motor, akhirnya saya meminjam sepeda lipat milik teman saya. Alasannya supaya saya bisa sampai di Salman ITB lebih cepat dibandingkan naik angkutan umum. Hal ini mengingat Bandung yang kerap dilanda kemacetan ketika akhir pekan.
Begitu dapat lampu hijau, saya langsung mengayuh sepeda menuju jalan Tangkuban Parahu. Beruntung jalannya menurun. Sehingga saya tidak perlu repot-repot mengayuh sepeda agar bisa melaju kencang.
Meskipun begitu, ternyata saya tidak bisa melaju lebih dari 20 Kilometer per jam. Alasannya, sepeda terlalu kecil dan rapuh untuk bisa melewati batas kecepatan tersebut. Karena sepeda lipat, saya khawatir bila dipacu lebih kencang, malah membuat sepeda ini rontok. Belum lagi dengan kondisi jalan yang tidak rata. Membuat saya harus ekstra hati-hati. Karena bila terlalu cepat, bisa membahayakan diri saya pribadi.
Karena saya harus tiba di Salman secepatnya dan saya juga melihat 2 tanjakan berat yang akan saya hadapi di depan, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan sepeda dan melipatnya kemudian menaikkannya ke dalam angkot.
Bravo, ada mikro-bus menuju Bandung yang melintas sesaat setelah saya melipat sepeda. Saya langsung menghentikan mikro-bus tersebut dan menaikinya.
Sepeda lipat tidak benar-benar simpel ternyata. Saya tidak bisa memasukan seluruh badan sepeda ke dalam mikro-bus karena masih terlalu besar. Akhirnya, saya sangkutkan di pintu mikro-bus. Sedangkan saya, bergelantungan di pintu sepanjang Lembang hingga Ledeng.
Jalur menanjak dan jalan menurun yang tidak rata akhirnya bisa saya lewati dengan gemilang. Saya pun bisa lebih cepat hingga 5 kali lipatnya bila dibandingkan dengan menggunakan sepeda.
Satu Kilometer menjelang Ledeng, antrian kendaraan mulai terlihat. Mobil pun harus berjalan dengan kecepatan kurang dari 5 Kilometer per jam. Segera saya turun dari mikro-bus, menggelar sepeda lipat, dan menaikinya melewati sela-sela kemacetan kota Bandung.
Ini juga yang membuat saya senang. Ketika orang lain merasa jenuh menunggu di dalam kendaraannya karena kemacetan yang sangat menjemukan, saya bisa lebih cepat dari mereka hingga 5 kali lebih cepat. Bolehlah disebut bersenang-senang di tengah kemacetan orang lain. Belum lagi karena jalanan Ledeng hingga Salman ITB yang menurun, membuat saya tidak perlu capek-capek mengayuh sepeda.
Ternyata, kemacetan tidak hanya terjadi di Ledeng saja. Kemacetan juga terjadi di jalan Setiabudhi, Bandung. Penyebabnya, tentu saja Factory Outlet yang berjajar di jalan Setiabudhi. Kemacetan yang sama juga saya temui di jalan Cihampelas Bandung dengan sumber kemacetan adalah sebuah mall yang terletak di jalan tersebut.
Untuk kemacetan di jalan Setiabudhi, saya melewatinya dengan menaiki trotoar dan mengambil sedikit badan jalan antara mobil dan trotoar. Sedangkan ketika menghadapi kemacetan Cihampelas, saya memilih untuk melewati gang yang sejajar dengan jalan Cihampelas.
Sampai di sini runutan perjalanan masih nyaman dan asyik. Namun semua berubah ketika saya memutuskan untuk berbelok ke jalan yang menurun tajam di sebelah tempat bekas pemandian Cihampelas guna mempercepat perjalanan.
Jalan menurun yang cukup tajam ini hanya berupa tangga yang tersusun dengan bebatuan besar dan dirangkai oleh beton. Hasilnya, saya harus mengangkat sepeda setinggi kepala dan pelan-pelan menuruni satu per satu anak tangga sepanjang hampir 50 meter jauhnya. Hingga saya tiba di jembatan yang menghubungkan antara daratan yang terpisah oleh sungai Cikapundung.
Dari sini, ke Masjid Salman ITB sebenarnya hanya berjarak kurang dari 1 Kilometer. Namun, karena jalanan menanjak, membuat saya harus mengeluarkan tenaga ekstra guna mendorong dan menaiki sepeda.
Belum lagi di depan Kebun Binatang Bandung. Saya harus menghadapi tangga menaik yang cukup tinggi. Sehingga lagi-lagi harus mengangkat sepeda untuk melewati tangga yang menanjak. Kali ini tidak terlalu tinggi mengangkat sepeda, karena energi saya benar-benar hampir habis.
Kurang dari 10 menit, saya tiba di Salman ITB dengan tubuh penuh keringat. Kacaunya, saya langsung menemui tamu saya dari UIN SGD. Dengan keadaan seperti itu, saya langsung memberikan presentasi mengenai kajian-kajian di bidang jurnalisme warga.
Namun, lupakanlah tentang perjalanan dari Cihampelas ke Kebun Binatang yang penuh peluh itu. Karena saya hanya ingin mengingat perjalanan dari Lembang hingga tiba di Cihampelas.
Hal yang membuat senang dalam perjalanan tersebut, saya bisa mengaplikasikan ide saya kalau punya sepeda lipat: naik sepeda bila jalanan menurun, dan lipat sepeda kemudian naikan ke angkot bila jalanan menanjak. Yah, pesepeda abangan sekali kesannya. Namun, dengan kontur Bandung yang naik-turun seperti ini, bisa menghemat biaya transportasi hingga 50 persen.
Hal lainnya, saya benar-benar menikmati ketika bersenang-senang di atas penderitaan orang lain yang harus rela menunggu kemacetan di dalam mobilnya. Rasanya, pesepeda benar-benar meraja ketika itu. Jarak bisa ditempuh dengan lebih cepat dan tanpa polusi.
Namun, semua itu akan berakhir hari ini. Karena sebentar lagi saya harus mengembalikan sepeda lipat tersebut ke teman saya. Jadi, kalau ada yang berminat memberikan kado ulang tahun ke saya, berilah saja sepeda lipat yang praktis dan mudah dibawa ke mana-mana. Kalau bisa, sepeda lipatnya bisa disakuin di kantong baju. *ngarep*
11-11-11
Tak terasa sudah bulan Nopember. Ada yang ditunggu oleh milyaran orang di seluruh dunia pada Nopember ini, yaitu hari ini: 11 Nopember 2011, atau bisa ditulis dengan 11-11-11. Kenapa ditunggu? Karena hari ini dianggap unik, dengan rangkaian angka 1 berjumlah enam berjajar serta berurutan.
Rina Amalia Budiati, teman saya yang seorang blogger dari Tasikmalaya, menyebutnya sebagai hari pagar sedunia. Karena memang terlihat mirip pagar. Meskipun saya tahu persis rumahnya tidak memiliki pagar.
Karena uniknya, banyak orang-orang yang membuat hari besar dalam hidupnya pada hari ini. Mulai dari yang menikah seperti teman saya Yoke, membuat syukuran, bahkan pembukaan Sea Games pun digelar hari ini. Ada juga orang-orang tua yang nekad untuk melahirkan anak-anak yang tengah dikandungnya hari ini. Caranya melalui bedah sesar.
Saya pun merayakan hari ini sebagai hari istimewa saya. Yah, hari ini tepat ulang tahun saya yang ke-26 tahun, seperempat abad bonus 1 tahun. Masih tetap membawa-bawa angka 1.
Perkara angka tanggal dan bulan yang sama, saya mempercayai hal ini diturunkan secara genetis. Ibu saya berulang tahun tanggal 9 September. Pada tahun 1999, ketika orang lain merayakan hari 9-9-99, ibu saya merayakan ulang tahunnya yang ke-35 tahun. Dan kini anaknya merasakan hal yang sama.
Kembali ke ulang tahun, saya pikir 26 tahun bukan usia yang cukup muda untuk masih bisa berleha-leha dan berleyeh-leyeh. Bukan juga usia yang bisa diabaikan begitu saja seperti usia-usia saya sebelumnya.
Jujur, sebenarnya saya paling tidak suka menjadi semakin tua, meskipun hari ini jatuh pada 11-11-11 yang dinilai cukup apik secara susunan angka. Apalagi dengan kondisi saya yang masih belum apa-apa. Belum banyak menorehkan prestasi kehidupan. Belum banyak berbuat untuk orang banyak. Dan juga belum mampu menyibak banyak rahasia kehidupan.
Namun, hidup terus berlanjut tanpa peduli apa yang saya keluhkan. Saya hanya bisa berucap “Semua Selalu Ada Waktunya” sebagai alasan untuk keterbatasan diri ini berbuat lebih banyak. Meskipun saya terkadang skeptis bahkan apatis dengan ucapan itu, tapi yah sudah lah. Hidup dinikmati saja. Semakin dipikirin, malah semakin mumet dan ngak karuan.
Toh, pada akhirnya, hidup juga akan berakhir. Tanpa memandang tua atau muda, kalau sudah waktunya “pulang”, yah “pulang”. Semoga di sisa umur ini, saya selalu bisa menorehkan yang terbaik untuk banyak orang di sekitar saya.
Mari Apresiasi Supir Angkot yang Tidak Mengetem
Salah satu hal yang paling membuat saya bete ketika menggunakan sarana transportasi Angkutan Kota (Angkot) adalah kebiasaan mengetemnya. Soalnya, saya harus menunggu bukan hanya 1 – 2 menit saja, tetapi bisa sampai 15 menit, bahkan lebih.
Selain membuat waktu saya terbuang, seringkali angkot yang sedang mengetem ini menyebabkan berbagai kemacetan di beberapa ruas jalan kota Bandung. Beberapa di antaranya yang kerap saya temui adalah perempatan Merdeka – RE Martadinata dan depan RS Boromeus.
Di satu sisi, saya benar-benar kesal menaiki angkot yang kerap mengetem karena menghabiskan waktu di perjalanan saya. Namun, di sisi lain, saya juga merasa kasihan kepada mereka. Pasalnya, dengan semakin mudah masyarakat mencicil sepeda motor, pengguna jasa transportasi Angkot semakin lama semakin sedikit. Hal ini berimbas pada semakin kecilnya pendapatan supir Angkot.
Seiring dengan hal tersebut, tuntutan penghasilan para supir Angkot kian hari pun kian besar. Tidak saja untuk operasional kendaraan dan setoran kepada majikannya, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan dapur dan keluarganya yang semakin hari semakin besar pula.
Tak heran bila segala cara pun dikerahkan oleh supir Angkot untuk memperbanyak pendapatannya, seperti: mengetem agar angkotnya penuh, mengebut dan ugal-ugalan berlomba dengan supir angkot lainnya guna memperebutkan penumpang, hingga menekan biaya suku cadang Angkot dan kadang membuatnya menjadi tidak nyaman untuk ditumpangi.
Menunggu peran pemerintah pun tampaknya hanya mimpi belaka. Mereka hanya peduli dengan masyarakat menjelang pemilihan umum. Setelah terpilih, mereka langsung lupa dengan rakyat dan sibuk dengan urusan politiknya saja. Belum lagi dengan solusi-solusi pemerintahan saat ini yang tidak pernah solutif dan malah menambah masalah baru.
Sebagai masyarakat, mari kita bergerak secara mandiri untuk meningkatkan layanan Angkot di Bandung. Caranya, salah satunya dengan mengapresiasi para supir Angkot yang santun, ramah, murah senyum, tidak mengetem, dan tidak ugal-ugalan selama mengemudikan kendaraannya.
Bentuk apresiasinya pun bisa bermacam-macam. Mulai dari yang paling sederhana dengan mengucapkan terima kasih kepada supir Angkot. Bentuk lainnya, melebihkan ongkos Angkot sebesar seribu hingga 2 ribu Rupiah. Bila kita ikhlas memberi, insyAllah akan menjadi amalan yang akan dibalas dengan kebaikan lainnya oleh Tuhan di kemudian hari.
Semoga percikan ide solusi ini bisa memberikan dorongan untuk supir Angkot agar meningkatkan pelayanannya kepada penumpang dan masyarakat Bandung.
Berkontribusi untuk Masyarakat
“Andar, kapan pulang? Bapak punya banyak mangga, nih! Ada yang ngasih!” sahut bapak saya di ujung telepon. Saat itu saya sedang di luar kota, dan berjanji untuk segera berangkat ke Majalengka setelah urusan selesai.
Perihal dapat kiriman ini memang hal yang biasa bagi Bapak saya. Beliau adalah seorang penyiar sebuah radio swasta di Jatiwangi, Majalengka. JAF FM nama radionya.
Kalau bapak saya bersiaran, penggemarnya pun cukup banyak. SMS yang masuk bisa mencapai seratus dalam 1 jam. Belum lagi penelepon yang selalu berdesakan untuk berinteraksi ketika On-Air.
Selain berkirim pesan, cukup banyak juga pendengarnya yang gemar mengirimkan sesuatu untuk Bapak saya. Salah satunya adalah kiriman buah Mangga Harum Manis pada 23 Oktober 2011 silam. Kirimannya pun bukan hanya 2 – 3 buah, tapi 1 karung buah mangga dari kebun sang penggemar. Ukuran per buahnya pun tidak biasa, hampir 2 kali besar buah Apple merah yang katanya impor dari luar negeri itu.
Saking banyaknya, orang tua saya pun menyuruh saya membawa ke Bandung. Saya membawa hampir 1 kardus mie instan yang beratnya kira-kira mencapai 10 Kilogram. Untuk masalah rasa pun tidak main-main. Sangat manis dan membuat yang memakannya akan ketagihan. Artinya, penggemar Bapak saya memberikan buah berkualitas baik kepada idolanya.
Di lain kesempatan, pernah bapak saya juga mendapatkan kiriman sebuah semangka dari kebun sang penggemar. Ukurannya besar sekali. Diameternya mencapai 25 Centimeter dengan berat keseluruhan lebih dari 9 Kilogram. Lagi-lagi Bapak saya menyuruh-nyuruh saya untuk menuju Majalengka secepatnya. Tujuannya satu: menyantap habis semangka tersebut.
Berbicara mengenai penggemar bapak saya yang kerap mengirimkan hasil kebunnya, pengalaman dosen saya di kampus juga mencerminkan hal serupa. Mohammad Arief namanya, dan beliau merupakan mantan penyiar di Delta FM beberapa tahun silam.

Diameternya 25 Cm dan berat keseluruhannya mencapai 9 Kg. Dan lagi-lagi dari kebun penggemar Bapak saya.
Menjelang lebaran, Pak Arief biasanya mendapatkan kiriman bingkisan lebaran dari pendengarnya. Jumlahnya pun tidak kira-kira. Seringkali kali, ujar Pak Arief, ketika lebaran datang, rumahnya penuh sesak dengan kue lebaran kiriman penggemar.
Padahal, menjelang pertengahan Ramadhan, dirinya seringkali pesimis akan memiliki kue lebaran. Alasannya, gajinya sebagai penyiar ketika itu tidak akan cukup untuk membuat kue sebagai hidangan tamu pada Idul Fitri. Namun, atas kuasa-Nya, ternyata beliau memiliki kue lebaran yang berlimpah.
Ketika seseorang bermakna dan berguna bagi orang banyak, orang banyak ini dengan relanya akan berbondong-bondong memberikan yang terbaik. Bagaimana pun, di masyarakat, kontribusi seseorang terhadap masyarakatlah yang dilihat, bukan pada gelar dan kekayaannya.
Dalam hal ini, saya jadi teringat kesimpulan Karl Marx dalam tulisannya yang dikenal sebagai Reflections of a Young Man on The Choice of a Profession. Tulisan ini merupakan surat Karl Marx kepada ayahnya ketika menjalani tahun-tahun pertamanya kuliah.
Saya sendiri memiliki buku Marx on Religion dalam Bahasa Indonesia. Namun karena tidak saya bawa ketika membuat tulisan ini, jadi saya kutipkan Bahasa Inggrisnya yang saya cari dari internet. Berikut paragraf terakhir tulisannya.
If he works only for himself, he may perhaps become a famous man of learning, a great sage, an excellent poet, but he can never be a perfect, truly great man.
History calls those men the greatest who have ennobled themselves by working for the common good; experience acclaims as happiest the man who has made the greatest number of people happy; religion itself teaches us that the ideal being whom all strive to copy sacrificed himself for the sake of mankind, and who would dare to set at nought such judgments?
If we have chosen the position in life in which we can most of all work for mankind, no burdens can bow us down, because they are sacrifices for the benefit of all; then we shall experience no petty, limited, selfish joy, but our happiness will belong to millions, our deeds will live on quietly but perpetually at work, and over our ashes will be shed the hot tears of noble people.
Atau, dalam bahasa Islamnya, sesuai dengan hadist nabi, ”Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Desa Mandalamekar, Contoh Penerapan Citizen Journalism untuk Community Development
Berbicara implementasi Citizen Journalism, saya selalu menilai warga kotalah yang siap menerimanya. Ternyata, penilaian ini salah. Tak dikira, sebuah desa yang ada di pedalaman Tasikmalaya, bisa mengaplikasikannya untuk kebutuhan Community Development (pengembangan masyarakat).
Adalah Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Tasikmalaya. Saya mendapatkan informasi ini dari Maya Dewi Mustika yang janjian untuk mengunjungi desa tersebut bersama Rina Amalia Budiati pada September lalu. Karena mereka janjian di Facebook dalam setingan publik, akhirnya saya pergokilah serta menodong untuk turut serta. Alhamdulillah, mereka pun mengizinkannya.
Maya sendiri bermaksud melihat proses pengembangan Linux untuk desa dan penanaman hutan alam di Mandalamekar yang dinilai sukses oleh masyarakat dunia. Sedangkan Rina ingin melihat proses kreatif di balik pemanfaatan media radio dan situs web di Mandalamekar.
Kami berangkat ke Mandalamekar pada 26 September 2011 lalu dari Tasikmalaya. Jaraknya sebenarnya tidak jauh, hanya 30 Km dari Tasikmalaya. Namun, karena jalannya berbatu, berkelok, dan naik turun sepanjang setengah perjalanan, membuat perjalanan ke sana harus ditempuh dalam waktu 3 jam lamanya.
Pemberangkatan dimulai dari Terminal Padayungan, Tasikmalaya. Lama kami menunggu. Menurut informasi yang kami terima saat itu, mobil yang mengarah ke Desa Mandalamekar hanya ada 2 dan waktunya kira-kira antara jam 7 sampai jam 11an. Akhirnya kami sepakat untuk menunggu dari jam 7 pagi. Namun, kami baru menemukan mobilnya sekitar jam 9an. Itu pun belum sampai Desa Mandalamekar, tapi harus menggunakan ojek untuk tiba di lokasi yang kami tuju.
Dan perjalanan pun dimulai. Setengah perjalanan kami tempuh dengan cukup santai. Jalanan berkelok, mulus, lapang, dan menanjak, membuat perjalanan ini seperti kegiatan wisata saja. Namun, ketika mencapai wilayah Desa Salopa, Kecamatan Jatiwaras, jalanan berubah menjadi sempit, berbatu, berkelok, dan naik-turun. Mobil minibus yang kami tumpangi mulai memelan. Sedikit demi sedikit sang mobil menelusuri jengkal demi jengkal area Mandalamekar.
Karena terbatasnya transportasi di sana, membuat mobil penuh sesak dengan penumpang. Saya pun sempat berdiri di pintu mobil karena banyaknya ibu-ibu yang naik mobil ini. Malu saja, masa perempuan yang menggendong bayi suruh duduk di pintu. Tak hanya berdiri di pintu, saya juga mengikuti jejak sang kernet untuk duduk di atap mobil elf. Meskipun menderita karena guncangannya yang sangat keras dan khawatir terguling, tapi saya cukup menikmatinya.
Walaupun minim transportasi, ada hal yang menarik di sini. Karena mobil yang melewati pedesaan ini bisa dihitung dengan jari, warga pun mengetahui nama supir dan kernet setiap angkutannya. Tak hanya itu saja, warga pedesaan pun kerap menitipkan pembelian barang dan bon tagihan belanjaan untuk kliennya di Kota Tasikmalaya kepada kernet dan supir.
“Supaya lebih murah. Kalau ngak dititipin mah, bisa-bisa (keuntungan penjualan) habis sama ongkos,” ungkap Yono (25), kernet mobil yang kami tumpangi.
Tiga jam perjalanan kami tempuh, dan akhirnya kami tiba di daerah Cikujang, Desa Mandalamekar. Perjalanan ternyata belum selesai. Kami harus menempuh sekitar 3 Kilometer lagi menggunakan ojek untuk tiba di rumah pak Kepala Desa. Jalanan pun berkelok, naik-turun, dan berbatu. Meskipun miris dengan infrastruktur di sini, tapi saya cukup menikmati perjalanannya.
Akhirnya, kami tiba di kantor Desa Mandalamekar. Kami bertemu dengan Pak Abdul Jamaludin (56), staf desa Mandalamekar. Bersamanya kami berjalan sejauh kira-kira 1 Km menuju rumah pak Kades yang sudah menunggu kami sejak pagi. Kami tiba sekitar jam 12an.
Kang Yana Noviadi (43), sang kepala desa, banyak berbagi mengenai Desa Mandalamekar. Berkaitan dengan pengembangan citizen journalism di desa tersebut, Yana memaparkan bahwa dirinya mulai melalui radio komunitas berjuluk Ruyuk FM pada 2007 silam. Tujuannya sederhana, yaitu mempermudah penyebaran program penghijauan pada masyarakat Desa Mandalamekar.
Setiap harinya, Ruyuk FM bersiaran dari jam 19 hingga waktu yang tak ditentukan. “Sampai semaunya penyiar aja,” ungkap kang Yana. Biasanya, masyarakat yang setia mendengarkan radio ini, akan langsung memindahkan saluran radionya ke Ruyuk FM.
Meskipun semaunya, tapi radio ini tidak seenaknya bersiaran. Yana sendiri memfokuskan ada 4 hal yang dia agendakan untuk dipancarkan di Ruyuk FM, yaitu: Bahasa Sunda, Kesehatan, PNPM, dan desa, khususnya penghijauan.
Tidak berhenti hingga radio komunitas, kang Yana juga mengembangkan situs web. Tujuannya, untuk menggantikan fungsi pamflet yang berbiaya cukup tinggi. Selain itu, situs ini juga berfungsi memperkenalkan Desa Mandalamekar kepada dunia.
Sebagai mulanya, kang Yana mengundang komunitas pewarta warga untuk mengajarkan teknik jurnalisme kepada warganya. Tindak lanjut dari pelatihan ini adalah blog yang beralamatkan mandalamekar.wordpress.com. Beberapa tahun kemudian, kang Yana dan tim memutuskan untuk membuat Mandalamekar.or.id.
Pengembangan dan pemeliharaan konten di Manadalamekar.or.id dibantu oleh 4 orang pengisi, termasuk kang Yana sendiri. Menariknya, untuk memperbaharui situs, mereka harus melakukannya di tengah sawah untuk mendapatkan sinyal internet.
Situs Mandalamekar.or.id saya nilai cukup aktif dan sering diperbaharui. Biasanya mereka memperbaharui situsnya ketika ada kejadian yang bisa diangkat ke situs web. Namun, rata-rata mereka memperbaharui situsnya seminggu sekali.
Dari segi konten pun sangat lokal sekali. Salah satu tulisan yang sangat saya sukai di Mandalamekar.or.id adalah mengenai seorang guru SD Mandalamekar yang menghadiri sidang doktor siswanya dulu. Sangat mengharukan dan menginspirasi. Yang tak habis saya pikir, penulisnya bisa menangkap hal yang oleh orang-orang mungkin dianggap tidak biasa.
Berbicara tentang dampak media yang dikembangkan di Mandalamekar, yaitu radio komunitas Ruyuk FM dan Mandalamekar.or.id, ternyata sangat luar biasa.
Untuk program penghijauan, kang Yana dan tim berhasil mengajak warganya untuk tidak memotong pohon dan memperbanyak penanaman di lahan gundul. Bahkan, mereka berhasil menghijaukan daerah mata air di Mandalamekar. Karena penghijauan inilah, sawah di desa mereka kini tidak pernah kekurangan air lagi, meskipun pada musim kemarau dan desa-desa tetangga menderita kekeringan yang cukup parah.
Sedangkan tanggapan dari masyarakat dunia, Desa Mandalamekar melalui kang Irman Meilandi (38), berhasil mendapatkan penghargaan dari Seacology, sebuah lembaga dari Amerika. Mereka memenangkan hadiah sebesar 10 ribu Dollar Amerika untuk pengembangan desa. Berita tentang ini, kebetulan dimuat di Pikiran Rakyat Bandung.
Kang Yana juga sempat mengajak kami ke daerah bernama Karang Soak. Sebelum tahun 2004, daerah ini hanyalah lahan yang ditumbuhi ilalang. Namun, sejak 2004, lahan ini secara bertahap ditanami pepohonan. Hasilnya, saat ini Karang Soak telah menjadi daerah yang rindang dan nyaman serta penuh pepohonan.
Di sini juga kami bertemu dengan kang Irman. Ternyata, beliau ini adik kandung dari kang Yana. Menurut sang kakak, kang Irman inilah yang banyak menggagas soal pengembangan citizen journalism dan penghijauan di Mandalamekar.
Di rumah kang Yana, kang Irman banyak bercerita tentang usahanya mengembangkan masyarakat di berbagai penjuru di Indonesia Timur. Hingga akhirnya, dia pulang kembali ke kampung halamannya ini 1,5 tahun lalu. “Saya malu, masa saya bantu desa orang, tapi desa sendiri tidak saya bangun,” tutur kang Irman mengungkapkan latar belakangnya berkiprah kembali di Mandalamekar.
Kang Irman juga bercerita mengenai local wisdom (kearifan lokal) yang dimiliki sesepuh di Mandalamekar. Banyak ilmu berkenaan dengan alam yang masih dijalankan oleh para pendahulu Mandalamekar. Ilmu-ilmu itu mencakup ilmu tanam, cuaca, hingga pengobatan herbal.
Untuk mendokumentasikan semua itu, kang Irman bersama timnya di Mandalamekar tengah mendokumentasikan berbagai ilmu-ilmu pengobatan herbal yang dimiliki sesepuh Mandalamekar. Rencananya, pengobatan herbal ini akan dibukukan agar dapat diwarisi ke anak-cucu Mandalamekar kelak.
Usai Maghrib, kami pamit pulang. Kang Yana awalnya tidak mengizinkan. “Kalau mau ke sini, harusnya 2 hari. Ngak akan cukup kalau cuman sehari,” begitu ajakannya. Namun, apa daya, kami hanya punya waktu sehari. Mungkin lain waktu kami akan menyediakan waktu lebih lama. Agar bisa merasakan keheningan, ketenangan, ketentraman, dan kearifan di Mandalamekar.
Terima kasih, Mandalamekar. Semoga kamu terus menjadi inspirasi bagi kami dan warga dunia lainnya.
Laporan lainnya yang ditulis oleh Maya DM, bisa dilihat di situs SalmanITB.com. Untuk foto-foto, bisa dilihat di Flickr. Di bawah ini merupakan video profil dari Irman Meilandi yang dibuat oleh Seacology.org.
Memetik Tiga Pelajaran Kehidupan dari Steve Jobs
Tak ada seorang pun yang ingin mati. Meskipun orang yang ingin pergi ke surga, tidak ingin mati untuk menuju ke sana. Dan sampai sekarang, kematian adalah tujuan yang kita semua akan alami. Tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari kematian. – Steve Jobs
Steve Jobs ketika memberikan pidato di hadapan wisudawan Stanford University pada 2005 silam. (Foto: ecdn2.hark.com)
Penggalan pidato tersebut disampaikan Steve Jobs ketika memberikan sambutan kepada wisudawan di Stanford University 6 tahun silam. Ketika itu, pendiri Apple Inc ini bercerita perihal kanker pankreas yang telah dideritanya sejak setahun sebelumnya. Hal yang dilakukannya ketika itu, mengingatkan kepada wisudawan untuk selalu mempergunakan waktu yang sangat terbatas guna membuat sebuah karya dalam hidup.
Jatah waktu Steve Jobs untuk berkarya telah habis di dunia ini. Rabu, 5 Oktober 2011, pada usianya yang ke-56 tahun, mantan CEO Apple Inc tersebut menghembuskan nafas terakhir karena kanker yang telah dideritanya sejak 2004 silam.
Dunia telah kehilangan sosok besar kelahiran 24 Februari 1955 ini. Bagaimana tidak, Steve Jobs memiliki 3 kualifikasi sekaligus dalam dirinya yang diakui dunia: manajer, penemu, dan seniman.
Sebagai seorang manajer, Steve Jobs berhasil membawa Apple menjadi perusahaan yang paling dikagumi versi majalah Fortune pada 2008 hingga 2010. Pendapatan tahunan perusahaan ini pun mencapai 65,23 Milyar Dollar Amerika pada 2010 dengan 49.400 pegawai. Atas prestasinya ini pula, Steve Jobs dianugerahi sebagai CEO terbaik dalam 20 tahun terakhir versi situs Businessinsider.com.
Dari sisi penemu dan seniman, deretan produk Apple menjadi buktinya. Merujuk situs Nytimes.com, Steve Jobs mencatat 313 paten atas namanya. Paten-paten ini melingkupi rancangan Desktop Computer, iOS Based Devices, Laptop, sistem operasi, hingga monitor, keyboard, mouse, dan pengemasan. Bahkan iMac, iPod, dan iPhone yang notabenenya sebagai produk papan atas Apple, tak lepas dari sentuhan rancangannya juga.
Tak heran bila Barack Obama dalam pernyataannya di Blog Gedung Putih, menyampaikan bahwa Steve Jobs merupakan salah satu inovator Amerika terbesar. “Cukup berani untuk berpikir berbeda, cukup tidak malu untuk percaya bahwa dia bisa merubah dunia, dan cukup bertalenta untuk melakukannya,” ungkap Obama, seperti yang tertulis di whitehouse.gov/blog.
Steven Spielberg, salah satu pendiri Pixar dan sutradara ternama Amerika, memberikan penghargaan, “Steve Jobs adalah penemu terbesar sejak Thomas Edison. Dia menaruh dunia di ujung jari kita.”
Di balik segala kesuksesannya, ada kisah menarik terkait Steve Jobs yang ternyata penuh dengan usaha untuk keluar dari keputusasaannya. Kisah ini dia ceritakan ketika memberikan pidatonya dihadapan wisudawan Stanford University pada 12 Juni 2005 silam.
Ada 3 pelajaran kehidupan berharga yang Steve Jobs sampaikan, yaitu: menghubungkan titik (connecting the dots), cinta dan kehilangan (love and loss), dan kematian (death).
Pelajaran pertama, mengenai hubungan antar titik. Steve Jobs menyimpulkan bahwa masa lalu memiliki hubungan erat dengan masa depan. Dia mencontohkan dengan kisah masa lalunya ketika memutuskan berhenti kuliah di Reed College setelah melewati 6 bulan pertamanya.
Saat itu, penganut Budha ini tetap mengikuti perkuliahan di kelas-kelas yang dia suka. Namun, dia harus menebusnya dengan sesuatu yang dinilainya tidak romantis. Yah, Steve Jobs harus rela tidur di lantai kamar temannya, mengembalikan botol Coke agar mendapatkan uang 5 sen untuk membeli makanan, dan berjalan 11 Km lebih setiap Minggu malam ke kuil Khrisna Hare untuk mendapatkan makanan bergizi.
Salah satu kelas yang diikutinya adalah kaligrafi. Di kelas tersebut, Steve Jobs mempelajari jenis-jenis huruf dan kombinasinya untuk membuat seni kaligrafi terbaik. “Pelajaran ini sangat mengasyikan,” ungkapnya.
Ketika itu, anak kandung seorang muslim asal Syria ini tidak merasakan bahwa pelajaran kaligrafi mampu diaplikasikan dalam hidupnya. Hingga 10 tahun kemudian, ketika merancang komputer Macintosh pertama, boleh jadi Macintosh merupakan komputer pertama di dunia yang memiliki tipografi yang indah.
“Jika saya tidak pernah keluar (dari kuliah), saya tidak akan pernah ada di kelas kaligrafi, dan komputer pribadi mungkin tidak akan memiliki tipografi yang indah,” papar Steve Jobs menerangkan hubungan antar titik.
Dari cerita ini, bapak 4 anak ini berpesan bahwa kita harus percaya pada suatu titik dalam suatu fase kehidupan yang akan terkoneksi dengan masa depan. Bagaimana pun, sebuah kisah di masa lalu, akan menciptakan dan berguna di masa datang. Dan, pendekatan ini tidak akan menjatuhkan, justru akan membuat hidup kita menjadi lebih berbeda.
Pelajaran kedua, temukanlah aktivitas yang dicintai. Ketika dipecat dari Apple pada 1985, Steve Jobs benar-benar merasa terpuruk. Dia mengaku telah melakukan kesalahan publik dan merasa bahwa apa yang telah dibangunnya hancur berkeping-keping tanpa menyisakan apa pun.
Namun, perlahan-lahan timbul rasa cinta terhadap apa yang telah dilakukan sebelumnya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membangun semuanya dari awal. “Keadaan berat untuk menjadi sukses telah tergantikan dengan keringanan untuk menjadi pemula kembali. Ini membebaskan saya untuk masuk ke satu periode yang paling kreatif dalam hidup saya,” ungkap Steve Jobs berusaha meyakinkan dirinya kala itu.
Hasilnya, dalam 5 tahun, kakak novelis Mona Simpson ini, berhasil menjalankan perusahaan komputer barunya bernama NeXT, mengakuisisi Pixar, dan jatuh cinta pada seorang wanita yang kelak menjadi istrinya. Pixar sendiri berhasil membuahkan film animasi komputer pertama di dunia dan menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Sedangkan NeXT, diakuisisi Apple yang mengantarkan Steve Jobs menjadi CEO perusahaan berlogo apel digigit tersebut.
Steve Jobs menyimpulkan bahwa terkadang hidup penuh dengan kepedihan. Pada saat-saat seperti itu, lanjut Steve Jobs, jangan sampai kehilangan iman dan cintailah apa yang sedang dilakukan. “Jalan satu-satunya untuk melakukan pekerjaan terbesar adalah mencintai apa yang kamu lakukan. Jika kamu belum menemukannya, tetaplah mencari,” nasihat suami Laurene ini.
Dan pelajaran ketiga adalah menyoal kematian. Steve Jobs mengenang ketika dokter memvonisnya dengan kanker pankreas pada 2004. Dokter memprediksikan bahwa umur Steve Jobs tidak akan lebih dari 6 bulan dan menyarankannya untuk segera berpamitan kepada keluarga dan kerabat.
Meskipun begitu, ketika dokter mengambil sel-sel kanker dari pankreasnya di waktu yang lain, Steve Jobs dinyatakan bisa sembuh dengan operasi. Dan akhirnya pun dia menjalani operasi dan merasa sehat.
Kejadian ini membuat Steve Jobs sadar dan berpesan bahwa waktu yang dimiliki setiap manusia sangat terbatas. Lebih lanjut, penerima National Medal of Technology ini mengingatkan untuk tidak hidup dalam dogma dan pikiran orang lain serta tidak membiarkan opini orang lain mempengaruhi suara di dalam diri.
“Dan yang paling penting, miliki keberanian untuk mengikuti hati dan intuisimu. Bagaimana pun, mereka lebih tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan. Sedangkan yang lainnya adalah berikutnya,” pesan Steve Jobs.
Tiga hal yang disampaikan Steve Jobs dalam pidatonya ini memang tampak sederhana. Namun, siapa sangka, ketiga hal inilah yang akhirnya menelurkan tokoh fenomenal ini. Selamat jalan, Steve Jobs. Dunia akan merindukanmu.
Dipublikasikan di Kolom Jejaring Rubrik Opini HU Pikiran Rakyat Bandung pada Senin, 10 Oktober 2011.
5 Blogger Bandung Paling Berpengaruh dalam 5 Tahun Terakhir
Semalam, saya iseng-iseng menyusun 5 blogger Bandung paling berpengaruh di dunia maya. Tulisan ini sedianya saya buat untuk Uniknya.com, sebuah situs yang mengetengahkan hal-hal menarik di sekitar kita. Di situs ini, saya jadi kontributor rubrik teknologi.
Nah, kembali menyoal 5 blogger Bandung. Saya mengangkat 5 blogger ini karena beberapa pertimbangan. Pertama, soal keunikan dari masing-masing personal. Kedua, kontribusi mereka untuk mendorong komunitas blogger di Bandung. Dan ketiga, rutinitas menulis blog.
Jadi, inilah 5 blogger Bandung yang paling berpengaruh dalam 5 tahun terakhir ini:
1. Budi Rahardjo
Berbicara tentang blogger Bandung, salah satu yang paling banyak disebut namanya adalah Budi Rahardjo. Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB ini kerap kali memperkenalkan blog kepada mahasiswa dan masyarakat Bandung dalam setiap kesempatannya berbicara di depan publik.
Tulisannya pun banyak disukai pembaca. Hingga September 2011, blognya yang beralamat dirahard.wordpress.com, telah memiliki 2,7 juta kunjungan. Di situs blogs.indonesiamatters.com pun, blog Budi menempati ranking 3 se-Indonesia.
Selain sebagai blogger, Budi Rahardjo juga dikenal sebagai pakar keamanan jaringan komputer dan pendiri PT Insan Infonesia, sebuah perusahaan pengembang dan konsultan perangkat lunak.
2. Diki Andeas
Diki Andeas cukup populer di kalangan blogger dan masyarakat teknologi informasi di Indonesia. Pasalnya, programmer Ruby on Rails ini kerap menghibur masyarakat internet Indonesia dengan komik stripnya yang beralamat di chickenstrip.wordpress.com.
Dari kegiatan rutin menggambar Chickenstrip inilah akhirnya aktivis komunitas Bandung Blog Village (BBV) ini ditawari menerbitkan buku “Why Did The Chicken Browse The Social Media?” oleh Elex Media Komputindo. Tak hanya itu saja, Chickenstrip Diki juga diajak menghiasi halaman majalah PC Plus dan Kompas Techno secara rutin.
Blognya sendiri sudah mencatat angka 1 juta lebih kunjungan. Per harinya, Diki mengaku mendapatkan 800 hingga 1.500 kunjungan. Penggemar Chickenstrip pun mencapai angka 7 ribu orang di halaman penggemar Facebooknya.
Saat ini, Diki tengah mempersiapkan buku keduanya bersama Si Ayam, tokoh utama dalam Chickenstrip.
3. Ikhlasul Amal
Blogger Bandung ketiga adalah Ikhlasul Amal yang kerap mempopulerkan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah yang baik dan benar. Blognya di direktif.web.id umumnya mengusung wacana dan pengalaman di lingkungan teknologi informasi.
Tak hanya media tulis saja, Ikhlasul Amal juga aktif dalam dunia blog foto melalui Flickr.com. Selain aktif di ranah online, Ikhlasul Amal juga kerap aktif di dunia offline. Salah satunya adalah mendorong terwujudnya komunitas BdgFlickr, komunitas fotografi dan pengguna Flickr Bandung.
Ikhlasul Amal juga kerap mengikuti kegiatan komunitas Bandung Kota Blogger (Batagor.net) dan Bandung Blog Village (BBV). Keduanya merupakan 2 komunitas blogger terbesar di Kota Kembang.
4. Kuncoro Wastuwibowo
Pegawai salah satu perusahaan BUMN di bidang telekomunikasi di Bandung ini kerap mencurahkan ceritanya seputar teknologi informasi di blognya. Blognya pun tidak hanya satu, tetapi lebih dari 7 blog.
Hebatnya, semuanya terisi secara rutin. Beberapa blognya antara lain kun.co.ro, kuncoro.com, kuncoro.wordpress.com, kuncoro.web.id, koen.web.id, kopi.pro, dan koen.cz.
Kuncoro juga kerap memberikan pelatihan blog dan menjadikan hal tersebut sebagai program kerja perusahaannya guna meningkatkan interaksi dengan pengguna internet.
Penyuka kopi ini juga aktif di keanggotaan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), sebuah organisasi internasional yang beranggotakan para insinyur kelistrikan dan elektro dengan tujuan mengembangkan teknologi untuk meningkatkan harkat kemanusiaan.
Sejak 3 tahun ke belakang, penyuka musik orkestra ini pindah ke Jakarta terkait pekerjaannya.
5. Herry Constadi
Meskipun pekerjaannya adalah arsitektur, tetapi Herry Constadi punya pengaruh besar dalam pergerakan blogger di Bandung. Pria yang kerap disapa Aki ini salah satu orang penggerak terwujudnya komunitas Bandung Kota Blogger (Batagor.net).
Herry juga kerap menginisiasi berbagai gerakan amal yang ditujukan agar blogger Bandung lebih peduli pada sesama yang kekurangan.
Meskipun usianya telah mencapai 54 tahun, pemilik blog rumahkayubekas.net ini sangat menyukai olah raga lari. Hitungannya pun bukan lagi 1 – 2 Kilometer. Namun sudah mencapai puluhan Kilometer.
Kini Herry juga aktif di komunitas IndoRunners, komunitas penyuka olah raga berlari.
Steve Jobs, Sang Maestro Dunia Komputer Modern
Pada akhir Agustus 2011 lalu, Steve Jobs mengundurkan diri dari Apple Inc. Tidak ada alasan pasti terkait mundurnya Steve Jobs. Namun, banyak pihak menduga pendiri perusahaan Apple ini mundur lantaran penyakit kanker pankreas yang telah dideritanya sejak 2004 silam.
Kabar ini mengejutkan banyak pihak, khususnya perusahaan berlambang buah apel ini. Saham Apple langsung anjlok seketika dan banyak pihak menyangsikan nasib perusahaan yang sukses menelurkan komputer tablet pertama di dunia, iPad. Bagaimana pun, selama ini Steve Jobs lah tulang punggung keberhasilan Apple di era milenium ketiga.
Meskipun begitu, dunia seharusnya bangga memiliki tokoh yang tergolong revolusioner dan berpandangan jauh ke depan ikhwal teknologi ini. Melalui Apple, Steve Jobs banyak mengubah wajah dunia untuk bersentuhan dengan teknologi dari masa depan.
Anak Kandung Seorang Muslim Suriah
Steven Paul Jobs, begitulah nama lengkapnya, dilahirkan di San Fransisco pada 24 Februari 1955 dari pasangan Abdulfattah Jandali dan Joanne Carole Schieble. Ayah Steve sendiri adalah seorang muslim asal Suriah yang kelak menjadi profesor ilmu politik. Karena tidak siap memiliki anak ketika itu, akhirnya Abdulfattah memutuskan agar Steve Jobs diadopsi oleh orang lain.
Meskipun lahir dari ayah seorang muslim, tetapi Steve Jobs tidak pernah berkenalan dengan Islam. Bahkan, pada 1970an, dirinya memutuskan untuk pergi ke India guna mencari pencerahan spiritual. Setelah kembali, Steve Jobs menjadi penganut Budha dengan kepala botak dan memakai pakaian tradisional biksu India.
Masa sekolah menengahnya dia lewatkan di SMP Cupertino dan SMA Homestead di Cupertino, California. Ketika itu, Steve Jobs sudah memiliki ketertarikan dengan dunia komputer. Usai jam pelajaran sekolah, dia sering mengunjungi perusahaan Hewlett-Packard di Palo Alto, California. Hewlett-Packard sendiri ketika itu merupakan perusahaan yang bergerak di bisnis komputer server.
Pada 1971, Steve Jobs bertemu dengan Steve Wozniak yang kelak sama-sama mendirikan Apple 5 tahun setelahnya. Steve Wozniak yang waktu itu berusia 21 tahun, merekrut Steve Jobs yang masih berusia 16 tahun untuk bersama-sama bekerja sebagai pekerja musim panas.
Usai lulus SMA pada 1972, Steve Jobs berkuliah di Reed College di Portland, Oregon. Meskipun begitu, dia hanya bertahan selama 1 semeter dan akhirnya keluar. Meskipun keluar, dia tetap melanjutkan belajar di Reed College, meskipun tanpa gelar. Selama itu pula, dia tidur di lantai kamar teman-temannya, mengembalikan botol Coke untuk mendapatkan uang, dan pergi ke kuil lokal Hare Krishna untuk mendapatkan makanan tambahan gratis.
Tampaknya, hal inilah yang akhirnya membentuk mental CEO terbaik versi Fortune Magazine dan Businessinsider.com ini.
Steve Jobs kembali ke California pada 1974 dan bekerja sebagai teknisi di Atari, perusahaan pembuat video games populer ketika itu. Bersama Steve Wozniak, Steve Jobs juga mulai menghadiri pertemuan Klub Komputer Homebrew yang ditujukan untuk mereka yang tertarik konsep komputer rumah.
Dari Apple Sampai Pixar
Pada 1976, Steve Jobs bersama Ronald Wayne dan Steve Wozniak sepakat mendirikan sebuah perusahaan bernama Apple Computer Company.
Pria yang sangat berkuasa di bidang bisnis versi Fortune Magazine pada 2007 ini cukup memegang peranan di 9 tahun pertama keberadaan perusahaan Apple. Pada 1984, ketika perusahaan Apple terguncang karena tidak lakunya komputer Apple Lisa lantaran harganya yang terlalu tinggi, Steve Jobs hadir dengan menawarkan komputer Macintosh.
Steve Jobs yang ketika itu mengepalai divisi Macintosh memperkenalkan komputer Apple Macintosh yang merupakan komputer kecil pertama berbasiskan grafis. Hasilnya, komputer ini terjual sebanyak 50 ribu unit dalam waktu 74 hari. Capaian yang sangat luar biasa ketika itu.
Namun, peran Steve Jobs di Apple ketika itu, tidaklah lama. Setahun usai peluncuran Macintosh, dia meninggalkan Apple lantaran konflik internal. Akhirnya dia mendirikan perusahaan komputer lainnya berjuluk NeXT Computer untuk mengembangkan berbagai teknologi masa depan.
Tak hanya membuat NeXT Computer, Steve Jobs juga membeli The Graphic Group, sebuah divisi grafis komputer dari Lucasfilm. Divisi ini akhirnya berganti nama menjadi Pixar dan menelurkan film-film animasi yang dinilai sukses di pasaran.
Beberapa film yang pernah diproduksi oleh Pixar antara lain Toy Story (1995), A Bug’s Life (1998), Toy Story 2 (1999), Monster Inc (2001), Finding Nemo (2003), The Incredibles (2004), Cars (2006), Ratatouille (2007), WALL-E (2008), Up (2009), dan Toy Story 3 (2010). Bahkan film Finding Nemo, The Incredibles, Ratatouille, WALL-E, Up, dan Toy Story 3 mendapatkan penghargaan Academy Award untuk Fitur Animasi Terbaik.
Manajer Sekaligus Seniman
Pada 1996, Apple mengumumkan mengakuisisi NeXT yang membawa Steve Jobs kembali ke perusahaan yang telah dibangunnya. Karena terjadi penggulingan Gil Amelio, CEO Apple ketika itu, membawa Steve Jobs menduduki posisi sebagai CEO Apple dengan gaji yang sangat kecil sekali, 1 Dollar Amerika per bulan.
Kesempatan ini tampaknya tidak disia-siakan oleh Steve Jobs untuk kembali menciptakan masa depan di dunia teknologi informasi. Pada 1998, di bawah komandonya, Apple meluncurkan iMac yang mampu mencatat untung bagi Apple selama 4 kuarter berturut-turut.
Tak berhenti di situ, pada 2001, Apple kembali menggemparkan dunia dengan merilis MP3 portabel bertajuk iPod. Produk ini terjual sebanyak 4,4 juta unit. Kesuksesan ini disusul oleh iTunes Music Store pada 2003 yang dengan sempurna merubah peta bisnis pemutar musik portabel di dunia.
Pada 2007, Apple meluncurkan sebuah ponsel cerdas tanpa keyboard bertajuk iPhone. Kemudian disusul pada 2010, Apple mengguncang dunia komputer tablet dengan meluncurkan iPad. Produk ini terjual 3 juta unit berselang 80 hari usai peluncurannya. Hingga akhir 2010, Apple berhasil menjual 14,8 juta iPad ke seluruh dunia. Jumlah ini merepresentasikan 75 persen penjualan komputer tablet dunia.
Peran Steve Jobs di perusahaan Apple tidak hanya sekedar CEO. Dia juga merupakan perancang produk komputer yang berbakat. Sejak berdirinya Apple, 313 paten tercatat atas namanya. Paten-paten ini melingkupi rancangan Desktop Computer, iOS Based Devices, Laptop, sistem operasi, hingga monitor, keyboard, mouse, dan pengemasan. Bahkan iMac, iPod, dan iPhone yang notabenenya sebagai produk papan atas Apple, merupakan hasil rancangan Steve Jobs.
Usai mundur, banyak orang menandai Steve Jobs sebagai tokoh yang luar biasa. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai Thomas Alva Edison dan Henry Ford dalam bidang komputer modern. Hal ini dikarenakan Steve Jobs telah mempelopori beberapa penemuan dalam bidang komputer seperti Macintosh, iPod, iPhone, dan iPad.
Dipublikasikan di Suplemen Cakrawala HU Pikiran Rakyat Bandung pada Kamis, 15 September 2011.
16 Agustus 2007 – Sebuah Renungan Menulis
Tepat 4 tahun lalu, Kamis 16 Agustus 2007. Ketika itu pukul 10 pagi, dan seperti biasa saya baru saja terbangun dari tidur. Sebuah SMS dari seorang teman tiba-tiba menyapa, “Yudha, tulisanmu dimuat di PR hari ini.” Tanpa pikir panjang, saya langsung mencari penjual koran di sekitar kostan saya di bilangan Cikutra Bandung.
Karena hari sudah terlalu siang, tak satu pun tukang koran masih menjajakan korannya saat itu. Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung menuju kantor LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) tempat saya beraktivitas. Waktu itu, mereka memang berlangganan Pikiran Rakyat Bandung.
Setibanya di kantor LSM, saya langsung menuju tempat penyimpanan koran dan mengambil koran terbesar di Jawa Barat tersebut. Saya langsung membuka suplemen Cakrawala, halaman yang memuat tulisan saya. Benar saja, di pojok kanan atas halaman tiga, tulisan beserta nama saya bertengger.
Saya langsung menghela nafas dan tersenyum senang. Saya juga tidak bosan-bosannya membaca tulisan pertama saya yang dimuat di koran itu. Maklum, selama 6 tahun sebelumnya, saya kerap mengirimkan tulisan ke PR, dan selama itu pula tulisan saya tidak pernah dimuat.
Kemunculan tulisan saya pertama kali ini tidak lepas dari jasa wartawan PR yang mewawancarai saya tentang Linux sebulan sebelumnya. Dewi Irma namanya, dan dia merupakan kontributor suplemen Kampus Pikiran Rakyat. Ketika itu, saya sempat bertanya tentang peluang untuk mengirimkan tulisan ke PR, dan dia pun menyarankan untuk saya menghubungi kang Muhtar Ibnu Thalab, redaktur Cakralawa waktu itu.
Oleh beliau, saya dipersilahkan menulis tentang open source dan Linux. “Kalau memang bagus, nanti saya muat,” begitu pesan beliau.
Beberapa hari setelah berkomunikasi dengan kang Muhtar, saya mengirimkan tulisan berjudul “FLOSS, Pilihan Cerdas Bangsa Cerdas”. Sela beberapa hari, cita-cita menulis di Pikiran Rakyat pun tercapai, dan tulisan tersebut jadi tulisan pertama saya.
Sejak saat itu, menulis di koran menjadi salah satu aktivitas dan kegemaran saya. Bahkan, pernah beberapa bulan saya hidup menggantungkan diri dari honor menulis saya di PR.
Banyak pengalaman yang saya dapat seiring semakin banyaknya tulisan saya bertengger di koran. Salah satunya ketika saya menulis “Asyiknya Belajar dengan Linux Edubuntu”. Gara-gara tulisan tersebut, Dr. Benhard Sitohang, dosen Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI) ITB, mengundang saya untuk berbincang-bincang mengenai sosialisasi Open Source di dunia pendidikan. Ketika itu, beliau menjabat sebagai Ketua Pusat Pengembangan Open Source Software (POSS) ITB.
Pengalaman lainnya ketika saya hampir putus asa gara-gara tulisan-tulisan saya tidak pernah dimuat dan tidak pernah ada kabarnya. Saya pun berinisiatif untuk menyunting dan mengirimkan kembali tulisan-tulisan tersebut, tapi tetap saja tidak dimuat dan tidak ada kabarnya.
Saat itu saya benar-benar merasa bahwa kemampuan menulis saya tampaknya sudah dinilai buruk oleh orang. Saya juga merasa bahwa orang menilai tema-tema yang saya ajukan sudah tidak menarik lagi. Saya benar-benar merasa jatuh dan terpuruk ketika itu.
Namun, di tengah keputusasan itu, di Kamis pagi tanggal 13 Maret 2008, bos saya waktu itu mengirimkan SMS, “Wah, PR hari ini, semuanya tulisan Yudha!” Dimaksud bos saya itu bukan berarti semua halaman PR, tapi hanya suplemen Cakrawala saja. Itu pun bukan semuanya tulisan saya, tapi sebagian besar adalah tulisan saya.
Yah, tulisan-tulisan saya yang tidak kabarnya itu, dimuat semuanya hari itu. Empat tulisan saya mewarnai 3 halaman suplemen Cakrawala. Satu tulisan memenuhi halaman pertama, satu tulisan memenuhi 1/2 halaman kedua, dan dua tulisan memenuhi 2/3 halaman ketiga. Sebagai rasa syukur, saya langsung membelikan ponsel untuk orang tua saya yang waktu itu belum memiliki ponsel.
Mengenai ketiadaan kabar tulisan ini, pernah saya alami juga di awal 2011 ini. Saya berusaha optimis dengan belajar dari pengalaman yang lalu. Namun, ketika ditunggu-tunggu, tulisannya tidak kunjung dimuat. Sang redaktur waktu itu menilai tulisan saya terlalu banyak memaparkan konsep dan kurang praktis. Hal ini tidak cocok dengan konten Cakrawala yang berkonsep praktis dan ditujukan untuk khalayak umum.
Akhirnya saya pun mengirimkannya ke kolom Jejaring di rubrik Opini koran Pikiran Rakyat. Hasilnya, tulisan saya pun dimuat. Beberapa tulisan yang lebih konseptual dan beralirankan opini pun, saya coba kirimkan juga ke kolom Jejaring dan dimuat.
Dari segi tema, tulisan saya lambat laun berubah mengikuti bidang dan aktivitas yang saya geluti. Awal-awal menulis, tema tulisan saya lebih banyak mengenai Linux dan Open Source. Hal ini berkaitan dengan aktivitas saya di komunitas Klub Linux Bandung (KLuB).
Namun selepas saya meninggalkan komunitas ini, tema tulisan saya banyak berubah. Saya lebih banyak menulis tentang internet dan teknologi informasi yang lebih populer. Terakhir, di rubrik Opini, saya lebih banyak mengeksplorasi mengenai online citizen journalism.
Meskipun tulisan saya banyak dimuat di media massa cetak, tetapi tidak jarang juga ditolak. Selain tulisan yang tidak sesuai segmentasinya, banyak tulisan ditolak karena tidak ada keterkaitan antara tema yang ditulis dengan aktivitas saya.

Salah satu tulisan saya di kolom Jejaring rubrik Opini HU Pikiran Rakyat Bandung (Foto: Fauzan Alfi Agirachman Mudaram)
Contohnya sewaktu saya menulis opini tentang gempa ditinjau dari ketidakpedulian masyarakat terhadap bencana. Redaktur Opini tidak meloloskannya karena melihat aktivitas saya tidak berkaitan dengan topik. Dengan kata lain, tulisan saya tidak sesuai dengan konsep intelektual publik. Mengenai konsep intelektual publik ini, insyAllah akan saya paparkan lebih lanjut dalam tulisan lainnya.
Oh, iya. Bila ada yang bertanya, mengapa kebanyakan tulisan saya dikirimkan ke Pikiran Rakyat? Karena saya menilai bahwa Pikiran Rakyat menyediakan banyak ruang untuk masyarakat mengekspresikan dirinya melalui tulisan. Setidaknya, ada 5 ruang yang saya ketahui, yaitu: forum pendidikan (untuk guru dan praktisi pendidikan), Cakrawala (berkaitan dengan sains dan teknologi praktis), Kampus (untuk mahasiswa dan dosen), Khazanah (berkaitan dengan sastra), dan Opini. Pembahasan mengenai ruang-ruang di media massa koran ini, insyAllah akan saya paparkan lebih lanjut dalam tulisan lainnya.
Berbicara tentang menulis di koran dan pengalaman-pengalaman menarik yang mengikutinya tidak akan pernah habis dibahas. Namun, kepopuleran dan kesempatan menambah uang saku, bukan tujuan utamanya. Berkontribusi untuk masyarakat dan mampu memperbaiki kesadaran mereka melalui tulisan, menurut saya hal inilah yang harus dibangun oleh setiap penulis. Tidak hanya berkontribusi terhadap wawasan masyarakat, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk bergerak melakukan kebaikan dari hari ke hari.
Sekolah dan Kontribusi Masyarakat
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sekolah-sekolah di pelosok-pelosok desa pastinya memiliki sarana dan prasarana belajar yang buruk dan terbatas. Tembok bilik dihiasi lubang-lubang hasil “kreasi” binatang pengerat dengan atap yang bolong, menjadi fitur standar sebuah sekolah di pedesaan. Belum lagi dengan meja dan bangku reotnya serta buku yang kurang, membuat sekolah di desa semakin mengkhawatirkan saja.
Pagi kemarin (15/7) saya diajak oleh bu Elly Priyatni, Direktur Rumah Amal Salman ITB, dan mba Jama’ah Halid, Manajer Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) Salman ITB ke beberapa sekolah madrasah di Kabupaten Bandung Barat. Jarak tempuhnya memang terbilang dekat dari Bandung, hanya sekitar 1,5 jam dari Salman ITB ke arah Barat. Namun, kondisinya sangat jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya di Bandung.
Kali ini, kami merencanakan untuk mengunjungi Desa Ciroyom, Kecamatan Cipendeuy, Kabupaten Bandung Barat. LPP Salman ITB hendak menengok keadaan 3 sekolah madrasah di sana sembari mendaftar kebutuhan apa yang bisa dibantu oleh Salman ITB.
Usai melewati rimbunan kebun dan bentangan sawah yang luas, akhirnya kami tiba di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muslim Ciroyom 2, sekolah berbasis Islam setingkat SD. Luas tanahnya lebih kurang hanya sebesar 2 kali lapangan Voli. Di atasnya, terdapat 3 ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar murid. Masalah fasilitas, sebagian ruangannya masih bertembok bilik seadanya dengan lubang tikus di beberapa bagiannya.
Guru yang tersedia di sekolah ini hanya 7 orang jumlahnya. Sedangkan total muridnya dari kelas 1 sampai 6, hanya 82 orang. “Kemarin kami baru meluluskan 8 orang siswa,” tutur bu Aminah, kepala sekolah MI Muslim Ciroyom 2.
Bila waktu belajar tiba, biasanya satu ruangan kelas dibagi menjadi 2 bagian. Guru pun mengajar bergantian. Pertama-tama sang guru menerangkan untuk kelas yang satu, kemudian setelah selesai dan memberikan tugas, menerangkan untuk kelas yang lainnya.
Meskipun begitu, jumlah siswa di sekolah ini lambat laun meningkat. Bila tahun lalu sekolah ini hanya mendapatkan 10 orang siswa, tapi tahun ini jumlah yang mendaftar sudah lebih dari 10 anak. “Biasanya mereka (calon siswa) mendaftar akhir-akhir (menjelang penutupan pendaftaran),” ungkap bu Aminah.
Mengenai masih buruknya sarana dan prasarana sekolahnya, Aminah banyak terbantu oleh donasi dari masyarakat. Elly merupakan salah satu pihak yang pernah membantu sekolah ini. Ketika 5 tahun lalu beliau mengunjungi sekolah ini, bangkunya sudah tidak layak untuk digunakan. Selain itu, sekolah ini pun ketika itu tidak memiliki toilet sama sekali. Sehingga ketika ada anak yang ingin buang air, harus pergi ke rumah warga, atau bahkan harus pergi ke rumahnya sendiri.
Beruntung ketika itu bu Elly dan rekan-rekan pengajiannya memiliki rezeki berlebih. Sehingga bangku dan meja yang tidak layak digunakan, digantikan dengan meja dan bangku yang kokoh. Selain itu, dibangun juga kamar mandi untuk kebutuhan pendukung kegiatan belajar-mengajar di sekolah tersebut.
Ketika disinggung tentang peran pemerintah, bu Aminah mengaku pernah mendapatkan bantuan Departemen Agama melalui program Gebyar MI. Pihaknya mendapatkan dana sebesar 180 juta Rupiah untuk membangun sarana dan prasarana sekolah. Dengan dana tersebut, sekolah berhasil membangun 2 kelas baru berdinding tembok dan berlantai keramik.
Meskipun begitu, bu Aminah tidak mampu menggunakan dana tersebut dengan maksimal. Pasalnya, setelah dananya tiba di tangannya, semua pengadaan sarana dan prasarana harus menggunakan perusahaan yang ditunjuk oleh pemberi dana, termasuk pembangunan gedung kelas baru.
Bu Aminah sejujurnya sangat menyayangkan sikap ini. Karena beberapa sarana dan prasarana tidak bisa digunakan secara maksimal oleh siswa. Bu Aminah mencontohkan dengan pengadaan buku. Dana yang dianggarkan untuk buku mencapai 50 juta Rupiah. Meskipun begitu, buku-buku yang diberikan lebih cocok untuk orang dewasa, dan tidak untuk siswanya. “Padahal bila dikelola oleh kami (pihak sekolah), dananya bisa kami gunakan untuk membangun ruang kelas baru dan membelikan buku-buku yang sesuai untuk siswa,” ungkap Bu Aminah.
Dalam hal ini, Bu Aminah lebih senang donasi dari masyarakat. Pasalnya, masyarakat mendonasikan sarana dan prasarana yang benar-benar dibutuhkan oleh pihaknya.
LPP Salman ITB sendiri sebelumnya pernah mengirimkan alat bantu peraga untuk belajar siswa. Tidak hanya alat bantu, LPP Salman ITB juga memberikan pelatihan untuk menggunakannya.
Mba Jim, begitu mba Jama’ah Halid biasa disapa, menyampaikan bahwa pihaknya akan membantu menyediakan buku-buku yang dibutuhkan oleh siswa MI Muslim Ciroyom 2. Meskipun begitu, tidak semua buku akan disediakan oleh pihak LPP Salman ITB karena keterbatasan sumber daya.
Selain itu, pihak LPP Salman ITB melalui mba Jim juga menawarkan pelatihan Teknologi Informasi dan Komnikasi (TIK) untuk guru. Harapannya, guru mampu menggunakan TIK untuk membuat kegiatan belajar-mengajar menjadi kreatif dan menyenangkan.
***
Sekolah lainnya yang kami kunjungi adalah madrasah Karya Mandiri. Madrasah ini terdiri dari 2 sekolah, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang setingkat SMP, dan Madrasah Aliyah (MA) yang setingkat SMA. Keduanya dikelola oleh Yayasan Karya Mandiri.
Bu Elly pernah membantu mengajar di madrasah ini. Beliau bercerita bahwa sebelum sekolah ini dibangun, banyak anak-anak yang memilih tidak bersekolah. Umumnya mereka membantu orang tuanya untuk membuat genting.
Meskipun sama-sama berada di pelosok desa, sekolah ini terbilang baik dari segi kualitas bangunannya. Temboknya sudah kokoh karena merupakan tembok permanen. Ruang kelas pun sudah cukup banyak untuk menampung siswanya belajar. Wajar, karena sekolah ini dibangun atas kesadaran pencetusnya untuk mencerdaskan bangsa dan mempersempit kesenjangan sosial yang ada.
Di tempat ini, mba Jim menawarkan bantuan berupa pelatihan ICT untuk guru. Selain itu, mba Jim juga menawarkan bantuan pendampingan siswa kelas 3 MA Karya Mandiri untuk bisa berkuliah di PTN. Meskipun sekolah ini terbilang bagus dari segi bangunan, tetapi lulusannya belum banyak yang meneruskan ke perguruan tinggi. Selain masalah biaya, dari segi prestasi belajar juga dinilai masih di bawah rata-rata.
***
Pendidikan memang hak setiap warga negara. Dalam Islam, seorang muslim juga diwajibkan untuk menuntut ilmu mulai dari buaian ibu hingga liang lahat. Namun, akses pendidikan di negara ini tidak semulus jalan tol yang kami lalui hari ini. Keterbatasan sarana dan prasarana, mahalnya biaya pendidikan, hingga sulitnya akses buku-buku pelajaran, membuat pendidikan tidak bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah.
Saya rasa, pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan pagi ini adalah mengenai kontribusi masyarakat terhadap dunia pendidikan. Pendidikan ternyata lebih membutuhkan peran serta masyarakat ketimbang pemerintah. Meskipun kecil kontribusi yang diberikan masyarakat terhadap dunia pendidikan, tetapi manfaatnya sangat besar.
Semoga di saat-saat ke depan semakin banyak orang yang berkontribusi di bidang pendidikan untuk Indonesia yang lebih baik lagi. Amin.






























