…Verba Volant, Scripta Manent

Racikan Gerimis, Malam, dan Bandung a la Kafe Tera Walk Station

leave a comment »


Foto: cdninstagram.com

Pintu perlintasan Kereta Api di Jalan Merdeka Bandung tiba-tiba saja berbunyi, tanda palang perlintasan segera tertutup. Tak sampai satu menit, sebuah kereta api melintas dari timur ke barat. Serta merta juga, getaran akibat lewatnya “Ular Besi” itu tiba di telapak kaki saya. Sambil menikmati irama getarannya hingga ke sekujur tubuh, secangkir kopi perlahan-lahan saya minum. Sembari menunggu hidangan selanjutnya tiba di meja saya.

Barangkali, itulah salah satu hiburan yang disuguhkan oleh Kafe Tera Walk Station, di Hotel Panghegar Bandung. Jaraknya dengan rel kereta api sendiri sangat dekat, hanya terhalang jalan kecil selebar 3 mobil pribadi berjuluk Jalan Tera. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan pengelola hotel dengan membuat kafe berkonsep stasiun kereta api abad 19. “Bila orang lain menilai rel kereta api sebagai gangguan, kami justru membuatnya jadi hiburan,” ungkap Euis Rosita, pemilik kafe.

Kafe Tera Walk Station sendiri berada di sisi utara Hotel Panghegar Bandung. Kesan tema stasiun kereta api kuno sudah terasa ketika saya melangkahkan kaki di pintu masuk kafe. Berbagai aksesoris khas stasiun kereta api seperti lonceng dan mebel berbentuk loket, langsung menyambut pendatangnya. Di dinding atasnya terdapat lukisan kereta api tua, lengkap dengan lokomotif berbahan bakar batu bara. Tak lupa, foto-foto lokomotif tua juga berjejer apik di dinding berwarna putih di bawahnya.

Untuk memperkuat kesan tema stasiun tua, Kafe Tera Walk Station juga menempatkan beberapa set mebel kursi dan meja tamu tua dari era nenek-kakek saya. Mebel-mebel ini umumnya berbahan kayu jati yang dipadukan dengan rotan. Kesan ini semakin kuat dengan keberadaan pemutar piringan hitam khas tahun 1950-an di tengahnya.

Di bagian lainnya, tampak beberapa rak dan bufet berbahan kayu jati. Di setiap rak berjejer rapih guci, patung, buku, serta toples makanan bergaya tahun 1940-an. Kesan ini semakin kuat dengan keberadaan beberapa aksesoris sezaman, seperti mesin jahit, radio, dan gilingan kopi. Tak lupa juga lampu dan kipas angin bernada serupa, turut membawa saya hanyut ke masa lalu.

Di sisi lain, berjejer sofa-sofa empuk berwarna merah menyala. Setiap sofa bisa memuat 3 orang. Sekilas, mebel-mebel ini tampak modern dan tidak memiliki kesan stasiun kereta api. Namun, bila diamati lebih teliti, sofa-sofa ini sangat berkaitan dengan fasilitas kereta api di negeri ini.

Yah, sofa-sofa ini sengaja meniru kursi kereta api kelas ekonomi di Indonesia. Fasilitas ini sengaja dihadirkan untuk membangun kenangan pengunjung kafe terhadap kereta api di Indonesia. Tidak hanya bentuknya saya yang dibuat serupa. Namun, cara orang untuk keluar dari bangku pun meniru budaya di kereta api. “Orang (yang duduk di pojok) harus meminta izin dulu sebelum keluar, persis seperti di kereta api ekonomi,” tandas Hilwan Soleh, suami pemilik kafe.

***

Selang 15 menit kemudian, palang pintu kereta api Jalan Merdeka kembali tertutup. Kali ini, serombongan gerbong kereta api melintas dari arah barat menuju timur. Seiring dengan itu, seorang pelayan kafe membunyikan lonceng kecil selama kereta api melintas. “Teng-teng-teng-teng,” bunyinya mirip suara lonceng lokomotif tua ketika tengah beraksi.

Kembali, saya merasakan getaran kereta api lewat. Kini, iramanya hampir senada dengan renyahnya sepotong Pempek hasil racikan sang koki. Pempek yang digoreng garing ini membuat lidah saya bergoyang. Rasanya ikannya yang begitu terasa, membuat perut ini menagih, lagi dan lagi.

Pempek merupakan salah satu menu “Juara” Kafe Tera Walk Station. Pengunjung bisa menikmati 5 jenis Pempek yang berbeda, yaitu: Pempek Kapal Selam, Pempek Lenggang, Pempek Telur Kecil, Pempek Lenjer, dan Pempek Adaan. Konon, Pempek ini diterbangkan langsung dari Palembang ke Bandung.

Berbicara tentang menu, Kafe Tera Walk Station mengajak saya untuk mengunjungi stasiun kereta ternama di Indonesia dan dunia melalui makanan. Salah satunya adalah Pempek yang ada di kelompok menu Kertapati Station. Stasiun ini berada di Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, “kampung halaman” Pempek. Selain Kertapati, kafe ini juga mengajak saya mengunjungi Bandung Station. Beberapa yang disajikan di stasiun ini, antara lain: de Monchy Holland Rissole dan The Rocket French Bratwurst.

Tak hanya Indonesia, Kafe Tera Walk Station juga mengajak saya mengunjungi stasiun-stasiun ternama di dunia. Sebut saja beberapa di antaranya adalah Gare du Nord Station di Paris, Perancis; Grand Central Station di New York, Amerika; Kanazawa Station di Ishikawa, Jepang; dan Milano Centrale Station di Milan, Italia. Di kelompok menu stasiun tersebut, pengunjung diberi berkesempatan mencicipi kelezatan makanan dari setiap negara.

***

Lalu lintas kereta api di Bandung semakin indah dan menarik ketika berpadu dengan malam dan hujan gerimis. Saya rasa, Kafe Tera Walk Station bersedia membantu saya menikmati ketiganya.

Tak lama setelah saya menghabiskan sepiring Pempek, Kafe Tera Walk Station menyajikan hidangan “juara” lainnya, yaitu Sup Pindang Ikan Patin. Dari aromanya, saya bisa langsung merasakan lezatnya ikan pindang dan patin yang berbalut dengan saus nanas ini. Ketika kuahnya sampai di lidah, rasa asam, pedas, dan gurihnya langsung membuat perut saya “mengaku” lapar kembali. Padahal, hidangan Pempek sebelumnya sudah membuat saya kekenyangan. Terlebih lagi, hidangan yang disajikan panas ini cocok untuk menikmati dinginnya Bandung.

Sup Pindang Ikan Patin ini sendiri berasal dari kelompok menu Tera Walk Station. Kelompok menu ini berisi hidangan-hidangan “Juara” Kafe Tera Walk Station. Beberapa di antaranya adalah Sup Pinggang Iga Sapi, Sate Maranggi ala Tera Walk, Nasi Minyak Malaysia, dan Nasi Lemak Ayam Penyet.

Barangkali, saya harus bilang berhati-hati dengan menu-menu ini. Pasalnya, ketika panganan ini tiba di lidah, pemakannya akan langsung merasakan jatuh berkali-kali di lubang cinta. Tidak hanya cinta kepada Indonesia dan Kereta Api, juga cinta pada Kafe Tera Walk Station dan menu Gerimis Malam Bandung.***

Written by Yudha P Sunandar

Monday, 2 February 2015 at 15:30

Berkebun, Modernitas, dan Jalan Transendental

leave a comment »


Foto: freegardentips.info

Foto: freegardentips.info

Berbicara tentang aktivitas berkebun di rumah, setiap orang memiliki latar belakangnya masing-masing dan berbeda-beda. Bagi saya, berkebun tidak hanya sebagai sarana menanam sayuran semata. Lebih dari itu, berkebun merupakan sarana untuk menarik diri dari kegilaan hidup di era modernitas.

Era modernitas sendiri hadir dalam berbagai bentuk, seperti konsumerisme, rasionalitas, serba praktis, dan mengukur segalanya dalam bentuk nominal. Keberadaannya di belahan bumi Asia dan Afrika mulai terasa sejak berkibarnya genderang kolonialisme oleh barat. Modernitas menyebar seiring meluasnya penjajahan oleh barat di dunia.

Karen Amstrong menyebut modernitas sebagai era keterpisahan antara kehidupan manusia dengan realitas tertinggi, Tuhan. Modernitas hadir sebagai ungkapan keunggulan kaum industriwan terhadap kalangan agamawan pada abad pencerahan.

Lebih lanjut, Amstrong mencirikan modernitas sebagai eranya efisiensi, spesialisasi, dan terkotak-kotaknya kehidupan dalam berbagai bidang keprofesionalan yang saling mengilhami dan berpengaruh. Dalam hal ini, modal merupakan sumber ekonomi yang bisa diperbaharui tanpa batas, dan kaum borjuis lahir sebagai penguasa baru.

Pada titik ini, manusia lahir dalam wajah baru. Mereka merasa sebagai penanggung jawab atas urusan-urusan mereka sendiri. Selain itu, mereka juga mendasarkan kehidupannya kepada harapan akan perkembangan dan kemajuan yang terus-menerus. Perubahan dilembagakan dan dianggap sebagai keharusan. Kajian sejarah didominasi oleh mitos tentang kemajuan.

Dalam konteks masyarakat beragama seperti di Indonesia, kondisi modern ini selanjutnya membawa manusia kepada apa yang disebut William Chittick sebagai Skizofrenia Cultural. Sederhananya, istilah ini merujuk kepada manusia yang berdiri di dua kaki, yaitu praktik keagamaan dan kehidupan berdasarkan rasionalitas. Menariknya, keduanya saling berseberangan satu sama lain.

Sebagai contohnya, kita mengamini bahwa kecepatan terjauh adalah cahaya. Namun, di sisi lain, kita juga mengimani peristiwa Isra Mi’raj Muhammad SAW yang berangkat ke langit ke tujuh dalam waktu hanya satu malam. Fenomena lainnya adalah belajar tentang hukum riba dalam agama, tetapi mempraktikan riba dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, William Chittick menggambarkan fenomena ini dalam kalimat, “Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan akibat tangan-tangan manusia. (QS. 30:41). “Kerusakan” (fasad), menurutnya didefinisikan sebagai “tidak adanya kebaikan”. Kebaikan ini berarti keutuhan, kesehatan, keseimbangan, harmoni, koherensi, ketertiban, integrasi, dan kesatuan pada level individual, sosial, dan kosmis. Nilai-nilai kebaikan ini tergerus oleh modernitas, bahkan hingga detik ini.

Kembali ke berkebun. Berkebun merupakan sarana untuk mengembalikan ritme tradisi sekaligus memulihkan diri dari kepungan modernitas. Berkebun semacam cara untuk mengadakan kembali kebaikan-kebaikan dalam kehidupan seorang individu. Lebih dari itu, berkebun merupakan terapi untuk mengembalikan fokus diri kita kepada realitas tertinggi di tengah rutinitas perkotaan kita.

Bagi saya, aktivitas berkebun membawa diri ini kepada kesadaran masyarakat pertanian. Masyarakat ini memiliki waktu senggang serta sumber daya untuk mengkreasi berbagai bentuk kebudayaan. Mereka juga bergantung (dan memiliki kesadaran) kepada berbagai variabel, seperti tanaman, hasil panen, iklim, dan erosi.

Pada gilirannya, kesadaran terhadap lingkungan dan kemampuan mengkreasi bentuk kebudayaan ini mampu membawa manusia agraris ke dalam fase terbaik manusia, yaitu manusia yang memiliki kesadaran terhadap realitas tertinggi. Tak heran, bila dalam fase ini, agama pernah mencapai puncak kegemilangannya, termasuk Islam.***

Written by Yudha P Sunandar

Friday, 9 January 2015 at 09:54

Mengurai Warisan Konflik Sunni-Syiah

with 4 comments


Foto: Blogspot.com

Saya suka tidak habis pikir, mengapa beberapa kalangan hobi sekali mengharamkan Syiah? Malah, mereka sampai punya pelatihan “Anti-Syiah” segala. Apakah dengan mengharamkan Syiah, membuat mereka yang Anti-Syiah itu otomatis jadi lebih baik dan berhak masuk surga, gitu?

Kasus ini sebenarnya berawal dari konflik politik Sunni-Syiah yang sudah berjalan selama berabad-abad lamanya. Konflik ini pernah mencapai puncaknya dan terlembagakan dalam kekaisaran Islam, pada abad 15-16. Kala itu, ada 3 kekaisaran Islam, yaitu kekaisaran Turki Ustmani di Asia Kecil dan Eropa Timur yang berbasis Sunni, Kekaisaran Shafawi di Iran dan Asia Tengah yang berbasis Syiah, dan Kekaisaran Moghul di India yang sangat menjunjung tinggi toleransi beragama.

Sepanjang abad 16, kekaisaran Turki Ustmani dan kekaisaran Shafawi membentuk kubu yang saling berlawanan satu sama lain. Syah Ismail, pendiri Dinasti Syafawi, berusaha untuk menghapuskan Sunni dan memaksakan Syiah dengan kekerasan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Sunni di kerajaan Ustmani. Mereka menindas Syiah di wilayah kekuasaan mereka. Terlebih lagi, karena berada di garis depan Perang Salib, Turki Ustmani juga mengembangkan sikap yang keras terhadap warga Kristen.

Meskipun begitu, tingkat akar rumput bertolak belakang dengan pandangan para pemimpinnya. Para ulama Syiah Iran di akar rumput lebih memilih untuk menentang penguasa dan menjadi pembela Ummah guna melawan tekanan kerajaan. Mereka mengembangkan tradisi yang melindungi hak para pedagang dan fakir miskin dari gangguan para Syah, julukan bagi pemimpin kekaisaran Syafawi. Di era modern, golongan akar rumput inilah yang kemudian menumbangkan rezim korup Syah Muhammad Reza Pahlevi di Iran pada 1979.

Sedangkan Kekaisaran Islam Moghul di India menanamkan toleransi terhadap tradisi lain di luar Islam, khususnya Hinduisme. Semangat toleransi ini ditunjukkan oleh raja kekaisaran Moghul ketiga era 1560-1605, yaitu Akbar. Dia menjadi seorang vegetarian dan meninggalkan kebiasaan berburu binatang serta melarang penyembelihan hewan kurban pada ulang tahunnya dan di tempat suci orang Hindu. Semua ini dilakukan Akbar untuk menghormati penganut Hindu. Bahkan, Akbar mendirikan Rumah Ibadah yang menjadi tempat para ahli semua agama berkumpul mendiskusikan masalah ketuhanan.

Di tingkat akar rumput, pada abad 15 juga terdapat banyak kelompok antar-iman Muslim dan Hindu di Kekaisaran Moghul, India. Sebagian di antaranya kemudian bertransformasi menjadi Sikhisme, atau yang saat ini dikenal sebagai agama Sikh, agama yang merupakan perpaduan antara ajaran Islam dan Hindu. Kekaisaran Moghul sendiri hilang akibat fanatisme destruktif penguasa dan rakyatnya selepas wafatnya Akbar.

Adapun Kekaisaran Turki Ustmani, kehilangan kekuasaannya di Eropa Timur. Hal ini buntut dari pemberontakan yang dipimpin oleh Ferdinand dan Isabella di Grenada, Spanyol. Di titik ini pula para ulama Sunni mengumumkan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, dan kaum Muslim harus tunduk (taqlid) pada permikiran para mutjahid masa lampau. Tak heran bila peradaban Islam Sunni mulai kehilangan gagasan inovatifnya pada fase ini.

Pada era modern, khususnya dalam Perang Dunia I, kekaisaran Turki Ustmani ikut serta berperang di kubu Kekaisaran Jerman. Kekalahan Jerman dan sekutunya di Perang Dunia I ini, membuat kekaisaran Turki Ustmani harus bubar serta rela dijajah negara pemenang Perang Dunia I. Meskipun begitu, “Barisan Sakit Hati” bubarnya kekaisaran Turki Ustmani ini masih mewarisi kebencian yang sama terhadap Syiah dan Kristen, yang kemudian meluas menjadi negara-negara barat. Kebencian ini tampak sekali dalam dokrin gerakan organisasi-organisasi kaderisasinya.

Saat ini, ketiga kekaisaran Islam tersebut sudah musnah. Kekaisaran Islam terakhir runtuh bersamaan dengan reformasi dan penggulingan rezim korup Reza Pahlevi awal 1980 silam. Dengan keruntuhan tersebut, seharusnya runtuh pula konflik politik antara Sunni dan Syiah. Idealnya, penganut Islam memasuki babak baru untuk lebih fokus membangun umatnya agar sesuai dengan ajaran welas asih sang Rasul.

Sayangnya, “Barisan Sakit Hati” dari runtuhnya kekaisaran Islam Turki Ustmani masih mewarisi tradisi konflik Sunni-Syiah. Organisasi turunannya pun masih meneriakkan Anti-Syiah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Hal ini jugalah yang ditunggangi oleh pihak ketiga untuk meraup keuntungan dari konflik politik masa lalu tersebut. Hasilnya, keadaan dunia yang semakin rumit dan kacau.***

Written by Yudha P Sunandar

Wednesday, 10 December 2014 at 01:56

BBM, Kenaikan Harga Pangan, dan Kebun Warga

with 4 comments


Salah seorang tetangga saya memanen Selada Hijau beberapa waktu lalu. (Foto: Yudha PS)

Salah seorang tetangga saya memanen Selada Hijau beberapa waktu lalu. (Foto: Yudha PS)

Rasanya, bukan hal aneh bila sebagian masyarakat memprotes secara besar-besaran setiap pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ajaibnya, protes ini akan hilang dalam hitungan pekan, bahkan hari. Selanjutnya, para pemrotes ini akan lupa dengan isu kenaikan harga BBM, dan kehidupan akan kembali berjalan sebagaimana mestinya. Bagi mereka yang hobi memprotes, biasanya akan memprotes isu lainnya yang seksi untuk diprotes.

Berbicara kenaikan harga BBM, banyak kalangan mengkhawatirkan kebijakan ini berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat. Salah satunya adalah naiknya harga berbagai hal, mulai dari jasa, barang, bahan makanan, dan lain sebagainya.

Logikanya, sederhana saja. Naiknya harga BBM membuat biaya transportasi naik. Karena dunia modern tidak lepas dari sektor transportasi, mengakibatkan biaya produksi dan distribusi pun ikut naik. Ujung-ujungnya, harga komoditas pun turut naik. Karena harga komoditas naik, masyarakat harus beradaptasi dengan meningkatkan daya belinya. Caranya, tentunya meminta kenaikan gaji bagi yang bekerja dan meningkatkan nilai jual jasa dan barangnya bagi wirausahawan.

Lingkaran setan ini akan terus menerus terjadi. Lucunya, tidak ada yang pernah belajar dari kejadian ini. Seperti yang saya tulis di atas, sebagian masyarakat akan memprotes pemerintah, kemudian lupa. Ketika kasus yang sama terulang kembali, mereka juga akan mengulangi perbuatannya: memprotes dan lupa. Demikian seterusnya, tanpa ada kesadaran dan usaha untuk mencari solusinya.

Bagi saya, kenaikan harga BBM seharusnya membuat kita sadar bahwa kita sudah terlalu jauh dengan alam. Coba tanya diri kita masing-masing, dari mana asal makanan yang kita makan sehari-hari. Seberapa jauh jaraknya dari tempat tinggal kita? Berapa harganya di tempat asal makanan tersebut? Berapa biaya untuk mengangkutnya dari tempat asalnya hingga sampai di rumah kita? Berapa persen kenaikan harga makanan setelah ditambah biaya transportasi dan distribusinya? Barangkali, inilah yang akhirnya membuat kita tidak bisa lepas dari beban kenaikan harga BBM.

Padahal, untuk mengatasi semua itu cukup mudah. Salah satu caranya dengan membangun Kebun Bersama Warga di sekitar lingkungan kita, misalnya di tingkat Rukun Tetangga atau Rukun Warga. Kebun ini digarap, dipelihara, dan dijaga bersama-sama oleh masyarakat sekitarnya. Hasilnya, tentu dikonsumsi bersama-sama.

Bayangkan, bila kita tidak harus lagi tercekik dengan mahalnya harga cabai atau beras. Kita cukup mengambilnya dari kebun bersama warga. Juga makanan yang kita konsumsi lebih sehat, karena kita bisa mengawasi penggunaan pestisida kimia, atau bahkan tanpa pestisida kimia sama sekali. Juga tak perlu khawatir dengan meningkatnya harga bahan makanan setiap kenaikan harga BBM, karena jaraknya yang sangat dekat dengan rumah warga.

Selain Kebun Bersama Warga, cara lainnya adalah Kebun Mikro Rumah Tangga. Dalam hal ini, setiap kepala keluarga membangun kebun mini dan menanam berbagai sayuran, bahkan tanaman pokok berkarbohidrat seperti padi dan singkong. Mereka bisa membangun kebunnya di halaman rumahnya, atau pun di pot-pot gantung di ruang terbuka di rumahnya. Pot tanamannya pun bisa menggunakan berbagai barang bekas, seperti kaleng atau pun ember bekas.

Kemudian, setiap bulannya, warga bermusyawarah untuk mengkoordinasikan setiap Kebun Mikro milik warga. Dalam musyawarah ini, masyarakat membahas tanaman yang akan ditanam masing-masing keluarga, sehingga tidak ada kelebihan atau kekurangan komoditas tanaman. Selain itu, musyawarah ini juga sebagai ajang bertukar pengalaman, kendala, dan solusi dalam berkebun.

Ketika musim panen tiba, warga kemudian saling menukar dan berbagi hasil panennya sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Andai pun hasil kebunnya tidak mampu memenuhi kebutuhan bahan makanan pokok warga, tetapi kebun ini setidaknya mampu membantu menekan biaya untuk membeli bahan makanan sehari-hari.

Berkaitan dengan konsep ini, sebenarnya Bank Indonesia wilayah Jawa Barat pernah mencoba melakukannya. Mereka membiayai dan membina masyarakat prasejahtera untuk berternak atau berkebun di sisa lahan rumahnya. Bank Indonesia sendiri mempunyai kepentingan untuk mengendalikan inflasi. Inflasi sendiri terjadi karena rendahnya suplai dan tingginya permintaan. Dalam hal ini, Bank Indonesia wilayah Jawa Barat berusaha menyeimbangkan suplai dan permintaan dengan memberdayakan masyarakat prasejahtera.

Di sisi lain, Indonesia memiliki iklim dan kondisi geografi “Surgawi”. Saya sebut “Surgawi”, karena tanaman bisa tumbuh dengan baik di Indonesia sepanjang tahun. Pasalnya, matahari bersinar sepanjang tahun dengan intensitas yang sangat cukup. Suhu udara pun konsisten di angka 18-25 derajat Celcius untuk dataran tinggi, dan 22-29 derajat Celcius untuk dataran rendah. Selain itu, tanah Indonesia juga subur dengan suplai air yang tidak henti-hentinya mengalir.

Coba bandingkan dengan negara-negara subtropis. Ketika saya ke Amerika, pada musim dingin mereka harus merestorasi taman-taman di kotanya. Pasalnya, semua tanaman mati karena diterpa suhu di bawah nol derajat. Selain itu, intensitas cahaya matahari juga tidak merata sepanjang tahun. Pada musim dingin, matahari muncul tidak lebih dari 8-10 jam, dan pada musim panas bisa bersinar hingga 18 jam lamanya. Selain itu, kondisi tanahnya juga tidak cukup subur dibandingkan Indonesia. Tak heran bila penduduk negara subtropis membutuhkan usaha lebih tinggi untuk bertani dan berkebun dibandingkan penduduk negara tropis.

Melihat dua sisi dunia yang berlainan ini, saya meyakini bahwa memiliki lahan dan menguasai pengetahuan bercocok tanam merupakan kebutuhan yang paling hakiki bagi manusia Indonesia. Kedua hal tersebut merupakan bekal untuk mampu bertahan di tengah kelangkaan pangan dan sempitnya lahan.

Selain itu, pengetahuan bercocok tanam juga membangun manusia yang bijaksana dan berbudi luhur. Pasalnya, bercocok tanam membangun mental manusia yang sabar, pekerja keras, dan tekun. Sosok manusia yang langka di zaman penuh teknologi ini.

Barangkali, kenikmatan Tuhan inilah yang kerap dilupakan oleh orang-orang Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia terkungkung modernitas. Kondisi ini, lebih lanjut membuat bangsa indonesia terperangkap dalam keterbelahan hidup, padangan materalisme, dan egoisme tak berkesudahan.***

Written by Yudha P Sunandar

Tuesday, 18 November 2014 at 01:42

Otong Wiranatakusumah: Bandung, Sang Jantung Indonesia

with one comment


Saya bersama pak Otong Wiranatakusumah usai wawancara di Museum Konperensi Asia-Afrika, Bandung.

Saya bersama pak Otong Wiranatakusumah usai wawancara di Museum Konperensi Asia-Afrika, Bandung.

Teriknya Matahari Bandung siang itu, tidak menyurutkan langkah R Otong Toyibin Wiranatakusumah ke Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA) Bandung. Padahal, agenda kedatangan beliau hanya untuk bertemu dengan Journativist Sahabat MKAA. Meskipun begitu, beliau rela menempuh perjalanan panjang dari Majalaya di Kabupaten ke pusat Kota Bandung.

Membuka perbincangan, putra mantan Bupati Bandung Wiranatakusumah V ini berseloroh tentang cuaca panas yang menerpa Bandung selama sebulan terakhir. “Bukan karena pemanasan global,” ungkapnya menyinggung alasan panasnya suhu Bandung. “(Suhu) Bandung panas karena banyak kendaraan,” lanjutnya.

Pasalnya, Bandung disesaki banyak kendaraan bermotor. Sayangnya, meningkatnya jumlah kendaraan bermotor tidak diikuti upaya menambah panjang dan lebar jalanan di Bandung. Oleh karena itu, Otong tidak heran bila Bandung kerap dilanda kemacetan di berbagai ruas jalan. Mesin yang selalu menderu dan asap buangan kendaraan inilah yang kemudian membuat kota berjuluk “Paris van Java” kerap memiliki suhu di atas 29 derajat Celcius.

Padahal, masih lekat di benak Otong tentang jalanan Bandung yang lenggang pada era 1960 silam. Saking sepinya, beliau bersama teman-temannya masih bisa bermain sepatu roda di sepanjang jalan Ir. H. Djuanda kala itu. Bandung baheula juga rindang dengan pohon dan berhawa dingin. Saking dinginnya, warga Bandung bisa merasakan kulitnya kerap berembun pada pagi hari dan menggigil kedinginan selepas mandi sore.

Keunggulan Bandung lainnya, kisah pria kelahiran 22 Nopember 1947 ini, saluran drainasenya sangat rapih dan baik. Saat itu, saluran drainase air dibagi menjadi dua, yaitu saluran air hujan dan air limbah rumah tangga. Saluran air hujan sendiri dialirkan menuju Sungai Cikapundung. Sedangkan air limbah, dialirkan ke tempat penampungan air limbah rumah tangga di sebelah selatan lapangan Tegalega. Air limbah ini dialirkan melalui saluran di belakang rumah, yang dikenal dengan istilah Brandgang. Dengan sistem ini, sistem drainase Bandung menjadi yang terbaik di Asia Tenggara pada saat itu. “Tidak heran bila cikapundung juga tetap jernih dan bersih dulu,” kisah Otong.

Sayangnya, saluran dan sistem pengolahan air limbah tersebut kini hilang tergerus zaman. Pembangunan yang tidak terkendali, menghancurkan sistem drainase Kota Bandung tersebut. Bahkan, danau penampungan air limbah kini sudah beralih fungsi menjadi pemukiman. Daerah tersebut kini diberi nama Jalan Inhoftank.

Inhoftank sendiri awalnya berasal dari istilah Imhofftank, merupakan perpaduan dari Imhoff dan Tank. Imhoff merujuk pada seorang insinyur berkebangsaan Jerman bernama Karl Imhoff (1876-1965). Beliau merupakan pelopor teknologi pengolahan limbah rumah tangga di seluruh dunia. Teknologinya ini selanjutnya disebut Imhoff Tank. Oleh lidah-lidah lokal Bandung, istilah tersebut berubah menjadi Inhoftank.

Otong sendiri sangat menyayangkan turunnya kualitas Kota Bandung saat ini. Terlebih lagi, kota ini berkembang menjadi salah satu kota terpadat di Indonesia dengan 4 juta manusia pada siang hari. Padahal, Bandung awalnya dirancang sebagai kota tinggal. Salah satu cirinya adalah banyak perempatan yang jaraknya saling berdekatan di Bandung. Ketika dipaksa menjadi kota metropolitan dengan mobilitas kendaraan yang sangat tinggi, Bandung pun menjadi kota yang penuh dengan kemacetan. Saking macetnya, Bandung juara ketiga kota termacet di Indonesia pada 2014.

Gejala tumbuhnya Bandung sebagai kota Metropolitan sudah dirasakan oleh Otong sejak 1980 silam. Kala itu, beliau bekerja di perusahaan distributor untuk sebuah merk mobil. Menariknya, perusahaannya tersebut menjual 400 unit mobil setiap bulannya. Jumlah penjualan tersebut adalah nomor 3 terbanyak di Kota Bandung.

Menurut sesepuh warga Sunda ini, bila sebuah mobil panjangnya 3 meter, Bandung harus menyediakan jalan sepanjang 1.200 meter atau 1,2 Kilometer setiap bulannya untuk menampung mobil-mobil yang dijual perusahaannya. Kenyataannya, sejak dulu hingga saat ini, lebar dan panjang jalan di Bandung tidak banyak berubah.

Otong pun memahami jika Walikota Bandung tidak mampu berbuat banyak untuk mengatasi permasalahan ini. “Bagaimana pun, walikota tidak bisa melarang warga Bandung membeli motor dan mobil setiap bulannya,” ungkapnya. Meskipun begitu, beliau berharap bahwa keadaan Bandung bisa lebih baik pada masa yang akan datang dan mampu beradaptasi dengan tuntutan sebagai kota metropolitan yang modern. Dalam hal ini, Otong menaruh harapannya pada pemimpin kota Bandung untuk merancang peta jalan pembangunan Bandung hingga 20 tahun ke depan. “Jangan membangun Bandung hanya sepotong-sepotong dengan kebijakan yang berubah-ubah,” kritik anggota Dewan Penasihat Badan Musyawarah Masyarakat Sunda ini.

Pusat Energi Nusantara

Meskipun tidak sepenting Jakarta dan Yogyakarta yang pernah menjadi ibu kota negara, tetapi nama Bandung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari Indonesia. Pasalnya, menurut Otong, Bandung merupakan pusat energi bagi Nusantara. Boleh jadi, Bandung merupakan energi yang menghidupkan Indonesia. Pandangannya ini bukan tanpa alasan. Beliau berpegang pada falsafah masyarakat Sunda.

Menurut perwakilan Dalem Bandung ini, Pulau Jawa merupakan pusat dari Indonesia. Pulau Jawa sendiri seperti manusia, yaitu memiliki anggota tubuh dari mulai ujung kepala sampai ujung kaki. Kepalanya sendiri adalah Jawa Barat, sedangkan kakinya adalah Jawa Timur. Adapun deretan pegunungan yang berjajar dari barat ke timur merupakan tulang punggungnya. “Jawa Barat sendiri disebut Sang Hyang Sirah sebagai representasi kepala, dan Jawa Timur disebut Sang Hyang Suku sebagai representasi kaki,” papar Otong.

Lebih lanjut, beliau juga memaparkan bahwa manusia sendiri memiliki 3 titik energi. Ketiga titik tersebut adalah kepala, dada, dan pusar. Pusar sendiri merupakan titik proses perwujudan kehidupan, sedangkan kepala adalah titik pelaksana yang mengelola kehidupan manusia. Adapun jantung merupakan titik pertama masuknya kehidupan. Tuhan memasukkan energi yang menghidupkan manusia melalui titik ini. Setelahnya, Tuhan kemudian membentuk tubuh manusia yang lainnya. Dalam bahasa Sunda, titik jantung disebut “Da”, dan daerah sekitar jantung disebut “Dada”.

Berkaitan dengan Pulau Jawa sebagai representasi manusia, Otong menyebutkan bahwa Bandung merupakan “Jantung” pulau terpadat di Indonesia ini. Dengan kata lain, Bandung merupakan “jantung” Indonesia. Beliau menyebutnya sebagai Pancer Buana, yaitu Sumber Energi. “Pancer Buana Indonesia itu ada di Jawa, khususnya di Jawa Barat, yaitu di Bandung, tepatnya di Alun-Alun Kota Bandung,” ungkap pendiri Angkatan Muda Siliwangi ini. “Lingkaran energi di alun-alun dan sekitarnya itu sangat kuat,” tandasnya lagi.

Oleh karena itu, Otong tidak heran bila Bung Karno memilih Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada 1955 silam. Pasalnya, Soekarno sebagai sosok pembelajar perihal spiritual, melihat Bandung memiliki energi yang berpotensi menggaungkan pesan perdamaian dan kemerdekaan ke seluruh penjuru Dunia.

Melihat begitu besarnya daya tarik Bandung ini, Otong juga menolak teori yang menyatakan bahwa Kota Bandung lahir atas perintah Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels ketika membangun Jalan Raya Pos. Menurutnya, Kota Bandung justru didirikan oleh Bupati Bandung Wiranatakusumah II, buyut Wiranatakusumah V. Kala itu, Wiranatakusumah II meninggalkan pusat pemerintahan Bandung di Dayeuhkolot karena kerap dilanda Banjir. Sebagai gantinya adalah pusat pemerintahan Bandung yang berpusat di Pendopo Bandung saat ini.

Selain pusat energi, Ketua Dewan Pengaping Yayasan Keluarga Besar Wiranatakusumah V ini juga menyebut Bandung sebagai rahim. Dalam falsafah Sunda, rahim sendiri direpresentasikan sebagai danau. Keduanya sama-sama memiliki air yang berlimpah. Adapun Bandung merupakan sisa dari danau purba akibat letusan Gunung Sunda pada 140 ribu tahun yang lalu. Sedangkan kisah Sangkuriang merupakan simbol dari lahirnya manusia dari dataran tinggi Bandung. Sangkuriang sendiri berarti “Sang Kuring”, yaitu “Sang Aku” sebagai manusia.

Kendati Danau Purba Bandung sudah surut sejak 9 ribu tahun yang lalu, tetapi sifat Bandung sebagai rahim tersebut masih berlaku hingga saat ini. Sebagaimana rahim yang merupakan tempat lahirnya manusia, Bandung juga melahirkan banyak pemimpin-pemimpin kelas dunia. Beberapa di antaranya adalah Soekarno, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, dan Mohtar Kusumah Atmajaya. “Kalau tidak ada orang-orang tersebut, Indonesia tidak akan seluas saat ini,” simpul Otong.

Para pemimpin Indonesia masa depan diyakini masih akan lahir dari Bandung. Bandung sebagai rahim dan pusat energi Indonesia masih menggelora hingga kini. Barangkali, pemimpin Indonesia selanjutnya akan kembali lahir dari Bandung. Tugas kitalah, sebagai pemuda Bandung untuk menjaga Ruh Bandung agar tetap menyala dan hidup.***

Written by Yudha P Sunandar

Thursday, 30 October 2014 at 23:18

Sains dan Teknologi dalam Kajian Ilmu Sosial

leave a comment »


Foto: Blogspot.com

Meskipun judulnya rapat Journativist Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika, tetapi obrolan di dalamnya justru tidak berkaitan dengan aktivitas kami di bidang media dan jurnalisme, tetapi malah seputar fenomena hubungan internasional saat ini. Pasalnya, sebagian peserta rapat adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional. Meskipun berbeda perguruan tinggi, tetapi obrolan mereka cukup seru dan nyambung.

Adalah Eme dan Opie. Eme adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, sedangkan Opie adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Pasundan. Mereka dengan asiknya membincangkan fenomena di bidang Hubungan Internasional. Mulai dari soal ASEAN Community, penerapan AFTA, hingga konflik di benua Afrika. Semuanya menjadi begitu seru dan menarik ketika meluncur dari lisan mereka.

Terlebih lagi, kedua mahasiswa sarjana ini aktif membuat paper terkait Hubungan Internasional dan kerap mengikuti Pertemuan Nasional Mahasiswa/i Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII). Dalam PNMHII ini, para mahasiswa Hubungan Internasional dari seluruh Indonesia ini berkompetisi beradu paper mereka, termasuk Eme dan Opie. Bahkan, Eme dan kawan-kawannya kerap menjuarai kompetisi paper Hubungan Internasional PNMHII ini. Keren kan, mereka?

Kami, peserta diskusi lainnya yang latar belakangnya bukan dari bidang Hubungan Internasional, dengan asyik mendengarkan diskusi sembari sedikit-sedikit menanggapi. Tentunya menanggapi dari sudut pandang latar belakang bidang kami masing-masing.

Melihat begitu bergairah (passionate) mereka membicangkan tentang fenomena di dunia Asia dan Afrika, saya kemudian mengajak mereka untuk bergabung ke Forum Studi Asia-Afrika (FSAA) yang akan dibentuk oleh Museum Konperensi Asia-Afrika dalam waktu beberapa bulan ke depan. Forum ini terdiri dari para akademisi yang memfokuskan diri untuk mengkaji Asia dan Afrika. Bidang kajiannya pun luas dan tidak melulu Hubungan Internasional.

Di tengah gairah diskusi ini, tiba-tiba salah seorang peserta berkomentar apatis tentang ajakan bergabung di FSAA ini. Pasalnya, dia lulusan Meteorologi ITB. “Berarti saya nggak bisa masuk FSAA, dong? Kan saya bukan anak ilmu sosial,” begitu celetuknya.

Celetukannya ini kemudian saya balas dengan celetukan juga. Saya bilang bahwa meteorologi sangat erat dengan fenomena sosial dan politik. Sebagai contohnya adalah peristiwa tumbangnya Orde Baru, yang diganti Orde Reformasi. Tidak bisa dipungkiri, salah satu faktor utama yang mendukung perubahan orde politik di Indonesia adalah fenomena meteorologi di Indonesia kala itu. Celetukan saya ini pun mengundang reaksi skeptis dari peserta diskusi. “Kok bisa?” begitu komentar paras wajah mereka.

Pasalnya, saya lanjut bercerita, pada 1997 silam, Indonesia mengalami fenomena iklim Elnino yang sangat hebat. Elnino ini menyebabkan kekeringan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Saat itu, para petani mengalami kegagalan panen bahan pokok. Akibatnya, kesediaan bahan makanan pun berkurang, bahkan mencapai titik kritis. Ujung-ujungnya, harga bahan makanan pun menjadi tinggi, dan disusul merosotnya ekonomi Indonesia dengan cukup tajam.

Ketika pemerintah tak kuasa mengatasi persoalan ekonomi ini, rakyat dan mahasiswa pun mengambil tindakan turun ke jalan. Kisah selanjutnya, tentunya sudah kita ketahui bersama, Orde Baru runtuh dan digantikan dengan Orde Reformasi.

Celetukan saya yang satu ini ditanggapi ungkapan “Wow” oleh peserta diskusi. Anehnya, saya juga merespon dengan ungkapan yang sama. Keterkejutan saya bukan tentang fakta yang saya ceritakan di atas, tetapi kesadaran saya tentang potensi FSAA yang bisa diikuti oleh akademisi dari bidang sains dan teknologi.

Selain contoh fenomena Meteorologi yang berakibat pada perubahan sosial masyarakat, seperti yang saya ceritakan di atas, fenomena sains dan teknologi lainnya juga bisa masuk. Misalnya saja tentang kemunculan perang siber (Cyber War) di era digital, atau juga hubungan antara keadaan geologi sebuah negara dengan politik luar negerinya. Dengan kata lain, semua bidang sains dan teknologi ini berpotensi besar untuk masuk dalam kajian FSAA.

Dari diskusi tersebut, saya juga semakin sadar bahwa semua ilmu pengetahuan adalah tentang manusia dan kemanusiaan. Tidak hanya ilmu-ilmu ranah sosial saja yang membahas manusia dan kemanusiaan. Namun, ilmu-ilmu di ranah sains dan teknologi juga tidak bisa lepas dari manusia dan kemanusiaan.***

Written by Yudha P Sunandar

Saturday, 11 October 2014 at 07:50

PR (Pikiran Rakyat) Baru

leave a comment »


Screenshot Pikiran Rakyat edisi 6 Oktober 2014

Screenshot Pikiran Rakyat edisi 6 Oktober 2014

Pikiran Rakyat. Nama ini memiliki makna tersendiri bagi saya. Secara tidak langsung, koran terbesar di Jawa Barat ini banyak membantu membangun kemampuan menulis dan wawasan kejurnalistikan saya.

Sejak kelas 1 SMA, saya mulai menulis di Pikiran Rakyat. Saat itu, kolom Suara Hati Pelajar (SHP) menjadi ruang saya berkreasi dan berekspresi. Bahkan, saya kerap direkomendasikan untuk mengikuti lomba menulis oleh guru-guru SMA. Tentunya, berkat kesediaan Pikiran Rakyat yang mencetak nama saya di kolom khusus untuk pelajar SMP dan SMA tersebut.

Ternyata, minat saya terhadap Pikiran Rakyat tidak sebatas menulis di kolom SHP. Semakin saya sering membaca Pikiran Rakyat, saya semakin penasaran dan ingin melihat “dapur” redaksi dari dekat. Menengok cara kerja wartawan, mengintip riuhnya Newsroom, hingga melongok cara mesin cetak bekerja. Itulah “hasrat” terpendam saya kala itu.

Untuk meredakan hasrat tersebut, seringkali saya mengantarkan sendiri tulisan saya untuk SHP langsung ke pos satpam redaksi. Berharap bisa melihat “dapur” redaksi dari dekat. Alih-alih, satpam hanya mengizinkan saya menaruh tulisan saya di mejanya. Setelah itu, satpam mempersilahkan saya balik-kanan dan bubar jalan.

Meskipun begitu, saya belum kapok juga untuk melihat Newsroom Pikiran Rakyat. Usaha lainnya pun saya lakukan. Salah satunya mencari kenalan wartawan Pikiran Rakyat yang bisa mengajak saya “main” ke redaksi. Beruntung, kala itu ada teman dari kakak saya yang bekerja sebagai wartawan di Pikiran Rakyat. Beliau satu almamater di Biologi UNPAD dengan kakak saya. Beruntung pula, saya mendapatkan nomor ponsel beliau.

Beberapa kali berkomunikasi melalui SMS, beberapa kali juga saya mengungkapkan keinginan saya untuk melihat proses penerbitan koran Pikiran Rakyat ke kawan kakak saya tersebut. Sayangnya, Tuhan belum memberikan izin untuk saya bisa main ke ruang redaksi kala itu. Hingga secara tidak sadar, saya bertekad untuk bisa berkontribusi dan bermain di kantor Redaksi Pikiran Rakyat suatu hari nanti.

Singkat cerita, saya lulus kuliah dari UNPAD. Kala itu, saya bertekad untuk aktif berorganisasi di komunitas. Tekad saya itu dilengkapi dengan sikap nekad untuk tidak bekerja. Hasilnya, saya sukses menjadi aktivis bergelar pengangguran.

Namun, inilah yang kemudian membawa saya kembali bersentuhan dengan Pikiran Rakyat. Pasalnya, saya memenuhi kebutuhan bulanan dengan cara menulis di Pikiran Rakyat. Saat itu, saya kerap menulis tentang Free and Open Source Software (FOSS) di suplemen Cakrawala.

Melalui tulisan di Pikiran Rakyat pula, saya jadi terkoneksi dengan kalangan yang lebih luas lagi. Berkenalan dengan aktivis FOSS yang lebih luas, terkoneksi dengan para dosen ITB yang kerap bersentuhan dengan FOSS, bersentuhan dengan para pengusaha di bidang FOSS, hingga akhirnya yang cukup unik adalah berkenalan dengan Wakil Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat kala itu. Dan secara tidak langsung, perkenalan tersebut malah membuat saya kemudian bergabung untuk mengembangkan Salman Media. Sebab-akibat yang membingungkan, kan? Sama, saya juga bingung. Haha.

Namun, di Salman Media ini, justru saya semakin intens membangun relasi dengan Pikiran Rakyat. Saya semakin banyak berkenalan dengan para wartawan Pikiran Rakyat. Dari mereka, saya banyak belajar tentang menulis dan fotografi. Seringkali pula saya “nongkrong” dengan beberapa wartawan yang usianya sebaya dengan saya.

Lebih memukau lagi, saya kerap menginjakkan kaki di kantor Redaksi Pikiran Rakyat. Saya sesekali bisa mengintip sibuknya para wartawan mengejar deadline. Juga, kerap mendapatkan banyak wawasan tentang media dan jurnalistik langsung dari “jantung” redaksi Pikiran Rakyat. Bahkan, saya sempat menjadi kontributor rubrik Gadget (sekarang Gawai) sekitar 6 bulan pada awal kelahirannya. Sebuah tekad dan mimpi yang terpendam, kemudian menjadi kenyataan 10 tahun kemudian.

Dan kini, Redaksi Pikiran Rakyat yang kerap saya kunjungi, sudah berubah menjadi abu. Kebakaran hebat pada Sabtu, 4 Oktober 2014 menghanguskan segala yang berada di kantor Redaksi Pikiran Rakyat. Saya pribadi tidak mampu mendefinisikan perasaan ketika melihat foto api-api merah yang tengah melahap ikon tulisan “Redaksi Pikiran Rakyat” di selasar kantor redaksi. Sebuah ikon yang selalu membuat saya bersemangat untuk melangkahkan kaki menuju redaksi ketika melihatnya dari pintu gerbang kantor.

Meskipun begitu, satu hal yang pasti, api-api itu tidak pernah mampu menghapus kenangan saya dengan Pikiran Rakyat. Juga tidak mampu meluluh lantahkan semangat para punggawanya untuk terus mengabarkan “Jurnalisme Khas Pasundan” kepada rakyat Jawa Barat. Seperti yang para wartawannya tulis di media sosialnya masing-masing, “Kami tidak mati. Pikiran Rakyat tetap terbit Senin!”

Yups, Senin, 6 Oktober 2014, Pikiran Rakyat memenuhi janjinya tersebut. Sebagai bentuk pengabdian dan dedikasi mereka untuk mewartakan berbagai peristiwa kepada rakyat Jawa Barat. Sebagai warga Bandung, saya hanya berharap, terbitnya edisi baru ini bukan hanya janji untuk tidak mati. Edisi baru ini, semoga juga menjadi tanda bahwa Pikiran Rakyat bersiap menjadi benar-benar baru. Bukan hanya semangat dan kebersamaan yang baru, tetapi juga media dan jurnalismenya pun ikut baru.***

Written by Yudha P Sunandar

Tuesday, 7 October 2014 at 07:20

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,412 other followers