…Verba Volant, Scripta Manent

Plant-e: Menanam Tumbuhan, Memanen Listrik

with one comment


Ilustrasi. (Foto: assets.inhabitat.com)

Tumbuhan yang mampu menghasilkan oksigen mungkin merupakan hal biasa. Namun, bagaimana dengan tumbuhan yang mampu menghasilkan listrik? Terdengar mustahil, tetapi hal inilah yang berhasil dibuktikan oleh Plant-e. Perusahaan yang berbasis di Belanda ini berhasil memanen listrik dari tumbuhan hidup, tanpa merusak atau membunuhnya.

Terobosan berjuluk Plant-Microbial Fuel Cell (Plant-MFC) ini memanfaatkan bakteri alami tumbuhan untuk menghasilkan listrik. Plant-e sendiri menemukan bahwa 70 persen hasil fotosintesis tidak terpakai oleh tumbuhan dan dibuang melalui akarnya. Zat buangan yang memiliki struktur kimia C6H12O6 ini, kemudian diurai oleh bakteri menjadi Karbon Dioksida (CO2), Proton (H+), dan Elektron (e-).

Memanfaatkan proses alami ini, Plant-e kemudian menaruh perangkat anoda dan katoda yang terbuat dari karbon. Keduanya dipisahkan oleh sekat, sehingga tidak tercampur satu sama lain. Anoda sendiri ditaruh di dekat bakteri. Perangkat ini kemudian menarik elektron (e-) dan merubahnya menjadi energi listrik searah yang mampu memberikan daya bagi perangkat elektronik.

Selanjutnya, listrik mengalir menuju katoda. Energi listrik kemudian digunakan oleh katoda untuk menarik proton (H+) dan menggabungkannya dengan Oksigen (O2) dari udara. Lalu, proses di katoda ini menghasilkan air (H2O). Siklus ini berlangsung terus menerus selama 24 jam sehari, dan 7 hari sepekan. Dengan kata lain, produk ini bisa menghasilkan listrik setiap saat, baik pada malam hari, maupun siang hari.

Anoda sendiri merupakan penghantar listrik yang memungkinkan elektron (e-) mengalir dari luar ke dalam sistem energi listrik. Sedangkan katoda merupakan penghantar listrik yang menjadi terminal keluarnya elektron (e-) dari sistem energi listrik. Adapun Elektron (e-) mengalir masuk melalui anoda, kemudian keluar melalui katoda. Karena anoda dan katoda Plant-MFC terbuat dari karbon, membuat produk ini aman bagi tumbuhan dan lingkungannya.

Skema terbentuknya listrik pada Plant-MFC. (Foto: plant-e.com)

Saat ini, Plant-MFC mampu menghasilkan listrik sebesar 0,4 Watt per satu meter persegi tumbuhan hidup. Jumlah ini masih lebih banyak dibandingkan listrik yang dihasilkan dari proses fermentasi biogas dengan ukuran yang sama.

Ke depannya, produk ini bisa menghasilkan 3,2 Watt per meter tumbuhan hidup. Untuk menyalakan sebuah laptop, hanya memerlukan lahan tumbuhan seluas 15 meter persegi. Bila memiliki lahan tumbuhan seluas 100 meter persegi, maka listrik yang dihasilkan mencapai 2.800 KWh setiap tahunnya. Jumlah ini mampu memenuhi kebutuhan dasar listrik rumah tangga di Belanda dan negara Eropa lainnya.

Penemu Plant-MFC sekaligus CEO Plant-e adalah Marjolein Helder. Wanita kelahiran 1983 ini berhasil mendapatkan gelar PhD berkat kerja kerasnya dalam mengembangkan produk yang mampu menghasilkan listrik dari tumbuhan hidup di Teknologi Lingkungan, Wageningen University, pada Nopember 2012 lalu.

Temuan Helder sendiri berasal dari teknologi yang dikembangkan oleh Wageningen University. Produk ini sudah dipatenkan sejak 2007 silam dan dimiliki oleh David Strik, asisten profesor di Teknologi Lingkungan Wageningen University yang juga kolega Helder. Keduanya kemudian membuat perusahaan Plant-e yang terpisah dari Wageningen University. Tujuannya, mengembangkan dan memproduksi produk yang mampu menghasilkan listrik dari tumbuhan hidup.

Mengenai tumbuhannya, Plant-MFC bisa diterapkan pada beragam jenis tumbuhan, termasuk rumput. Bahkan, di daerah yang lebih hangat, produk ini juga bisa diterapkan pada tumbuhan padi. Hal ini memberikan 2 keuntungan sekaligus bagi manusia, yaitu pangan berupa beras dan energi berupa listrik.

Guna mematangkan konsep ini, Plant-e membangun rumah percontohan di Institut Ekologi Netherlands. Listrik bangunan ini berasal dari Plant-MFC yang dipasang pada tumbuhan padi di atap dan sekitar rumah. Dalam jangka waktu 4-6 bulan, padi yang sudah panen bisa memberikan beras untuk memenuhi kebutuhan pangan penghuni rumah. Dalam durasi yang sama, tumbuhan padi juga memasok listrik.

Saat ini, Plant-MFC masih fokus untuk memberdayakan tanah becek dan basah. Bila syarat ini terpenuhi, produk ini bisa ditanam di mana pun. Di perkotaan, Plant-MFC bisa dibangun di atap gedung. Hal ini membantu untuk menyekat atap gedung, mendinginkan ruangan di bawahnya, dan menyediakan cadangan air. Bila pun ditanam di pekarangan, produk ini bisa menambah simpanan air tanah. Selain itu, produk ini juga membantu meningkatkan keanekaragaman hayati di perkotaan.

Bola dunia yang digerakkan oleh listrik dari tumbuhan. (Foto: filepicker.oneplanetcrowd.de)

Selain fungsi ekologis, Plant-e tengah melakukan eksperimen agar produk ini mampu mendukung aktivitas di perkotaan. Melalui Plant-e Modular System, produk ini digunakan untuk memasok listrik penerangan jalan, jam, stasiun cuaca kecil, dan titik Wi-Fi. Sistem berukuran 100 meter persegi ini sudah diterapkan di Christian College Zeist, Hembrug Grounds di Zaandam, serta Food Innovation Strip yang menghubungkan antara Ede dan Wageningen.

Di wilayah yang lebih hangat, Plant-MFC bisa diaplikasikan pada tumbuhan padi. Di wilayah pesisir, produk ini juga bisa digunakan pada tumbuhan yang berada di lahan basah, seperti rawa, area delta sungai, hutan bakau, dan tanah gambut. Dengan kemampuannya ini, Plant-MFC tidak hanya terbarukan (renewable) dan berkelanjutan (suistanable), tetapi juga tersedia untuk setiap orang (available for everyone). Potensi ini membuatnya bisa digunakan di daerah terpencil, sehingga berpotensi untuk membantu 1,2 miliar orang di muka bumi yang belum mendapatkan aliran listrik.

Saat ini, sembari memperbaiki teknis sistemnya, Plant-e sedang mengembangkan sistem yang mampu mengintegrasikan Plant-MFC dengan masyarakat. Agar mampu bertahan pada masa yang akan datang, sistem produk ini harus memenuhi 3 aspek: lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Mengenai aspek ekonomi, produk ini akan semakin murah pada masa yang akan datang, bahkan lebih murah daripada listrik dari tenaga fosil, panel surya, dan kincir angin. Hal ini membuat produk Plant-MFC bisa lebih cepat dimanfaatkan masyarakat.

Plant-e juga percaya bahwa produk ini mampu diintegrasikan secara sosial kepada masyarakat. Karena, selain ramah lingkungan, Plant-MFC juga tidak menghasilkan polusi horisontal seperti pada kincir angin dan panel surya, terganggunya keseimbangan alam seperti pada bendungan, serta kompetisi lahan pertanian seperti pada bahan bakar nabati.

Meskipun masih terbatas, tetapi produk Plant-e ini mulai dijual untuk publik. Melalui program “Do It Yourself” yang dikenal dengan DIY, produk Plant-e mengajak siapa pun untuk memulai era baru bercocok tanam. Era ketika bercocok tanam tidak hanya menghasilkan buah atau bunga, tetapi juga menghasilkan listrik.***

Jenis Elemen: Api

Referensi:

Written by Yudha P Sunandar

Monday, 30 March 2015 at 10:40

Alam Pun Membangun Bersama Belanda

leave a comment »


Area Zandmotor yang terbentuk di pesisir pantai Ter Heijde dan Kijkduin, Holland Selatan. (Foto: flickr.com/photos/zandmotor)

Selama hampir seribu tahun lamanya, bangsa Belanda berjibaku untuk membangun daratannya. Bencana banjir yang menewaskan lebih dari 1.800 jiwa pada 1953, memicu Negeri Kincir Angin ini untuk mengembangkan sistem tanggul paling rumit dan canggih di dunia. Tidak hanya tanggul yang kuat, tetapi juga aman dan berwawasan lingkungan.

Setidaknya, hal inilah yang terjadi di pantai Ter Heijde dan Kijkduin, Holland Selatan. Rijkswaterstaat, cabang eksekutif Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan Belanda beserta kalangan akademisi dan lembaga non-pemerintah memanfaatkan alam untuk membangun daratan pasir dan memperkuat pesisir pantainya. Metode ini mereka sebut sebagai Zand Motor, atau dikenal juga sebagai Mesin Pasir (Sand Engine).

Terobosan ini tidak lepas dari fakta bahwa sebagian daratan Belanda merupakan lautan yang dikeringkan. Di Negeri Orange ini, 26 persen daratannya berada di bawah permukaan laut. Untuk mempertahankan keutuhan wilayahnya, Belanda harus mempertahankan agar 16 ribu Kilometer tanggulnya dalam kondisi yang prima. Salah satu cara yang ditempuh adalah memperkuat pesisir pantainya. Bentangan ini mampu mempertahankan laju ombak, sehingga tanggul tetap dalam keadaan baik.

Masalahnya, laju ombak kerap menghanyutkan pasir dan mengikis pantai. Hal ini mendorong Rijkswaterstaat mengeruk pasir dari lepas pantai dan menaruhnya di sepanjang pesisir pantai setiap 5 tahun sekali. Meskipun begitu, cara ini dipandang tidak efektif dan efisien. Karena pesisir pantai tetap terkikis oleh ombak, dan kembali membahayakan tanggul. Selain itu, Belanda juga dibayangi ancaman kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global. Tantangan ini kemudian menggelitik para peneliti Belanda untuk menemukan solusi guna mempertahankan pantai dengan cara yang lebih alami dan berkelanjutan.

Solusinya sendiri muncul dari Marcel Stive, profesor Belanda dalam bidang Teknik Pesisir. Marcel bersama kolega penelitinya mengajukan strategi baru bertajuk Zand Motor. Strategi ini merujuk pada pengerukan pasir dari lepas pantai secara besar-besaran untuk menciptakan semenanjung pasir di pesisir pantai. Idenya sendiri terinspirasi dari Ronal Waterman yang memulai usaha untuk melindungi pantai secara “halus” melalui proses alami.

Proses pembuatan Zandmotor. (Foto: flickr.com/photos/zandmotor)

Konsepnya sendiri sederhana. Alih-alih memperkuat pesisir pantai setiap 5 tahun sekali, lebih baik membangun timbunan secara besar-besaran di pesisir pantai. Berbeda dengan timbunan kecil yang akan terkikis angin dan air dengan cepat, timbunan besar ini justru akan bertahan jauh lebih lama.

Durasi ini memberikan waktu bagi flora dan fauna untuk berkembang di atasnya, sehingga membentuk ekosistem yang lebih mapan. Pada gilirannya, ekosistem alami ini diharapkan mampu mempertahankan pantai dari kikisan air laut. Dengan cara kerjanya ini, Zandmotor kerap disematkan moto “Membangun dengan Alam” oleh berbagai pihak yang terlibat.

Usulan ini kemudian ditanggapi positif oleh pemerintah Belanda. Rijkswaterstaat kemudian bekerjasama dengan pemerintah provinsi Holland Selatan, perguruan tinggi, dan lembaga non-pemerintah untuk membentuk aliansi bernama EcoShape. Selanjutnya, aliansi ini yang akan membangun dan menjaga serta mengevaluasi perkembangan Zandmotor.

Proyek Zandmotor dimulai sejak Maret 2011. Tahap pertama, Belanda memindahkan 21,5 juta kubik pasir untuk membuat semenanjung berbentuk kait. Beberapa kapal penyedot pasir bekerja keras selama 8 bulan untuk membangun daratan baru seluas 128 hektar, atau setara dengan 256 lapangan sepakbola di pesisir pantai barat Belanda.

Selanjutnya, giliran alam yang membangun benteng bagi Belanda ini selama 20 tahun berikutnya. Dalam hal ini, angin, ombak, dan arus air berperan besar sekali untuk mensukseskan proyek percontohan senilai € 70 juta ini. Sebagai contoh, peran angin yang berhembus kencang di pesisir adalah menyebarkan gundukan pasir ini ke arah utara dan selatan garis pantai yang berada di sebelah barat Belanda ini.

Tahapan pembentukan Zandmotor, dari nol tahun hingga 20 tahun. (Foto: dgprhltfudt76.cloudfront.net)

Uniknya, angin tidak membentuk bentangan yang benar-benar rata. Dibantu arus air dari hujan, angin mengukir bentangan menjadi bukit-bukit pasir di seluruh kawasan Zand Motor. Peran angin lainnya adalah membawa awan hujan yang menurunkan air bersih di sepanjang pesisir pantai Ter Heijde dan Kijkduin ini.

Air-air hujan ini kemudian akan mengisi cekungan di antara bukit-bukit pasir di kawasan Zand Motor dan membentuk banyak kolam air tawar. Keberadaan kolam ini turut menahan laju erosi di kawasan Zand Motor. Pasalnya, kolam air tawar ini membuat ombak lebih mudah mengalir kembali ke laut.

Genangan air tawar bersih di bukit-bukit pasir juga mengundang berbagai fauna untuk minum dari kolam-kolam ini. Tak jarang, di kulit fauna ini juga menempel bibit vegetasi dan terjatuh di sekitar kolam. Bercampur dengan kotoran fauna, bibit-bibit vegetasi ini akan tumbuh subur di sekitar kolam bukit pasir.

Tidak hanya oleh fauna, bibit vegetasi ini juga dibawa oleh angin ke kawasan Zand Motor. Pada lingkungan yang cocok, bibit vegetasi ini kemudian akan tumbuh menjadi tanaman. Sebagian tanaman yang tumbuh di pesisir pantai ini umumnya memiliki fungsi untuk menahan erosi air laut, sehingga mampu mempertahankan keberadaan pesisir pantai.

Vegetasi laut yang mulai tumbuh di area Zandmotor. (Foto: flickr.com/photos/zandmotor)

Lebih lanjut, bersama angin, ombak juga turut membentangkan pasir di sepanjang pesisir pantai. Dalam jangka waktu 20 tahun, diharapkan proses alami ini mampu membentuk 35 hektar kawasan pantai dan perbukitan pasir yang kokoh. Syaratnya, bentangan ini memiliki ekosistem yang hidup untuk mampu menahan laju ombak, dan memperkuat peran tanggul.

Meskipun direncanakan berlangsung 2 dekade, proyek percontohan ini mulai menampakkan hasilnya menginjak 2 tahun perjalanannya. Jan Mulder, seorang ahli morfologi pesisir di Deltares, perusahaan swasta dalam manajemen pesisir di Belanda, sudah melihat deretan perbukitan kecil yang ditumbuhi vegetasi dan dihinggapi burung laut. Padahal, dulunya daerah tersebut adalah perairan terbuka.

Bersinggungan dengan isu pemanasan global, Zandmotor dipandang sebagai solusi kreatif untuk menghadapi ancaman bertambah tingginya permukaan air laut di akhir abad 21. Solusi Zand Motor tidak hanya berguna bagi Belanda semata, tetapi juga berbagai kota besar di dunia yang tengah berjuang mempertahankan garis pesisir pantainya. dari ancaman erosi. Dalam hal ini, seperti yang dituturkan Stefan Aarninkhof, manajer program EcoShape, “Zand Motor merupakan proyek rintisan besar yang mendemonstrasikan bahwa pembangunan berkelanjutan dengan alam merupakan hal yang mungkin.”***

Jenis Elemen: Tanah

Referensi:

Written by Yudha P Sunandar

Thursday, 26 March 2015 at 10:26

Nsikan Ekwere: Kini, YAAA Adalah Sebuah Tempat…

leave a comment »


Nsikan Ekwere (bertopi) ketika tengah berbincang-bincang bersama tim Journativist Sahabat MKAA.

Nsikan Ekwere (bertopi) ketika tengah berbincang-bincang bersama tim Journativist Sahabat MKAA.

Pada hari jadinya yang keempat, Sahabat Museum Konperensi Asia-Afrika mendapatkan hadiah spesial. Pasalnya, jumlah klub yang bernaung di bawahnya bertambah satu. Menariknya, klub terakhir ini menggenapi MKAA sebagai rumah bagi masyarakat Asia-Afrika.

Adalah Youth African Ambassador in Asia (YAAA), anggota terbaru Sahabat MKAA. Klub yang beranggotakan mahasiswa asal Afrika yang berkuliah di Asia ini resmi menjadi bagian dari keluarga besar MKAA sejak 14 Februari 2015.

“Sekarang, tidak hanya barang-barang tentang Afrika di MKAA,” ungkap Nsikan Ekwere, Presiden YAAA. “Kini, MKAA juga punya orang-orang Afrika,” lanjutnya, mengawali perbincangan bersama Journativist Sahabat MKAA, sehari setelah peluncuran YAAA.

YAAA sendiri merupakan wadah bagi mahasiswa Afrika di Asia. Organisasi kemahasiswaan ini berdiri usai konferensi mahasiswa Afrika pada 26 Oktober 2013 di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta. Kala itu, konferensi yang dihadiri perwakilan dari 9 negara di Afrika tersebut menyepakati untuk membentuk organisasi bagi mahasiswa Afrika yang tengah berkuliah di Asia. Kini, anggotanya tersebar di beberapa negara besar di Asia, seperti Republik Rakyat Tiongkok, Malaysia, Brunei, dan Singapura, serta Indonesia.

Welcome Home
Setahun setelah berdiri, salah satu keinginan YAAA adalah memiliki kesekretariatan sendiri. Meskipun begitu, YAAA tidak mampu membeli atau menyewa rumah. Pasalnya, semua anggotanya adalah mahasiswa Afrika yang tidak memiliki uang yang cukup untuk memiliki kesekretariatan. Terlebih lagi, YAAA didirikan oleh mahasiswa asing di Indonesia, sehingga tidak bisa memiliki legalitas untuk membuat sebuah organisasi. Pada gilirannya, hal ini justru mempersulit mereka untuk memiliki kesekretariatan di Indonesia.

Salah satu cara yang ditempuh oleh Nsikan dan kawan-kawan YAAA adalah mengajukan tempat kesekretariatan di Kedutaan Besar Afrika untuk Indonesia di Jakarta. Namun, hal ini memiliki ganjalan tersendiri bagi sebagian anggota YAAA. Pasalnya, tidak ada yang bisa menjamin keberlangsungan kesekretariatan YAAA bila Duta Besar yang bersangkutan berpindah tugas.

Cara lainnya adalah mengajukan kesekretariatan di perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki mahasiswa dari Afrika. Namun, hal ini juga kandas. Pasalnya, tidak ada perguruan tinggi yang mau memfasilitasi kesekretariatan bagi mahasiswa asing, termasuk YAAA.

Di tengah rasa putus asa ini, Nsikan merenung di kamar kosannya di bilangan Dago, Bandung. Ketika dalam keadaan setengah sadar, ada bisikan yang menyuruhnya untuk datang dan mengajukan kesekretariatan di MKAA. Mendapatkan mimpi tersebut, Nsikan langsung terbangun. Dia pun menceritakan ide ini ke beberapa temannya sesama anggota YAAA. Sayangnya, semua teman yang dihubunginya menolak ide ini. Alasannya, mereka tidak yakin pihak MKAA akan menerima usulan tersebut. Pasalnya, beberapa anggota YAAA menilai bahwa level MKAA hanya untuk pejabat tinggi dan terlalu besar untuk mereka. “Dan akhirnya ide ini pun terkubur dengan sendirinya,” kisah mahasiswa Paska Sarjana Manajemen Resiko Universitas Parahyangan ini.

Namun, secara tidak sengaja, Nsikan bertemu salah seorang staf MKAA di kampusnya. Teringat idenya tersebut, dia pun langsung mengungkapkan keinginannya untuk berkunjung dan bertemu Kepala MKAA. Tanpa diduga, keinginannya tersebut terkabul. MKAA mengundang Nsikan dan rekan-rekannya untuk berkunjung. Lebih dari itu, MKAA pun memiliki keinginan untuk membangun komitmen lebih lanjut dengan YAAA.

Ketika berkunjung ke MKAA, Nsikan mendapatkan pengalaman yang sangat mengesankan sekali. Menurutnya, staf MKAA menyambutnya dengan sangat ramah, terbuka, dan bersahabat. Salah satu yang membekas dalam ingatannya adalah ucapan selamat datang dari Kepala MKAA Thomas Siregar. Kala itu, beliau mengucapkan, “Welcome Home.”

Bagi Nsikan, sambutan tersebut membuat dirinya merasa berada di rumah. Kala itu, Thomas berpandangan bahwa Gedung Merdeka merupakan rumah bagi bangsa Asia dan Afrika. Di tempat tersebut, berbagai bangsa kulit berwarna lahir dan mencapai cita-citanya sebagai negara merdeka.

Dalam kunjungan tersebut, Nsikan menyampaikan harapan YAAA untuk memiliki kesekretariatan di MKAA. Selain itu, dia juga mengusulkan untuk membuat Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika. Tak dinyana, semua cita-cita tersebut terwujud. Setelah menjadi klub termuda di Sahabat MKAA, YAAA pun tengah menggarap Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika pada April 2015 mendatang. “Kini, YAAA tidak hanya nama, tetapi juga sebuah tempat,” ungkap pria yang mengidolakan Nelson Mandela ini.

Di hari-hari pertamanya bergabung di Sahabat MKAA, Nsikan dan kawan-kawan YAAA tengah menggarap program untuk membangun wawasan publik Indonesia tentang Afrika. Pasalnya, banyak orang Indonesia yang masih memandang Afrika sebagai sebuah negara, bukan benua.

Selain itu, Mahasiswa Indonesia juga masih jarang mengkaji tentang Afrika. Padahal, ada banyak pengetahuan yang bisa digali tentang Afrika dan negara-negara di dalamnya.

Pemimpin Masa Depan Dunia
Nsikan sendiri menaruh harapan besar terhadap YAAA untuk membangun Afrika pada masa yang akan datang. Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, pengagum Soekarno ini mendorong agar mahasiswa Afrika yang berkuliah di Asia tidak hanya pulang membawa ijazah semata. “Mereka juga harus membawa nilai-nilai positif dan inspiratif dari Asia ke negara asalnya,” tandasnya.

Oleh karena itu, Nsikan mendorong anggota YAAA untuk selalu membangun dan berbagi idenya selama menjadi mahasiswa. Selain itu, dia juga berusaha untuk membangun kekuatan dan relasi mahasiswa Afrika yang berkuliah di Asia. Bagaimana pun, mereka tidak hanya akan memimpin Afrika pada masa yang akan datang, tetapi juga memimpin dunia.

Alih-alih, Nsikan memilih untuk menggunakan istilah “pemimpin dunia” bagi mahasiswa Afrika. Pasalnya, selama merantau, mereka memiliki akses untuk membangun hubungan dengan mahasiswa dari berbagai belahan dunia lainnya. Selanjutnya, para mahasiswa ini akan menjadi pemimpin di negaranya masing-masing pada masa yang akan datang. Pada gilirannya, hubungan global ini akan membangun masyarakat dunia.

Ditanya resepnya membangun pemimpin masa depan, Nsikan meyakini bahwa para mahasiswa harus membangun kontribusinya dalam berbagai isu di dunia pada hari ini. Pada gilirannya, hal ini yang akan membangun kemampuan dan kesadaran kepemimpinan para pemuda.

Nsikan sendiri menganalogikan pemimpin masa depan dengan orang tua yang memiliki anak. Seringkali, orang tua merencanakan masa depan anaknya tanpa melibatkan sang anak. Sebagai contohnya adalah orang tua yang ingin anaknya menjadi dokter. Barangkali, seorang anak bisa lulus sebagai dokter dari perguruan tinggi ternama.

“Namun, mereka menjadi dokter untuk memuaskan orang tua mereka, bukan atas kesadarannya sendiri,” ungkap Nsikan. Hal ini bisa berdampak cukup besar kepada kehidupan anak tersebut. Karena tidak dilandasi kesadaran untuk memilih cita-citanya, dokter tersebut bisa saja melakukan mal praktik atau membunuh orang.

Hal ini berbeda dengan orang tua yang melibatkan anaknya untuk membangun masa depan buah hatinya. Orang tua tersebut akan merencanakan masa depan anak sesuai dengan cita-cita sang buah hati. Kemudian, anak tersebut bisa melanjutkan rencana orang tuanya tersebut dan menggapai cita-citanya sendiri.

Demikian juga dalam membangun pemimpin masa depan. Nsikan mengharapkan pemimpin saat ini turut melibatkan generasi mudanya untuk membangun negara. “Tidak akan ada pembangunan yang berkelanjutan dan berkembang pada masa yang akan datang bila pemimpin yang lebih tua tidak mempersiapkan pemudanya,” simpul Nsikan.***

Written by Yudha P Sunandar

Sunday, 8 March 2015 at 16:08

Racikan Gerimis, Malam, dan Bandung a la Kafe Tera Walk Station

leave a comment »


Foto: cdninstagram.com

Pintu perlintasan Kereta Api di Jalan Merdeka Bandung tiba-tiba saja berbunyi, tanda palang perlintasan segera tertutup. Tak sampai satu menit, sebuah kereta api melintas dari timur ke barat. Serta merta juga, getaran akibat lewatnya “Ular Besi” itu tiba di telapak kaki saya. Sambil menikmati irama getarannya hingga ke sekujur tubuh, secangkir kopi perlahan-lahan saya minum. Sembari menunggu hidangan selanjutnya tiba di meja saya.

Barangkali, itulah salah satu hiburan yang disuguhkan oleh Kafe Tera Walk Station, di Hotel Panghegar Bandung. Jaraknya dengan rel kereta api sendiri sangat dekat, hanya terhalang jalan kecil selebar 3 mobil pribadi berjuluk Jalan Tera. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan pengelola hotel dengan membuat kafe berkonsep stasiun kereta api abad 19. “Bila orang lain menilai rel kereta api sebagai gangguan, kami justru membuatnya jadi hiburan,” ungkap Euis Rosita, pemilik kafe.

Kafe Tera Walk Station sendiri berada di sisi utara Hotel Panghegar Bandung. Kesan tema stasiun kereta api kuno sudah terasa ketika saya melangkahkan kaki di pintu masuk kafe. Berbagai aksesoris khas stasiun kereta api seperti lonceng dan mebel berbentuk loket, langsung menyambut pendatangnya. Di dinding atasnya terdapat lukisan kereta api tua, lengkap dengan lokomotif berbahan bakar batu bara. Tak lupa, foto-foto lokomotif tua juga berjejer apik di dinding berwarna putih di bawahnya.

Untuk memperkuat kesan tema stasiun tua, Kafe Tera Walk Station juga menempatkan beberapa set mebel kursi dan meja tamu tua dari era nenek-kakek saya. Mebel-mebel ini umumnya berbahan kayu jati yang dipadukan dengan rotan. Kesan ini semakin kuat dengan keberadaan pemutar piringan hitam khas tahun 1950-an di tengahnya.

Di bagian lainnya, tampak beberapa rak dan bufet berbahan kayu jati. Di setiap rak berjejer rapih guci, patung, buku, serta toples makanan bergaya tahun 1940-an. Kesan ini semakin kuat dengan keberadaan beberapa aksesoris sezaman, seperti mesin jahit, radio, dan gilingan kopi. Tak lupa juga lampu dan kipas angin bernada serupa, turut membawa saya hanyut ke masa lalu.

Di sisi lain, berjejer sofa-sofa empuk berwarna merah menyala. Setiap sofa bisa memuat 3 orang. Sekilas, mebel-mebel ini tampak modern dan tidak memiliki kesan stasiun kereta api. Namun, bila diamati lebih teliti, sofa-sofa ini sangat berkaitan dengan fasilitas kereta api di negeri ini.

Yah, sofa-sofa ini sengaja meniru kursi kereta api kelas ekonomi di Indonesia. Fasilitas ini sengaja dihadirkan untuk membangun kenangan pengunjung kafe terhadap kereta api di Indonesia. Tidak hanya bentuknya saya yang dibuat serupa. Namun, cara orang untuk keluar dari bangku pun meniru budaya di kereta api. “Orang (yang duduk di pojok) harus meminta izin dulu sebelum keluar, persis seperti di kereta api ekonomi,” tandas Hilwan Soleh, suami pemilik kafe.

***

Selang 15 menit kemudian, palang pintu kereta api Jalan Merdeka kembali tertutup. Kali ini, serombongan gerbong kereta api melintas dari arah barat menuju timur. Seiring dengan itu, seorang pelayan kafe membunyikan lonceng kecil selama kereta api melintas. “Teng-teng-teng-teng,” bunyinya mirip suara lonceng lokomotif tua ketika tengah beraksi.

Kembali, saya merasakan getaran kereta api lewat. Kini, iramanya hampir senada dengan renyahnya sepotong Pempek hasil racikan sang koki. Pempek yang digoreng garing ini membuat lidah saya bergoyang. Rasanya ikannya yang begitu terasa, membuat perut ini menagih, lagi dan lagi.

Pempek merupakan salah satu menu “Juara” Kafe Tera Walk Station. Pengunjung bisa menikmati 5 jenis Pempek yang berbeda, yaitu: Pempek Kapal Selam, Pempek Lenggang, Pempek Telur Kecil, Pempek Lenjer, dan Pempek Adaan. Konon, Pempek ini diterbangkan langsung dari Palembang ke Bandung.

Berbicara tentang menu, Kafe Tera Walk Station mengajak saya untuk mengunjungi stasiun kereta ternama di Indonesia dan dunia melalui makanan. Salah satunya adalah Pempek yang ada di kelompok menu Kertapati Station. Stasiun ini berada di Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, “kampung halaman” Pempek. Selain Kertapati, kafe ini juga mengajak saya mengunjungi Bandung Station. Beberapa yang disajikan di stasiun ini, antara lain: de Monchy Holland Rissole dan The Rocket French Bratwurst.

Tak hanya Indonesia, Kafe Tera Walk Station juga mengajak saya mengunjungi stasiun-stasiun ternama di dunia. Sebut saja beberapa di antaranya adalah Gare du Nord Station di Paris, Perancis; Grand Central Station di New York, Amerika; Kanazawa Station di Ishikawa, Jepang; dan Milano Centrale Station di Milan, Italia. Di kelompok menu stasiun tersebut, pengunjung diberi berkesempatan mencicipi kelezatan makanan dari setiap negara.

***

Lalu lintas kereta api di Bandung semakin indah dan menarik ketika berpadu dengan malam dan hujan gerimis. Saya rasa, Kafe Tera Walk Station bersedia membantu saya menikmati ketiganya.

Tak lama setelah saya menghabiskan sepiring Pempek, Kafe Tera Walk Station menyajikan hidangan “juara” lainnya, yaitu Sup Pindang Ikan Patin. Dari aromanya, saya bisa langsung merasakan lezatnya ikan pindang dan patin yang berbalut dengan saus nanas ini. Ketika kuahnya sampai di lidah, rasa asam, pedas, dan gurihnya langsung membuat perut saya “mengaku” lapar kembali. Padahal, hidangan Pempek sebelumnya sudah membuat saya kekenyangan. Terlebih lagi, hidangan yang disajikan panas ini cocok untuk menikmati dinginnya Bandung.

Sup Pindang Ikan Patin ini sendiri berasal dari kelompok menu Tera Walk Station. Kelompok menu ini berisi hidangan-hidangan “Juara” Kafe Tera Walk Station. Beberapa di antaranya adalah Sup Pinggang Iga Sapi, Sate Maranggi ala Tera Walk, Nasi Minyak Malaysia, dan Nasi Lemak Ayam Penyet.

Barangkali, saya harus bilang berhati-hati dengan menu-menu ini. Pasalnya, ketika panganan ini tiba di lidah, pemakannya akan langsung merasakan jatuh berkali-kali di lubang cinta. Tidak hanya cinta kepada Indonesia dan Kereta Api, juga cinta pada Kafe Tera Walk Station dan menu Gerimis Malam Bandung.***

Written by Yudha P Sunandar

Monday, 2 February 2015 at 15:30

Berkebun, Modernitas, dan Jalan Transendental

leave a comment »


Foto: freegardentips.info

Foto: freegardentips.info

Berbicara tentang aktivitas berkebun di rumah, setiap orang memiliki latar belakangnya masing-masing dan berbeda-beda. Bagi saya, berkebun tidak hanya sebagai sarana menanam sayuran semata. Lebih dari itu, berkebun merupakan sarana untuk menarik diri dari kegilaan hidup di era modernitas.

Era modernitas sendiri hadir dalam berbagai bentuk, seperti konsumerisme, rasionalitas, serba praktis, dan mengukur segalanya dalam bentuk nominal. Keberadaannya di belahan bumi Asia dan Afrika mulai terasa sejak berkibarnya genderang kolonialisme oleh barat. Modernitas menyebar seiring meluasnya penjajahan oleh barat di dunia.

Karen Amstrong menyebut modernitas sebagai era keterpisahan antara kehidupan manusia dengan realitas tertinggi, Tuhan. Modernitas hadir sebagai ungkapan keunggulan kaum industriwan terhadap kalangan agamawan pada abad pencerahan.

Lebih lanjut, Amstrong mencirikan modernitas sebagai eranya efisiensi, spesialisasi, dan terkotak-kotaknya kehidupan dalam berbagai bidang keprofesionalan yang saling mengilhami dan berpengaruh. Dalam hal ini, modal merupakan sumber ekonomi yang bisa diperbaharui tanpa batas, dan kaum borjuis lahir sebagai penguasa baru.

Pada titik ini, manusia lahir dalam wajah baru. Mereka merasa sebagai penanggung jawab atas urusan-urusan mereka sendiri. Selain itu, mereka juga mendasarkan kehidupannya kepada harapan akan perkembangan dan kemajuan yang terus-menerus. Perubahan dilembagakan dan dianggap sebagai keharusan. Kajian sejarah didominasi oleh mitos tentang kemajuan.

Dalam konteks masyarakat beragama seperti di Indonesia, kondisi modern ini selanjutnya membawa manusia kepada apa yang disebut William Chittick sebagai Skizofrenia Cultural. Sederhananya, istilah ini merujuk kepada manusia yang berdiri di dua kaki, yaitu praktik keagamaan dan kehidupan berdasarkan rasionalitas. Menariknya, keduanya saling berseberangan satu sama lain.

Sebagai contohnya, kita mengamini bahwa kecepatan terjauh adalah cahaya. Namun, di sisi lain, kita juga mengimani peristiwa Isra Mi’raj Muhammad SAW yang berangkat ke langit ke tujuh dalam waktu hanya satu malam. Fenomena lainnya adalah belajar tentang hukum riba dalam agama, tetapi mempraktikan riba dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, William Chittick menggambarkan fenomena ini dalam kalimat, “Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan akibat tangan-tangan manusia. (QS. 30:41). “Kerusakan” (fasad), menurutnya didefinisikan sebagai “tidak adanya kebaikan”. Kebaikan ini berarti keutuhan, kesehatan, keseimbangan, harmoni, koherensi, ketertiban, integrasi, dan kesatuan pada level individual, sosial, dan kosmis. Nilai-nilai kebaikan ini tergerus oleh modernitas, bahkan hingga detik ini.

Kembali ke berkebun. Berkebun merupakan sarana untuk mengembalikan ritme tradisi sekaligus memulihkan diri dari kepungan modernitas. Berkebun semacam cara untuk mengadakan kembali kebaikan-kebaikan dalam kehidupan seorang individu. Lebih dari itu, berkebun merupakan terapi untuk mengembalikan fokus diri kita kepada realitas tertinggi di tengah rutinitas perkotaan kita.

Bagi saya, aktivitas berkebun membawa diri ini kepada kesadaran masyarakat pertanian. Masyarakat ini memiliki waktu senggang serta sumber daya untuk mengkreasi berbagai bentuk kebudayaan. Mereka juga bergantung (dan memiliki kesadaran) kepada berbagai variabel, seperti tanaman, hasil panen, iklim, dan erosi.

Pada gilirannya, kesadaran terhadap lingkungan dan kemampuan mengkreasi bentuk kebudayaan ini mampu membawa manusia agraris ke dalam fase terbaik manusia, yaitu manusia yang memiliki kesadaran terhadap realitas tertinggi. Tak heran, bila dalam fase ini, agama pernah mencapai puncak kegemilangannya, termasuk Islam.***

Written by Yudha P Sunandar

Friday, 9 January 2015 at 09:54

Mengurai Warisan Konflik Sunni-Syiah

with 6 comments


Foto: Blogspot.com

Saya suka tidak habis pikir, mengapa beberapa kalangan hobi sekali mengharamkan Syiah? Malah, mereka sampai punya pelatihan “Anti-Syiah” segala. Apakah dengan mengharamkan Syiah, membuat mereka yang Anti-Syiah itu otomatis jadi lebih baik dan berhak masuk surga, gitu?

Kasus ini sebenarnya berawal dari konflik politik Sunni-Syiah yang sudah berjalan selama berabad-abad lamanya. Konflik ini pernah mencapai puncaknya dan terlembagakan dalam kekaisaran Islam, pada abad 15-16. Kala itu, ada 3 kekaisaran Islam, yaitu kekaisaran Turki Ustmani di Asia Kecil dan Eropa Timur yang berbasis Sunni, Kekaisaran Shafawi di Iran dan Asia Tengah yang berbasis Syiah, dan Kekaisaran Moghul di India yang sangat menjunjung tinggi toleransi beragama.

Sepanjang abad 16, kekaisaran Turki Ustmani dan kekaisaran Shafawi membentuk kubu yang saling berlawanan satu sama lain. Syah Ismail, pendiri Dinasti Syafawi, berusaha untuk menghapuskan Sunni dan memaksakan Syiah dengan kekerasan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Sunni di kerajaan Ustmani. Mereka menindas Syiah di wilayah kekuasaan mereka. Terlebih lagi, karena berada di garis depan Perang Salib, Turki Ustmani juga mengembangkan sikap yang keras terhadap warga Kristen.

Meskipun begitu, tingkat akar rumput bertolak belakang dengan pandangan para pemimpinnya. Para ulama Syiah Iran di akar rumput lebih memilih untuk menentang penguasa dan menjadi pembela Ummah guna melawan tekanan kerajaan. Mereka mengembangkan tradisi yang melindungi hak para pedagang dan fakir miskin dari gangguan para Syah, julukan bagi pemimpin kekaisaran Syafawi. Di era modern, golongan akar rumput inilah yang kemudian menumbangkan rezim korup Syah Muhammad Reza Pahlevi di Iran pada 1979.

Sedangkan Kekaisaran Islam Moghul di India menanamkan toleransi terhadap tradisi lain di luar Islam, khususnya Hinduisme. Semangat toleransi ini ditunjukkan oleh raja kekaisaran Moghul ketiga era 1560-1605, yaitu Akbar. Dia menjadi seorang vegetarian dan meninggalkan kebiasaan berburu binatang serta melarang penyembelihan hewan kurban pada ulang tahunnya dan di tempat suci orang Hindu. Semua ini dilakukan Akbar untuk menghormati penganut Hindu. Bahkan, Akbar mendirikan Rumah Ibadah yang menjadi tempat para ahli semua agama berkumpul mendiskusikan masalah ketuhanan.

Di tingkat akar rumput, pada abad 15 juga terdapat banyak kelompok antar-iman Muslim dan Hindu di Kekaisaran Moghul, India. Sebagian di antaranya kemudian bertransformasi menjadi Sikhisme, atau yang saat ini dikenal sebagai agama Sikh, agama yang merupakan perpaduan antara ajaran Islam dan Hindu. Kekaisaran Moghul sendiri hilang akibat fanatisme destruktif penguasa dan rakyatnya selepas wafatnya Akbar.

Adapun Kekaisaran Turki Ustmani, kehilangan kekuasaannya di Eropa Timur. Hal ini buntut dari pemberontakan yang dipimpin oleh Ferdinand dan Isabella di Grenada, Spanyol. Di titik ini pula para ulama Sunni mengumumkan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, dan kaum Muslim harus tunduk (taqlid) pada permikiran para mutjahid masa lampau. Tak heran bila peradaban Islam Sunni mulai kehilangan gagasan inovatifnya pada fase ini.

Pada era modern, khususnya dalam Perang Dunia I, kekaisaran Turki Ustmani ikut serta berperang di kubu Kekaisaran Jerman. Kekalahan Jerman dan sekutunya di Perang Dunia I ini, membuat kekaisaran Turki Ustmani harus bubar serta rela dijajah negara pemenang Perang Dunia I. Meskipun begitu, “Barisan Sakit Hati” bubarnya kekaisaran Turki Ustmani ini masih mewarisi kebencian yang sama terhadap Syiah dan Kristen, yang kemudian meluas menjadi negara-negara barat. Kebencian ini tampak sekali dalam dokrin gerakan organisasi-organisasi kaderisasinya.

Saat ini, ketiga kekaisaran Islam tersebut sudah musnah. Kekaisaran Islam terakhir runtuh bersamaan dengan reformasi dan penggulingan rezim korup Reza Pahlevi awal 1980 silam. Dengan keruntuhan tersebut, seharusnya runtuh pula konflik politik antara Sunni dan Syiah. Idealnya, penganut Islam memasuki babak baru untuk lebih fokus membangun umatnya agar sesuai dengan ajaran welas asih sang Rasul.

Sayangnya, “Barisan Sakit Hati” dari runtuhnya kekaisaran Islam Turki Ustmani masih mewarisi tradisi konflik Sunni-Syiah. Organisasi turunannya pun masih meneriakkan Anti-Syiah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Hal ini jugalah yang ditunggangi oleh pihak ketiga untuk meraup keuntungan dari konflik politik masa lalu tersebut. Hasilnya, keadaan dunia yang semakin rumit dan kacau.***

Written by Yudha P Sunandar

Wednesday, 10 December 2014 at 01:56

BBM, Kenaikan Harga Pangan, dan Kebun Warga

with 4 comments


Salah seorang tetangga saya memanen Selada Hijau beberapa waktu lalu. (Foto: Yudha PS)

Salah seorang tetangga saya memanen Selada Hijau beberapa waktu lalu. (Foto: Yudha PS)

Rasanya, bukan hal aneh bila sebagian masyarakat memprotes secara besar-besaran setiap pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ajaibnya, protes ini akan hilang dalam hitungan pekan, bahkan hari. Selanjutnya, para pemrotes ini akan lupa dengan isu kenaikan harga BBM, dan kehidupan akan kembali berjalan sebagaimana mestinya. Bagi mereka yang hobi memprotes, biasanya akan memprotes isu lainnya yang seksi untuk diprotes.

Berbicara kenaikan harga BBM, banyak kalangan mengkhawatirkan kebijakan ini berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat. Salah satunya adalah naiknya harga berbagai hal, mulai dari jasa, barang, bahan makanan, dan lain sebagainya.

Logikanya, sederhana saja. Naiknya harga BBM membuat biaya transportasi naik. Karena dunia modern tidak lepas dari sektor transportasi, mengakibatkan biaya produksi dan distribusi pun ikut naik. Ujung-ujungnya, harga komoditas pun turut naik. Karena harga komoditas naik, masyarakat harus beradaptasi dengan meningkatkan daya belinya. Caranya, tentunya meminta kenaikan gaji bagi yang bekerja dan meningkatkan nilai jual jasa dan barangnya bagi wirausahawan.

Lingkaran setan ini akan terus menerus terjadi. Lucunya, tidak ada yang pernah belajar dari kejadian ini. Seperti yang saya tulis di atas, sebagian masyarakat akan memprotes pemerintah, kemudian lupa. Ketika kasus yang sama terulang kembali, mereka juga akan mengulangi perbuatannya: memprotes dan lupa. Demikian seterusnya, tanpa ada kesadaran dan usaha untuk mencari solusinya.

Bagi saya, kenaikan harga BBM seharusnya membuat kita sadar bahwa kita sudah terlalu jauh dengan alam. Coba tanya diri kita masing-masing, dari mana asal makanan yang kita makan sehari-hari. Seberapa jauh jaraknya dari tempat tinggal kita? Berapa harganya di tempat asal makanan tersebut? Berapa biaya untuk mengangkutnya dari tempat asalnya hingga sampai di rumah kita? Berapa persen kenaikan harga makanan setelah ditambah biaya transportasi dan distribusinya? Barangkali, inilah yang akhirnya membuat kita tidak bisa lepas dari beban kenaikan harga BBM.

Padahal, untuk mengatasi semua itu cukup mudah. Salah satu caranya dengan membangun Kebun Bersama Warga di sekitar lingkungan kita, misalnya di tingkat Rukun Tetangga atau Rukun Warga. Kebun ini digarap, dipelihara, dan dijaga bersama-sama oleh masyarakat sekitarnya. Hasilnya, tentu dikonsumsi bersama-sama.

Bayangkan, bila kita tidak harus lagi tercekik dengan mahalnya harga cabai atau beras. Kita cukup mengambilnya dari kebun bersama warga. Juga makanan yang kita konsumsi lebih sehat, karena kita bisa mengawasi penggunaan pestisida kimia, atau bahkan tanpa pestisida kimia sama sekali. Juga tak perlu khawatir dengan meningkatnya harga bahan makanan setiap kenaikan harga BBM, karena jaraknya yang sangat dekat dengan rumah warga.

Selain Kebun Bersama Warga, cara lainnya adalah Kebun Mikro Rumah Tangga. Dalam hal ini, setiap kepala keluarga membangun kebun mini dan menanam berbagai sayuran, bahkan tanaman pokok berkarbohidrat seperti padi dan singkong. Mereka bisa membangun kebunnya di halaman rumahnya, atau pun di pot-pot gantung di ruang terbuka di rumahnya. Pot tanamannya pun bisa menggunakan berbagai barang bekas, seperti kaleng atau pun ember bekas.

Kemudian, setiap bulannya, warga bermusyawarah untuk mengkoordinasikan setiap Kebun Mikro milik warga. Dalam musyawarah ini, masyarakat membahas tanaman yang akan ditanam masing-masing keluarga, sehingga tidak ada kelebihan atau kekurangan komoditas tanaman. Selain itu, musyawarah ini juga sebagai ajang bertukar pengalaman, kendala, dan solusi dalam berkebun.

Ketika musim panen tiba, warga kemudian saling menukar dan berbagi hasil panennya sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Andai pun hasil kebunnya tidak mampu memenuhi kebutuhan bahan makanan pokok warga, tetapi kebun ini setidaknya mampu membantu menekan biaya untuk membeli bahan makanan sehari-hari.

Berkaitan dengan konsep ini, sebenarnya Bank Indonesia wilayah Jawa Barat pernah mencoba melakukannya. Mereka membiayai dan membina masyarakat prasejahtera untuk berternak atau berkebun di sisa lahan rumahnya. Bank Indonesia sendiri mempunyai kepentingan untuk mengendalikan inflasi. Inflasi sendiri terjadi karena rendahnya suplai dan tingginya permintaan. Dalam hal ini, Bank Indonesia wilayah Jawa Barat berusaha menyeimbangkan suplai dan permintaan dengan memberdayakan masyarakat prasejahtera.

Di sisi lain, Indonesia memiliki iklim dan kondisi geografi “Surgawi”. Saya sebut “Surgawi”, karena tanaman bisa tumbuh dengan baik di Indonesia sepanjang tahun. Pasalnya, matahari bersinar sepanjang tahun dengan intensitas yang sangat cukup. Suhu udara pun konsisten di angka 18-25 derajat Celcius untuk dataran tinggi, dan 22-29 derajat Celcius untuk dataran rendah. Selain itu, tanah Indonesia juga subur dengan suplai air yang tidak henti-hentinya mengalir.

Coba bandingkan dengan negara-negara subtropis. Ketika saya ke Amerika, pada musim dingin mereka harus merestorasi taman-taman di kotanya. Pasalnya, semua tanaman mati karena diterpa suhu di bawah nol derajat. Selain itu, intensitas cahaya matahari juga tidak merata sepanjang tahun. Pada musim dingin, matahari muncul tidak lebih dari 8-10 jam, dan pada musim panas bisa bersinar hingga 18 jam lamanya. Selain itu, kondisi tanahnya juga tidak cukup subur dibandingkan Indonesia. Tak heran bila penduduk negara subtropis membutuhkan usaha lebih tinggi untuk bertani dan berkebun dibandingkan penduduk negara tropis.

Melihat dua sisi dunia yang berlainan ini, saya meyakini bahwa memiliki lahan dan menguasai pengetahuan bercocok tanam merupakan kebutuhan yang paling hakiki bagi manusia Indonesia. Kedua hal tersebut merupakan bekal untuk mampu bertahan di tengah kelangkaan pangan dan sempitnya lahan.

Selain itu, pengetahuan bercocok tanam juga membangun manusia yang bijaksana dan berbudi luhur. Pasalnya, bercocok tanam membangun mental manusia yang sabar, pekerja keras, dan tekun. Sosok manusia yang langka di zaman penuh teknologi ini.

Barangkali, kenikmatan Tuhan inilah yang kerap dilupakan oleh orang-orang Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia terkungkung modernitas. Kondisi ini, lebih lanjut membuat bangsa indonesia terperangkap dalam keterbelahan hidup, padangan materalisme, dan egoisme tak berkesudahan.***

Written by Yudha P Sunandar

Tuesday, 18 November 2014 at 01:42

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,448 other followers