Perginya Sang Empu Angklung Jawa Barat


Handiman Diratmasasmita ketika tengah menyetel Angklung pada 2015 silam. (Foto: Anissa “Flo” Trisdianty”)

Masyarakat Angklung di Jawa Barat berduka. Untuk kesekian kalinya, mereka kehilangan lagi sosok empu Angklung tatar Pasundan. Kali ini, mereka harus melepas kepergian Handiman Diratmasasmita (79 tahun) pada Rabu, 26 September 2018 lalu. Pendiri Bale Angklung Bandung ini merupakan murid langsung Daeng Soetigna, Bapak Angklung Indonesia.

Persentuhan Handiman dan Daeng terjadi ketika keduanya berada di Sekolah Guru Atas (SGA) Satu Bandung. Kala itu, Handiman yang masih duduk di bangku sekolah, kerap mendampingi kelompok musik Angklung Pa Daeng untuk tampil di acara-acara besar, termasuk pembukaan PON V pada 1961. Kesempatan tersebut membuat Handiman bisa belajar Angklung langsung dari Daeng, yang ketika itu masih aktif sebagai guru sekaligus PNS di lingkungan pendidikan di Jawa barat.

Setelah lulus dari SGA, Handiman mulai menapaki karirnya sebagai guru. Beliau mulai mengajar di SGA 2 Bandung pada 1962. Sama seperti gurunya Daeng Soetigna, ayah enam orang anak ini pun aktif mengajar angklung. Karena kecintaan dan dedikasinya terhadap alat musik tradisional masyarat Sunda tersebut, Handiman sampai diundang ke Negeri Persia untuk mengajar angklung di lingkungan kerajaan Iran.

Di tengah kesibukannya sebagai guru, pria kelahiran Garut bulan Juli 1939 ini menyempatkan waktunya untuk membuat angklung. Aktivitas paruh waktu yang digelutinya sejak 1972 ini, dikerjakan di rumahnya di bilangan Jalan Surapati, Bandung. Setelah pensiun sebagai guru pada 2001 silam, barulah mantan Kepala SMP BPI 2 Bandung ini mendedikasikan seluruh waktunya untuk membuat angklung. Sama seperti 30 tahun sebelumnya, aktivitas membuat angklung dilakukan di rumahnya. Bedanya, Handiman dibantu oleh beberapa pegawai untuk menyelesaikan pesanan angklung-angklungnya kini.

Tak perlu waktu lama, angklung Handiman mendapatkan tempat yang istimewa di kalangan penggiat dan penikmat angklung, baik di Bandung, Indonesia, bahkan Mancanegara. Pesanan angklungnya bahkan sudah tiba di Negeri Paman Sam. Satu yang mereka suka dari angklung buatan Handiman: kualitasnya. Selain bahannya kuat, nadanya pun presisi. Tak heran bila sebagian kalangan menilai angklung buah karya beliau adalah yang terbaik di Bandung, bahkan mungkin di Indonesia.

Barangkali, penilaian ini ada benarnya juga. Pasalnya, Handiman selalu mengusahakan yang terbaik untuk membuat angklung. Prinsip yang dipegangnya, bahwa antara badan angklung dan resonannya harus “berjodoh”. Untuk itulah, secara hati-hati dan telaten, beliau selalu memilih bambu-bambu terbaik, sehingga bisa sesuai dengan nada yang diharapkan.

Dalam membuat Angklung, Handiman selalu memegang prinsip Wiraga, Wirama, dan Wirasa. Wiraga sendiri berarti angklung memiliki keseragaman fisik dan terbebas dari cacat. Sedangkan Wirama adalah kesesuaian dan keseragaman suara, nada, dan irama angklung. Adapun Wirasa merujuk pada pemain angklung yang mampu memainkan angklung dengan emosi lagu yang dibawakan.

Meskipun terbilang mudah, tetapi banyak produsen angklung yang mengabaikan prinsip-prinsip ini. Namun, Handiman tidak putus asa. Beliau terus mendorong pengrajin angklung agar membuat angklung yang berkualitas baik. Guna memperkuat usahanya ini, Handiman mendirikan Bale Angklung Bandung pada 2008.

Sesuai namanya, “Bale” yang merujuk kepada tempat berkumpulnya masyarakat, Handiman berharap lembaganya ini mampu menjadi tempat berkumpulnya generasi-generasi muda Indonesia yang ingin belajar dan menjaga angklung. Harapan ini semakin menguat tatkala beliau mendapatkan penghargaan dari negara tetangga atas dedikasinya melestarikan angklung. Bahkan, negara tetangga juga mengundang Handiman untuk tinggal dan mengajar angklung di sana. “Saya tidak mau (tinggal di negara tetangga), karena saya cinta Indonesia,” ungkap Handiman, ketika saya bertemu pertama kali dengan beliau tiga tahun yang lalu.

Naasnya, Indonesia sebagai empunya angklung, belum serius menjaga dan melestarikan angklung. Salah satu contohnya adalah minimnya kepedulian untuk melestarikan kawasan perkebunan bambu di wilayah selatan Jawa. Kini, perkebunan bambu berkualitas tersebut mulai beralih fungsi menjadi kebun pohon keras, seperti Jati Kebon dan Albasiah. Akibatnya, banyak pengrajin semakin kesulitan membuat angklung berkualitas.

Dua tahun menjelang wafatnya, Handiman mulai sakit. Beberapa kali beliau keluar-masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang cukup intensif. Meskipun demikian, anggota pembina Saung Angklung Udjo ini pantang menyerah untuk melestarikan angklung di Jawa Barat.

Salah satunya, beliau masih berusaha menghadiri berbagai undangan pertunjukkan dan perlombaan Angklung yang digagas berbagai komunitas Angklung di Jawa Barat. Di dalam ajang tersebut, beliau menyebarkan inspirasi Angklung Pa Daeng ke generasi muda. Harapannya, lebih banyak generasi muda Indonesia yang mau belajar cara membuat angklung secara serius. “Padahal, banyak mahasiswa asing dari Eropa dan Amerika yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk belajar angklung dari bapak (Handiman),” ungkap Anne Ratna Komala, putri Handiman. “Bahkan, negara tetangga saja mengirimkan sampai 30 orang warganya untuk belajar angklung,” lanjutnya.

Cara lainnya untuk melestarikan Angklung beliau tempuh dengan membangun pusat pengolahan bambu untuk angklung di Jawa Barat bagian selatan. Bersama ITB, di tempat ini beliau memastikan proses pengawetan bambu berjalan dengan baik dan sesuai dengan standar Daeng Soetigna.

Handiman juga semakin gencar untuk melestarikan dan memperkenalkan pengetahuan angklung ke masyarakat yang lebih luas. Salah satunya melalui pendekatan ilmu pengetahuan di tiga fakultas di Institut Teknologi Bandung, yaitu: Fakultas Teknologi Industri (FTI), Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), dan Sekolah Farmasi (SF). Setiap semester genap dalam lima tahun terakhir, Handiman mengajarkan cara membuat angklung kepada lebih dari 700 mahasiswa ITB. Selanjutnya, para mahasiswa ini diajak untuk meninjau angklung dari latar belakang keilmuannya masing-masing. Cara ini ini diharapkan bisa membangun repository pengetahuan Angklung secara ilmiah.

Cara lainnya, Handiman tengah membuat buku cara membuat angklung dengan paparan yang lebih komprehensif. Dalam prosesnya, beberapa relawan penggiat angklung di Bandung membantu Handiman untuk menyusun buku ini. Bahkan, sebulan sebelum wafat, beliau masih berusaha menyisihkan tenaga untuk menceritakan pengetahuannya terkait angklung. Padahal, kondisinya saat itu, beliau sudah terbaring lemah di rumah akibat rentetan pengobatan yang harus ditempuhnya.

Kini, Handiman sudah menyusul Daeng Soetigna. Di akhir-akhir hidupnya, beliau berusaha untuk mewariskan angklung ke generasi muda Indonesia. Tugas kitalah yang harus meneruskan warisan budaya ini ke generasi selanjutnya. Tidak hanya mewariskan permainan Angklung dan cara membuatnya. Lebih dari itu, juga mewariskan kearifan angklung sebagai budaya dan identitas bangsa.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.